PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
TERBANG


__ADS_3

Sore itu Sandriza bersama dengan Fatika di antar Handoko dan Mery di bandara. Beberapa tim pembuatan film sudah berkumpul di sana. Sepanjang perjalanan, Handoko diam dan tidak banyak bicara. Betapa ini sangat sulit bagi Handoko berjauhan dengan sang istri setelah mereka sudah saling terbiasa bersama setiap hari. Apalagi syuting pembuatan film dengan latar di luar negeri itu diperkirakan kurang lebih dua bulanan. Handoko tidak akan sanggup jika tidak menjumpai istrinya itu.


Sesampainya di bandara itu, Handoko tidak membiarkan melepaskan genggaman tangannya dengan Sandriza itu. Fatika yang menyaksikan pasangan suami istri itu menjadi ikut terharu.


" Kamu harus ingat, Sandriza sayang! Tidak boleh terlalu akrab dengan lawan main kamu apalagi aktor ganteng itu." ucap Handoko. Sandriza mengernyitkan dahinya.


" Siapa aktor ganteng yang kamu maksudkan, Mas?" tanya Sandriza.

__ADS_1


" Apakah kamu belum bertemu dengan beberapa pemain yang lainnya? Tokoh-tokoh yang akan memerankan film nanti?" tanya Handoko dengan ekspresi datar. Sandriza akhirnya terkekeh atas kekhawatiran suaminya itu.


" Aku akan menunggumu, mas! Kamu harus menjumpai aku di negara itu! Kalau tidak, aku tidak akan menjamin, kalau aku bisa setia dengan kamu." ancam Sandriza.. Tentu saja Sandriza menggoda suami nya itu. Handoko malah nekat menarik dan memeluk Sandriza di tempat umum itu. Handoko tidak perduli banyak pasang mata menyaksikan adegan dewasa itu. Handoko merangkum wajah Sandriza dan mendekatkan ke wajahnya lalu dengan kasar mencium dan menyes@pnya. Tentu saja Sandriza ingin memberontak karena Sandriza malu dilihat banyak orang di sana, terutama Fatika. Dengan cepat akhirnya Sandriza mendorong tubuh Handoko pelan supaya menyudahi ciuman itu.


" Hai! Hai! Bukankah semalam aku sudah memberikan kamu pelayanan lebih dari tiga kali. Bahkan tadi pagi kamu masih menggempur ku dengan liar?" bisik Sandriza.


" Kalau bersama kamu, aku seperti ingin terus menerus." bisik Handoko.

__ADS_1


" Ini bukan masalah uang, Sandriza! Tapi kerjaan aku akhir- akhir ini sudah bikin pusing. Aku tidak bisa dengan mudah meninggalkan jadwal padat dengan beberapa klien-klien. Makanya Mery juga tidak bisa mendampingi kamu di luar negeri ini. Karena Mery lebih paham soal masalah perusahaan dibandingkan dengan Fatika." kata Handoko.


" Iya, aku tahu!" sahut Sandriza.


Handoko meninggalkan bandara itu setelah Sandriza, Fatika dan beserta orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film itu terbang dengan pesawatnya. Handoko sendirian kembali ke kantor nya. Pekerjaan nya sudah menantinya. Handoko akan merasakan sepi ketika kembali pulang ke rumahnya dengan tidak mendapati istrinya yang menantikan kepulangannya atau sebaliknya jika dirinya pulang lebih awal dia akan menanti kepulangan Sandriza dari kerjaan syuting nya.


" Rasanya seperti separuh jiwaku tertidur. Aku merasakan kesepian itu." ucap Handoko yang kini. sudah duduk di kursi kerjanya sambil melihat jauh di jalanan. Handoko kini duduk di ruangan nya yang berada di lantai atas.

__ADS_1


" Mereka terlihat kecil sekali ketika aku melihat nya dari sini. Apakah orang-orang sukses akan memandang orang bawah seperti ini?" gumam Handoko yang mulai menerawang jauh memikirkan karyawan-karyawan nya.


" Mungkin saja mereka melihat aku lebih tinggi karena aku pimpinan mereka. Namun tanpa adanya mereka, aku tidak akan bisa menjadi sukses dan lebih tinggi. Aku harus lebih memikirkan kesejahteraan mereka." pikir Handoko. Handoko mengambil ponselnya dan memanggil sekretaris pribadinya.


__ADS_2