PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
PINGSAN


__ADS_3

Handoko masih berdiam di ruangan nya. Pulang ke rumah pun Handoko menjadi kurang bersemangat. Di tempat tinggalnya tidak ada Sandriza yang menantikan dirinya pulang. Sandriza saat ini sangat sibuk dengan kerjaan aktingnya yang menguras emosi, tenaga dan juga waktu nya, di tempat yang jauh dengan Handoko. Bukankah semua pekerjaan menghabiskan waktu, tenaga dan juga pikiran? Handoko mulai limbung. Ini baru sehari dari kepergian Sandriza, dirinya sudah seperti cacing kepanasan. Awal yang berat karena baru menyadari arti sosok Sandriza dalam kehidupan Handoko.


Ketukan pintu ruangan nya membuyarkan lamunan Handoko. Mery datang dengan secangkir kopi yang ia minta.


" Letakkan saja di atas meja sana!" ucap Handoko. Mery tersenyum ramah. Ada yang beda dari penampilan Mery hari ini. Mery terlihat ber make up lebih tebal dari biasanya. Pakaiannya yang dikenakan hari ini lebih sedikit terbuka. Belahan bagian dadanya seperti sengaja Mery buka. Apakah Mery lupa kalau bos nya saat ini akan semakin blingsatan jika melihat penampilan nya. Apalagi saat ini bos nya lagi sendiri dan jauh dengan istrinya. Penderitaan terbesar adalah kegiatan rutin Handoko akan tertunda sampai menunggu pertemuan selanjutnya dengan Sandriza.


Handoko melihat Mery masih berdiri mematung di depan Handoko. Handoko menjadi tersadar jika dirinya belum menyuruhnya pergi dari ruangan nya.


" Oh, iya Mery Terima kasih kopinya. Kamu boleh pergi. Dan jangan lupa laporan bulan kemarin aku tunggu secepatnya." kata Handoko. Mery tersenyum seraya mengibaskan rambutnya karena gerah.

__ADS_1


" Baik Pak Han!" sahut Mery seraya meninggalkan ruangan itu. Handoko sekilas menatap punggung Mery yang lebar berbalut kemeja biru muda yang tipis.


" Ada apa dengan Mery? Tingkahnya sangat aneh." gumam Handoko sambil tersenyum.


Setelah hari berangsur-angsur senja, Handoko mulai membereskan berkas- berkas yang ada di atas meja. Dirinya sudah mulai letih seharian ini berkutat dengan kerjaan nya. Handoko kembali pulang dan ingin beristirahat di tempat tinggalnya. Namun sebelum Handoko keluar dari ruangannya, Mery datang membawa berkas laporan yang diminta Handoko.


" Pak Han, ini laporan yang Pak Han minta." kata Mery sambil menyodorkan beberapa lembar kertas laporan itu kepada Handoko. Handoko menerima laporan yang diberikan oleh Mery.


" Oke, Mery! Aku harus pulang! Sampai jumpa besok pagi!" kata Handoko sambil bergegas meninggalkan ruangan nya. Namun tiba-tiba Mery jatuh di ruangan nya. Handoko benar-benar terkejut kenapa Mery tiba-tiba menjadi pingsan. Handoko mengangkat tubuh Mery ke kursi panjang di ruangan nya. Handoko mulai mengambil obat di kotak PPPK. Handoko mengambil minyak kayu putih yang masih tersedia di kotak itu dan segera mengoleskannya sedikit di dekat hidung Mery.

__ADS_1


Mery mulai membuka matanya setelah Handoko berusaha membuat dirinya kembali sadar.


" Kamu tidak apa- apa Mery? Apakah kamu ada keluhan, sehingga kamu tiba-tiba pingsan seperti ini?" tanya Handoko.


" Tidak ada Pak Han! Tiba-tiba kepala saya berat dan gelap. Itu saja." sahut Mery pelan.


" Baiklah, apakah kamu sudah tidak apa- apa? Kamu bisa berdiri dan berjalan bukan? Ayo kita pulang! Biar aku yang mengantar kamu pulang ke rumah." kata Handoko. Mery berusaha menolaknya.


" Tidak perlu Pak Han! Saya bisa pulang sendiri." sahut Mery penuh drama queen.

__ADS_1


" Biar aku yang antar kamu ke rumah! Ayo!" desak Handoko seraya mengajak Mery meninggalkan ruangan nya.


__ADS_2