PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
RENCANA MENIKAH


__ADS_3

Aku kangen kamu, sayang! Memangnya aku tidak boleh menjumpai kamu di apartemen ini?" sahut Handoko dengan cemberut bibirnya. Sandriza dengan cepat menarik hidung Handoko yang mancung.


" Cepat sekali merajuknya." sahut Sandriza. Handoko masih menunjukkan manjanya.


*******


Handoko memeluk pinggang Sandriza ketika berada di dalam kamar milik Sandriza. Sandriza mulai merasakan merinding tatkala Handoko mulai mengecup leher jenjang milik Sandriza. Sandriza membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan dan kedua mata mereka saling pandang. Jantung Sandriza berdetak kencang demikian juga dengan Handoko. Nafas Handoko mulai menghangat menerpa wajah Sandriza. Handoko tersenyum manis menatap Sandriza yang mulai tegang.


" Ayo kita ke luar dari sini. Aku takut, kamu semakin nakal kepada ku." ajak Sandriza. Namun Handoko malah semakin kuat memeluk tubuh ramping Sandriza.


" Menikah lah dengan aku, Sandriza sayang! Aku sudah tidak bisa menahan diriku ketika dekat bersama dengan kamu." ucap Handoko dengan irama jantung yang sudah tidak teratur.


" Kapan?" tanya Sandriza.


" Secepatnya kita urus dan masukan berkas nya ke kantor Urusan agama." sahut Handoko.


" Secepatnya?" sahut Sandriza.


" Benar! Kamu mau kan, menikah dengan aku dan menjadi istri dan ibu dari anak-anak aku?" ucap Handoko. Sandriza mengangguk pelan lalu tersenyum. Handoko memeluk Sandriza lebih erat.


" I love you, Sandriza!" kata Handoko.

__ADS_1


" I love you to!" sahut Sandriza. Sandriza berusaha melepaskan pelukan Handoko. Handoko malah semakin erat memeluk Sandriza.


" Mas Han!" sebut Sandriza.


" Aku masih kangen kamu!" kata Handoko lirih.


" Kangen? Ayolah mas Han! Kenapa dengan kamu? Baru sebentar kamu pergi ke kantor dan meninggalkan aku di lokasi syuting, kamu sudah bilang kangen?" sahut Sandriza. Handoko terkekeh.


" Ayo kita keluar dan makan!" ajak Sandriza. Handoko akhirnya mengikuti ajakan Sandriza.


" Bagaimana dengan syuting hari ini?" tanya Handoko.


" Benarkah? Jadi, besok kamu punya banyak waktu dong!" ucap Handoko.


" Besok? Besok hari libur. Namun lusa ada pemotretan untuk pengambilan gambar untuk membuat poster dan promosi." kata Sandriza. Handoko tersenyum lega.


" Setelah ini kita fokus dengan pernikahan kita. Dan aku ingin bulan madu dengan suasana yang tenang." kata Handoko sambil tersenyum.


" Bulan madu?" sahut Sandriza seketika merah wajahnya.


" Benar! Aku ingin secepatnya memiliki anak dari buah cinta kita." ucap Handoko. Sandriza kini terlihat berpikir.

__ADS_1


" Bagaimana dengan karier yang baru aku mulai ini, mas Han? Kamu yang mengarahkan aku menjadi aktris lalu kamu juga yang menghentikan jalan ini." kata Sandriza seperti kecewa.


" Tapi aku ingin setelah kita menikah, kamu tidak perlu capek- capek syuting lagi, sayang? Aku bisa mencukupi semua kebutuhan kamu. Kamu cukup di rumah menunggu kedatangan aku pulang setelah seharian bekerja di kantor dan menjadi ibu rumah tangga saja." kata Handoko. Sandriza mulai cemberut.


" Apakah aku sudah tidak boleh bernegosiasi, mas?" sahut Sandriza. Handoko mengerutkan keningnya.


" Baiklah! Boleh menjadi aktris tapi setelah ini kamu harus selektif memilih peran atau tokoh, ya sayang? Maksudnya kamu tidak boleh memerankan adegan-adegan yang ada ciuman atau adegan berpelukan dengan aktor-aktor di film maupun sinetron nanti. Oke?" kata Handoko. Sandriza mengangguk cepat.


" Terimakasih, mas!" sahut Sandriza.


" Kamu harus tahu, sayang! Sebenarnya aku sangat cemburu jika kamu beradegan romantis dengan aktor di film itu. Apalagi jika ada adegan berciuman. Walaupun kalian melakukan nya tidak benar- benar Berciuman. Namun kalian sangat dekat dan itu membuatku seperti kebakaran jenggot." kata Handoko. Sandriza seketika terkekeh mendengar pengakuan Handoko itu.


" Itulah resikonya menjadi aktris dan aktor, mas Han? Kami dituntut melakukan tiap-tiap adegan secara profesional dan penuh penjiwaan. Jadi ketika rangkaian adegan mulai di edit menjadi satu bentuk film yang sudah jadi dan sempurna kami para aktor dan aktris seperti benar-benar membuat hipnotis penonton yang melihat nya. Penonton menjadi baper, dan terkadang sampai emosi ketika tokoh- tokoh yang memerankan film tersebut sangat menjiwai dan penuh penghayatan." ucap Sandriza.


" Aku ingin merasakan bagaimana ketika kamu berakting adegan berciuman dengan lawan main kamu, sayang!" goda Handoko sambil kembali mendekati Sandriza.


" Tidak! Itu modus kamu mas!" sahut Sandriza.


" Ayolah! Sekali saja!" rengek Handoko.


" Ogah! Lebih baik kita makan!" protes Sandriza,

__ADS_1


__ADS_2