
" Nanti saja kalau kamu benar-benar sudah sendiri. Kamu bisa datang kembali kepadaku." kata Melinda.
" Melinda!" ucap Koko seperti memohon. Namun Melinda menarik tangan nya dan keluar dari apartemen milik Koko.
" Kenapa rasanya sesakit ini, ketika Melinda memilih menjauh dulu dari aku?" gumam Koko sambil menarik rambutnya sendiri.
" Apakah aku benar-benar jatuh cinta dengan Melinda?" pikir Koko.
*******
Di tempat lain.
Sepulang dari kerja, Sandriza langsung menuju tempat latihan teaternya. Sandriza sudah sangat kangen tidak berjumpa dengan kawan- kawan satu hobi itu. Di sana Sandriza senang berada di komunitas itu, dimana di sana satu pemilihan dan pandangan dalam bidang seni akting dan sastra. Namun karena kesibukan nya yang sudah mulai padat di kantornya, Sandriza sudah mulai jarang menulis cerita dalam karya- karya-karya yang berbentuk novel. Sandriza, dikenal mudah bergaul diantara teman- teman teaternya. Rencananya akhir tahun ini akan mengadakan pentas pertunjukan gabungan dengan junior. Sandriza termasuk salah satu senior walaupun keaktifannya di dunia teaternya sudah mulai kurang aktif dibandingkan saat awal pertama terjun di dunia teater itu.
Saat ini Sandriza sudah duduk bergabung dengan kawan- kawan teaternya baik senior maupun junior sedang dikumpulkan oleh ketua yang saat ini menjadi penanggungjawab pelaksanaan kegiatan teater tersebut di sanggar.
Pembicaraan mengenai rencana pertunjukan dan siapa saja nanti yang akan memerankannya. Tentu saja nanti oleh beberapa senior menilai satu persatu anggota sanggar teater itu. Mungkin sedikit subyektif dalam menentukan karakter tokoh itu. Namun pada akhirnya kesepakatan akhirnya dibuat undian. Jadi tidak ada batasan senior dan yunior dalam hal ini yang membedakan nanti adalah nama- nama laki-laki dan perempuan yang dipisahkan untuk pembagian peran tersebut.
__ADS_1
Cerita yang akan diangkat adalah seorang pelakor. Hal itu menjadi ramai pembicaraan dan pembahasan nya di lingkaran rapat anggota sanggar teater itu.
Akhirnya acara itu selesai tetapi penentuan dan pengambilan undian akan dilakukan lusa, malam minggu. Tentunya akan dibuat dulu oleh penanggung jawab dan ketua yang sudah menentukan cerita dan tokoh-tokoh yang akan dimainkan dalam pementasan teater nanti.
Sandriza mulai permisi pulang karena dari kantor nya langsung ke tempat sanggar itu.
" Sandriza!" panggil si ketua sanggar yang bernama Isa.
" Eh, iya bang! Ada apa bang?" tanya Sandriza sambil menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Loh! Arah tempat tinggal aku dan mas Isa kan berlawanan loh!" kata Sandriza.
" Tidak apa- apa. Lagi pula kamu lama tidak datang latihan di sanggar dan tidak banyak komentar di grup teater." kata Isa.
" Baiklah! Untung saja tidak ada yang menjemput aku." sahut Sandriza dan Isa menjadi tersenyum.
Isa memberikan helm kepada Sandriza. Isa sudah mulai menghidupkan kendaraan ninja nya.
__ADS_1
" Kamu gak nyaman yah, naik motor seperti ini?" tuduh Isa.
" Iya, kalau bonceng motor seperti ini seolah memaksa aku untuk memeluk kamu, mas Isa." sahut Sandriza sambil terkekeh.
" Ya sudah, kamu pegangan bahu aku saja. Gimana?" kata Isa sambil memainkan matanya.
" Ya sudahlah!" kata Sandriza pasrah.
" Aku jalan pelan- pelan sambil ngobrol gak papa yah?" kata Isa sambil menjalankan motornya yang suaranya ribut itu.
Sepanjang perjalanan mereka saling bertanya dan menjawab dengan teriak- teriak tentunya. Sebenarnya ini tidak efektif bukan. Namun inilah yang terjadi diantara mereka.
" Kita mampir makan bentar yuk!" ajak Isa sambil menghentikan dan menepikan motornya ke warung mie ayam dan bakso.
" Loh! Wah ini namanya kamu menculik aku, mas Isa. Kalau begini caranya aku jadi lama tidak sampai rumah dong!" kata Sandriza yang pada akhirnya menurut saja ajakan Isa.
*******
__ADS_1