PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
LULUH


__ADS_3

Sandriza tertidur di kursi panjang ruangan tengah. Setelah kejadian semalam yang membuat dirinya sedih karena Handoko menyebut nama wanita lain, Lauren dan juga Handoko ingin mencumbui nya dengan brutal. Sandriza meluapkan emosi dan kesedihan nya dengan menangis di ruangan tamu itu. Mery yang melihat kejadian itu ikut sedih, walaupun penyebab sandriza menangis itu karena apa, Mery pun tidak tahu pastinya.


Mery sudah lebih dahulu bangun dan menyiapkan beberapa sarapan yang dibelinya di depan apartemen, yaitu bubur ayam dan beberapa jenis gorengan. Makanan merakyat itu lah yang menjadi kegemarannya dan juga Sandriza pun menyukai nya.


Suara langkah kaki mulai pelan- pelan menuju ke ruangan tamu. Mery mengintip dari dapur, rupanya Handoko sudah bangun dan lebih segar karena tampaknya Handoko memang sudah mandi pagi kali ini. Mery segera membuatkan kopi hitam kegemaran Handoko sebagai teman merokok nya. Handoko mulai merapikan selimut yang dipakai oleh Sandriza. Tangannya pelan- pelan mengusap puncak Kepala kekasihnya itu. Sandriza menggeliat lalu sedikit membuka matanya. Sandriza mengintip siapa yang ada di sebelahnya sekarang.


" Pagi, sayang! Bangun dong!" ucap Handoko. Sandriza masih berat membuka matanya. Apalagi semalam banyak sekali mengeluarkan air matanya. Handoko tersenyum lalu mendudukkan Sandriza yang terlihat enggan untuk bangun dan membuka matanya.


Mery datang sambil. membawakan dua cangkir minuman. Handoko menatap Mery lalu tersenyum.


" Terimakasih Mery!" kata Handoko. Mery ikut melemparkan senyumnya sambil melihat Sandriza. Sandriza menghela nafasnya.


" Sarapan yuk, Sandriza! Siang ini ada jadwal Syuting. Kamu harus segera mandi." ucap Mery. Sandriza mendengus malas. Sandriza mulai bangkit dari kursi itu namun di tahan oleh Handoko.


" Hai! Tidak adakah ucapan selamat pagi untuk aku, sayang?" keluh Handoko yang kini mendekap pinggang Sandriza. Sandriza mendengus kesal.

__ADS_1


" Kamu marah dengan aku, sayang? Apakah semalam aku mabok?" tanya Handoko. Namun Sandriza tidak menjawab. Kini beralih menatap Mery yang berada tidak jauh dari mereka untuk minta jawaban nya. Mery mengangguk cepat.


" Maaf, sayang! Aku mabok berat yah?" kata Handoko. Sandriza berusaha melepaskan dekapan dari Handoko di tubuh nya. Handoko malah membalikkan badan Sandriza dan kini malah mereka saling berhadapan. Mery mulai melipir pergi masuk ke kamarnya. Dirinya seperti obat nyamuk lagi. Handoko mulai menatap wajah Sandriza yang terlihat sembab matanya.


" Sayang! Kamu habis menangis? Ada apa, hem?" tanya Handoko lembut. Sandriza menggeleng cepat namun tidak bersuara.


" Maaf! Kamu marah karena aku mabok yah? Maaf, aku tidak akan mabok berat seperti semalam tadi deh. Mereka yang mengerjai aku jadi aku menjadi mabok seperti itu." Handoko berusaha membela diri.


" Kamu memaafkan aku, kan sayang?" ucap Handoko. Sandriza masih saja diam tak bergeming.


" Hai cup.. cup... cup! Kamu menangis lagi?" ujar Hanya bingung.


" Ada apa sih? Semalam apa yang aku lakukan kepada mu, hem?" tanya Handoko bingung.


" Semalam kamu mabok dan ingin mencumbui aku. Dan kamu menyebut nama Lauren. Bukan memangil nama aku." cerita Sandriza sambil sesenggukan. Handoko membulat matanya.

__ADS_1


" Lauren?? Aku menyebut nama wanita itu? Apakah di hati aku masih menyimpan kerinduan dengan Lauren." batin Handoko.


" Siapa Lauren? Kamu bahkan hendak melakukan itu dan menyebut namanya. Untuk ada Mery, hingga aku bisa menyingkirkan kamu yang brutal menguasai aku." kata Sandriza.


" Hai maaf, sayang! Aku benar-benar tidak sadar. Maaf yah!" ucap Handoko kini mengecup kening Sandriza.


" Kata orang ketika seseorang dalam keadaan mabok, ucapan nya lolos begitu saja dari pikiran nya. Jadi selama ini kamu masih memikirkan wanita itu?" kata Sandriza.


" Tidak juga! Dia hanya hadir sebentar dalam kehidupan aku dan kita hampir menikah. Tapi tiba-tiba dia pergi begitu saja dan menggagalkan acara pernikahan kami. Padahal saat itu tinggal dua hari lagi hari pernikahan kami. Dia lebih memilih karirnya sebagai model dan menandatangani kontrak tidak menikah dan dalam status gadis, selama lima tahun." cerita Handoko. Sandriza terdiam menyimak cerita Handoko yang serius menyampaikan nya.


" Mungkin setelah itu, aku masih ada kemarahan dan kekecewaan dengan Lauren. Kamu harus percaya ini, sayang! Hanya kamu wanita yang membuatku jatuh hati." kata Handoko. Sandriza serius menatap Handoko.


" Kamu maafkan aku kan, sayang?" tanya Handoko lagi. Sandriza mulai luluh.


" Ya sudah, kamu mandi dulu. Bukankah ada jadwal syuting hari ini kan, sayang? Setelah itu kita sarapan bersama." kata Handoko penuh kelembutan. Sandriza mulai bangkit dan melangkah pergi menuju ke kamar nya. Handoko mulai menikmati kopi hitamnya yang sudah tidak lagi panas.

__ADS_1


" Lauren?? Kamu akan lihat! Aku pun bisa mendapatkan wanita yang lebih dari kamu segalanya." gumam Handoko sambil menghisap batang rokok nya.


__ADS_2