PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
BAHAGIA DI ATAS LUKA


__ADS_3

Setelah sidang perceraian antara Sandriza dengan Handoko sudah diputuskan, Handoko dan Sandriza benar-benar berpisah. Sandriza menyandang status seorang janda. Ini tidak mudah bagi Sandriza menyandang gelar seorang janda. Pandangan seseorang terhadap dirinya mungkin saja memandang sebelah mata. Tentu saja ini akan membuat beberapa wanita menjadi was-was terhadap kekasih, suami atau laki-laki yang disukai nya. Khawatir jika laki-laki nya akan berpaling dengan istrinya dan berpindah ke Sandriza. Itu saja. Dari segi mana pun, Sandriza memliki semuanya. Sandriza selain memiliki paras yang cantik, bodynya yang bagus proporsional serta murah senyum. Siapa pun akan merasa bawa perasaan jika Sandriza sudah menyapanya dengan ramah. Sandriza pun adalah wanita mandiri yang memiliki banyak bakat seni. Tentu saja wanita yang sangat produktif. Laki-laki mana yang mampu menolak jika ada orang sejenis Sandriza di jual di pasaran. (🤣).


@@@@@@@


Handoko benar-benar kacau dengan perpisahan nya dengan Sandriza. Dirinya tidak pernah menyangkalnya usia pernikahan dan kebersamaan dengan Sandriza tidak langgeng. Dan semuanya atas kesalahannya sendiri. Kesalahan karena dirinya kurang berhati-hati hingga pengkhianat itu terjadi.


Handoko menyadarkan kepalanya di sandaran kursi apartemen nya. Setelah perceraian nya dengan Sandriza, Handoko lebih memilih pulang ke apartemen nya yang dekat dengan kantor nya. Di mana apartemen itu dulunya untuk Sandriza. Pada akhirnya Sandriza mengembalikan semuanya pada Handoko. Kini apartemen itu ditempati oleh Mery yang saat ini sudah mengandung anak dari Handoko. Mery menatap Handoko lekat.


" Mas Han, kapan kamu akan menikahi aku?" tanya Mery. Handoko seketika menatap wajah Mery yang saat ini memucat lantaran sedang ngidam. Usia kehamilan Mery baru berjalan satu bulan. Handoko mengusap perut Mery yang masih rata. Lalu beralih ke wajah Mery yang seperti dirundung kesedihan.

__ADS_1


" Aku akan menikahi kamu secepatnya." ucap Handoko pada akhirnya. Kali ini Handoko menyembunyikan kesedihan nya karena kehilangan Sandriza.


" Maafkan aku, mas Han! Gara-gara aku kamu dengan Sandriza akhirnya bercerai."kata Mery yang menunjukkan kesedihan dan penyesalannya. Walaupun didalam lubuk hatinya yang paling dalam, Mery merayakan kemenangan nya. Tidak ada sahutan dari Handoko, karena Handoko pun sadar kalau perceraian nya dengan Sandriza itu juga kesalahannya. Kesalahannya karena tidak bisa menjaga dan menahan dirinya dari gangguan dan godaan.


" Bukan depan, kita akan menikah." kata Handoko sambil bangkit dari duduk nya.


" Aku ingin mencari udara segar dulu." alasan Handoko.


" Apakah kamu ingin minum? Biar aku yang menemani kamu, mas!" ucap Mery seolah ingin menahan kepergian Handoko.

__ADS_1


" Tunggu dulu, sebentar saja! Aku telah menyimpan botol wine itu. Kamu bisa meminumnya di rumah saja, mas." kata Mery seraya melangkah mengambilkan minuman yang ia maksudkan. Handoko menarik nafasnya dengan kasar.


Mery mulai menyiapkan segala sesuatunya supaya Handoko tidak jadi pergi malam itu. Handoko mulai menenggak beberapa gelas kecil yang dituangkan oleh Mery untuk nya. Tentu saja Mery tidak ikut meminumnya. Sampai satu botol minuman itu habis ludes diminum Handoko.


" Kamu benar-benar sangat kacau sekali, Mas Han. Apakah kamu sangat mencintai wanita itu?" kata Mery. Handoko merangkum wajah Mery dengan senyuman termanisnya. Pandangan Handoko mulai kurang jelas. Kesadarannya tidak seperti sebelumnya ketika dia belum meminum minuman yang diberikan Mery.


" Sandriza! Apakah ini kamu, sayang?" kata Handoko. Mery menatap wajah Handoko dengan mata berkaca. Hati nya sangat sakit mendengar kalimat dari mulut Handoko.


" Sandriza! Peluk aku, aku rindu kamu!" oceh Handoko. Mery memeluk tubuh laki-laki itu dengan air mata yang menetes pilu.

__ADS_1


__ADS_2