
Pagi itu Sandriza sudah dijemput Handoko untuk audisi. Handoko merekomendasikan nama Sandriza supaya masuk dalam deretan tokoh-tokoh yang akan memerankan film garapan dari sutradara Roy, sahabat nya itu. Setelah usai audisi Handoko berbincang- bincang dengan Roy yang sudah dianggapnya sebagai sahabat dekatnya itu. Di ruangan kerja di studio itu keduanya berbincang akrab.
" Wanita itu siapa kamu, bro?" tanya Roy menyelidiki. Handoko tersenyum dan memainkan satu matanya dengan Roy.
" Teman!" jawab Handoko. Roy tetap tidak puas akan jawaban dari Handoko.
" Teman tapi mesra atau gimana ini?" cecar Roy supaya Handoko bisa jujur dan bercerita dengan Roy.
" Masih teman!" sahut Handoko lagi. Roy memberikan minuman beralkohol itu kepada Handoko. Handoko menolak nya. Namun kembali Roy memaksanya.
" Ayo dikit saja! Sudah lama kamu tidak minum dengan aku bukan?" paksa Roy. Handoko akhirnya meneguk minuman beralkohol di gelas kecil itu. Roy menuangkan botol wine itu ke gelas kosong milik Handoko.
" Sudah cukup! Jangan kamu tambah lagi dong! Aku nanti masih nyetir mobil dan mengantar Sandriza pndahan ke apartemen ku. Supaya nanti lebih dekat kalau harus ke studio ini." kata Handoko beralasan.
Roy malah tersenyum.
" Minum saja! Supaya kamu akan lebih agresif menghadapi wanita seksi itu." sindir Roy. Handoko terkekeh.
" Aku belum pernah menyentuh nya. Hubungan kami belum sedekat itu." kata Handoko. Roy malah menggoda nya. Roy malah memasukkan sedikit serbuk ke dalam minuman Handoko ketika Handoko keluar memanggil Sandriza yang masih di luar ruangan.
Roy tersenyum nakal. Roy merasa jika sahabatnya uty selalu lurus- lurus saja ketika menghadapi seorang wanita. Kehidupan dan pandangannya selalu kuat untuk tidak bergaya hidup bebas apa ke barat- baratan. Jadi ketika pendatang baru yang hendak mencari jalan pintas supaya bisa cepat diorbitkan selalu gagal jika mendatangi Handoko. Handoko tidak pernah menyukai cara kotor seperti itu, yang menjual tubuhnya demi ketenaran atau untuk menjadi seorang artis yang langsung dan mendadak di kenal.
" Sekali- kali kamu lepas perjaka kamu dengan wanita itu. Lagi pula aku yakin kamu menyukai wanita itu bukan?" gumam Roy sambil terkekeh.
" Aku ingin lihat! Bagaimana cara kamu jika kamu sudah diujung seperti ini. Apakah kamu masih bisa melawan hasrat dan keinginan itu?" kekeh Roy dengan senyum nakalnya.
Handoko masuk bersama Sandriza. Kini Handoko mengenalkan Roy.
" Dia punya bakat akting yang luar biasa, Han! Aku menyukai nya. Aku pastikan Sandriza akan masuk dan lolos dalam memerankan film ini." kata Roy sambil melihat ke arah Sandriza. Sandriza merasa tersanjung.
" Mohon bimbingan nya om! Saya masih baru jika berhadapan dengan kamera." sahut Sandriza. Handoko tertawa terpingkal ketika mendengar Sandriza memanggil Roy dengan panggilan Om. Roy mengerutkan dahinya.
" Kamu jangan khawatir, Sandriza! Om Roy ini sutradara yang telaten dan sabar ketika menggarap sebuah film." sahut Handoko kembali menegaskan dengan sebutan 'Om' itu untuk Roy. Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Tentu saja, Sandriza yang cantik dan manis! Kakek Roy ini akan membantu kamu dan satu lagi akan melindungi kamu dari gangguan mata- mata laki-laki yang liar dan hidung belang." kata Roy makin jengkel sekalian menyebutnya dengan sebutan kakek. Handoko terkekeh. Sandriza menahan tawanya.
" Maaf! Seharusnya saya memanggil dia siapa, mas?" bisik Sandriza kepada Handoko. Handoko kembali tertawa.
" Tidak ada yang salah! Kamu sudah benar memanggil nya dengan Om. Namun lebih benar lagi kalau memanggil nya dengan sebutan Kakek, seperti yang dibilang Roy tadi." ujar Handoko. Roy nyengir kuda lalu memberikan gelas yang sudah dia bubuhi obat perangsang itu untuk Handoko.
" Terserah kalian saja! Yang penting kalian bahagia, aku ikut senang. Nah, ini minumlah! Ini untuk merayakan Sandriza sebentar lagi akan menjadi artis yang terkenal karena kemampuannya berakting yang luar bisa ditambah memiliki aura bintang yang bersinar." kata Roy sambil menyerahkan gelas itu untuk Handoko. Handoko tidak bisa menolak nya. Roy dan Handoko kini menegak minuman beralkohol itu. Sandriza hanya menatap keduanya saling bergantian.
" Cukup, Roy! Aku harus antar Sandriza kembali pulang dan pindahan ke apartemenku." kata Handoko lalu mulai berdiri. Sandriza mengikuti Handoko yang mengajaknya keluar meninggalkan studio itu.
" Lusa, aku tunggu di tempat yang biasa yah, Han!" ajak Roy.
" Baiklah! Ajaklah GADIS! Aku juga akan mengajak Sandriza." kata Handoko.
" Sandriza! Salim dengan om Roy! Ayo aku antar kamu pulang dan ambil barang- barang kamu di rumah." kata Handoko sambil terkekeh. Sandriza bersalaman dengan Roy.
" Hati-hati di jalan, Han! Mendingan kalian langsung ke apartemen saja, dekat dari sini kan? Barang- barang milik wanita mu biar kamu suruh anak buah kamu yang mengambilnya. Kan beres kan?" ide Roy. Roy sebenarnya sedikit mengkhawatirkan keadaan Roy yang sudah minum dua gelas kecil minuman beralkohol ditambah sedikit serbuk yang ia masukan ke minuman Handoko tanpa sepengetahuan Handoko.
__ADS_1
" Bagaimana Sandriza? Barang- barang kamu biar besok saja kita mengambilnya atau aku bisa menyuruh anggota aku untuk membereskan nya." kata Handoko. Sandriza mengangkatnya bahunya saja.
" Terserah! Mana baiknya saja." sahut Sandriza.
" Sudah, jangan dibikin ribet!" ujar Roy. Handoko menggandeng tangan Sandriza keluar dari ruangan itu.
Keduanya sudah berada di parkiran, dimana mobil Handoko ada di sana. Handoko mulai merasakan kepalanya sedikit pening dan suhu badannya mulai bergejolak memanas. Handoko mulai memijat pelipis nya.
" Kamu kenapa, mas?" tanya Sandriza mulai panik.
" Seperti nya aku mulai mabok. Aku sudah lama tidak minum. Oh iya, apakah kamu bisa nyetir mobil?" tanya Handoko. Sandriza mengernyit kan dahinya.
" Aku? Aku bisa tetapi aku masih takut dan belum mahir." sahut Sandriza.
" Aduh!" keluh Handoko sambil merogoh ponselnya lalu memberikan nya kepada Sandriza.
" Tolong kamu hubungi Roy, supaya ke tempat parkiran. Biar dia yang mengantar kita ke apartemenku aku." kata Handoko lalu mulai masuk ke dalam mobilnya dan mulai menahan segala gejolak yang mulai menyiksanya. Handoko mulai menggigit dengan kasar tangannya sendiri.
" Sial! Roy pasti telah mengerjai aku." pikir Handoko. Sandriza sudah menghubungi seseorang yang dimaksudkan oleh Handoko. Roy dengan cepat menuju ke parkiran sesuatu perintah dari Handoko melalui Sandriza.
" Ada apa Han?" tanya Roy yang pura- pura tidak tahu. Handoko rasanya ingin memukul saja mulut Roy itu.
" Sandriza! Masuklah! Biar Roy akan mengantar kita ke apartemenku. Roy, cepat lah antar kami!" ujar Handoko sudah dengan suara bergetar.
" Baik- baik!" sahut Roy sambil masuk ke mobil Handoko lalu mulai menjalankan mobil itu setelah Sandriza duduk di dekat Handoko di kursi belakang. Handoko mulai meringis dan keringat nya mulai bercucuran. Sandriza menjadi mengkhianati keadaan Roy yang mulai menggigit tangannya sendiri hingga luka.
" Mas, apa yang kamu lakukan? Jangan menyakiti diri kamu sendiri, mas!" ucap Sandriza panik. Roy malah merasa bersalah dengan kejadian ini. Handoko seperti nya selalu ingin sadar dan dalam kendali.
" Roy! Kalau terjadi apa- apa dengan Sandriza dan itu karena berawal dari kejahilan kamu. Aku akan membuat kamu tidak bisa berjalan karena aku akan memberikan dosis yang lebih tinggi dari pada yang kamu berikan di dalam minuman ku tadi. Dan GADIS akan merasakan ini juga." ancam Handoko. Roy malah memainkan bola matanya. Sandriza belum paham akan percakapan diantara keduanya.
" Mas, ini bagaimana? Jangan kamu gigit terus tangan kamu. Ini sudah berdarah." kata Sandriza mulai panik.
" Tapi ini sudah sampai di apartemen kamu. Sudahlah tidak usah ke dokter. Aku yakin, Sandriza bisa mengatasi ini semua." kata Roy dengan jahilnya. Handoko turun dibantu oleh Roy.
" Bang sat! Aku tidak suka candaan kamu seperti ini, bro! Dia gadis baik- baik!" bisik Handoko ketika dipapah oleh Roy menuju apartemen nya. Sandriza mengikuti keduanya.
" Justru dia gadis yang baik, kamu harus yang pertama kali melakukan nya. Jangan sampai dia jatuh ke tangan laki-laki lain. Mengerti kah kamu, bro? Apalagi dunia artis nantinya akan membuat pandangan nya akan berubah dalam soal kebebasan nanti." kata Roy. Handoko dia masih menahan gejolak yang mengganggu nya.
" Cepatlah sedikit! Aku akan secepatnya mandi dan berendam di bathub yang dingin. Aku tidak mau merusak wanita itu." kata Handoko. Roy semakin merasa bersalah.
" Aku buatkan teh panas yah! Dimana dapur nya?" ujar Sandriza setelah Roy berhasil membuka apartemen milik Handoko setelah Handoko memberikan kartu untuk membuka apartemen nya.
" Sebelah kiri. Itu ada dapur. Anggap saja milik sendiri yah!" sahut Roy dengan senyuman nya.
" Sudah, Handoko! Aku langsung balik yah! Aku bawa mobil kamu dulu. Besok pagi aku menyuruh anak buah aku untuk mengantarkan ke sini yah!" kata Roy.
" Tunggu! Bantu aku ke kamar mandi!" ucap Handoko dengan suara melemah.
" Apa? Jangan bilang kamu akan memakai aku, yah." goda Roy. Handoko memukul keras lengan Roy. Roy meringis kesakitan. Roy mulai memapah Handoko menuju kamar mandi. Handoko mulai membuka semuanya dan langsung masuk ke bathub kamar mandi yang terhubung dengan kamar utama apartemen itu. Roy tertawa cekikikan melihat sahabatnya dia kerjain.
Handoko memejamkan matanya dan mulai mengguyur semua badannya dan juga kepalanya.
__ADS_1
" Tidak enak yah, Han? Apakah kamu akan menyalurkan nya dengan sabun?" goda Roy. Handoko masih fokus menyiram seluruh tubuh nya.
" Cukup! Keluar dari sini? Tolong pesan kan makanan dan juz yang menyegarkan. Aku tidak mau wanita itu kelaparan di sini." kata Handoko. Roy tersenyum melihat tubuh seksi milik Handoko. Tubuh yang atletis dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer nya. Namun lekukan tubuhnya bikin terpesona jika mata melihat nya.
" Aku saja terpesona dengan body kamu, apalagi wanita ketika melihat kamu seperti ini." kata Roy masih ingin menggoda.
" Roy! Cepat lah pergi! Aku ingin rileks sementara waktu. Kamu bercanda nya kelewatan. Setelah seperti ini apakah obat yang kamu masukan ke dalam minuman aku tadi, sudah tidak bekerja lagi?" kata Handoko. Roy terkekeh.
" Kalau ini tidak berhasil, bukankah ada wanita itu?" kembali Roy menjahili Handoko.Handoko menarik nafas panjang.
" Baiklah aku pergi dulu, Han! Akan aku pesan kan makanan dan minuman kesukaan kamu. Satu jam lagi akan di antar ke mari yah." ujar Roy. Handoko masih berendam di bathub kamar mandi itu. Matanya masih terpejam.
Suhu tubuh Handoko sudah mulai normal. Gejolak hasrat nya sudah tidak separah tadi.
" Benar-benar menyiksa sekali jika semua nya tidak di salurkan. Aduh pedih juga tanganku yang aku gigit sendiri tadi." gumam Handoko.
Suara ketukan pintu kamar itu. Sandriza masuk tanpa ada sahutan dari Handoko. Handoko mulai tertidur di dalam rendaman air dingin di bathub itu.
" Mas! Eh dia tertidur di bak mandi itu." gumam Sandriza yang saat ini membawakan teh panas untuk Handoko. Sandriza mendekati Handoko yang memejamkan matanya. Tangannya yang luka karena gigitan Handoko sendiri mulai diraih oleh Sandriza. Sandriza mulai membersihkan nya dan mengelapnya.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu, mas? Kamu bikin khawatir saja." kata Sandriza pelan.
Sandriza mulai membangun kan Handoko pelan- pelan. Namun Handoko masih terlelap di dalam bak mandi itu.
" Kok bisa sih, tidur sampai nyenyak sekali di dalam bak dengan air dingin seperti ini?" kata Sandriza lagi. Kini Sandriza malah mengelap wajah Handoko yang basah.
" Apakah tidak apa- apa jika berendam seperti ini? Apakah tidak masuk angin?" pikir Sandriza. Kembali Sandriza mencoba membangunkan Handoko di bak itu.
" Mas, bangun! Nanti masuk angin loh mas!" kata Sandriza pelan. Sandriza mulai menatap wajah Handoko dengan puas.
" Dia benar-benar ganteng banget! Berbeda dengan Isa. Dia lebih sempurna." pikir Sandriza namun matanya melihat wajah Handoko seperti menelanjangi nya. Pelan- pelan Handoko membuka matanya. Handoko sangat terkejut dengan Sandriza yang ada di dekat nya.
" Astaga! Bikin kaget saja!" sahut Handoko. Sandriza meringis saja.
" Sudah belum mandinya? Aku sudah buatkan kamu teh panas. Aku bikinkan mie goreng karena di lemari hanya ada mie instan dan telor saja." kata Sandriza. Handoko menatap Sandriza yang manis dan ayu itu. Wajahnya begitu putih bersih. Baru ini juga Handoko melihat wajah itu dari dekat. Sangat dekat. Handoko kembali bergejolak. Rasanya ingin mencicipi bibir mungil itu. Apakah rasanya manis?
Handoko mulai meraih dagu milik wanita yang di dekat nya itu. Sandriza diam dan pasrah dengan perlakuan manis Handoko itu. Handoko mulai meraup bibir Sandriza. Sandriza memejamkan matanya. Sandriza tidak menolak ciuman itu. Handoko tersenyum.
" Dia memejamkan matanya? Dia tidak menolak ciuman ini? Apakah dia juga menyukai aku?" batin Handoko yang kini semakin liar melakukan ciuman itu.
" Sandriza! Aku menyukai kamu!" ucap Handoko dengan suara bergetar. Kini Handoko meraih tubuh Sandriza hingga bajunya ikut basah masuk ke bathub dengan dirinya.
" Mas!" Sandriza mengeluh dan menyambut ciuman yang penuh gairah dan hasrat itu.
" Jadilah kekasih aku, Sandriza! Aku menyayangimu." ucap Handoko kembali dan kali ini Handoko mulai mencium leher jenjang Sandriza. Sandriza benar-benar tidak kuasa dengan keadaan itu. Bajunya yang basah kini menempel dengan badan telanjang milik Handoko. Tangan sandriza mengusap dada bidang milik Handoko. Ciuman panjang dan penuh gelora itu terjadi. Hingga suara ketukan dari pintu utama terdengar sangat keras. Sandriza terperanjat. Demikian juga dengan Handoko.
"Itu pesanan untuk kita sudah tiba. Tadi aku menyuruh Roy untuk memesankan makanan dan minuman untuk kita." ucap Handoko. Sandriza masih terlihat malu malu setelah ciuman itu. Handoko mencium kening Sandriza.
" Kamu ganti baju dulu. Ada banyak kaos dan celana milik aku." kata Handoko lalu menarik tangan Sandriza untuk keluar dari bathub itu. Handoko memberikan handuk untuk Sandriza supaya mengeringkan badannya.
" Aku akan membukakan pintu kamar depan dulu. Kasihan kurir pembawa pesanan makanan dan minuman untuk kita, sudah menunggu lama." kata Handoko sambil mengelap tubuhnya dengan handuknya. Sandriza mengangguk pelan.
__ADS_1
"Apakah aku mulai menyukai Mas Handoko? Kenapa aku enggan menolak ciumannya? Ini sungguh manis sekali." gumam Sandriza sambil tersenyum sendiri.