PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
MASIH CEMBURU


__ADS_3

Rumi mendatangi Zio yang sudah duduk di meja makan. Kopi hitam buatan bibi, pembantu rumah tangganya itu sudah mulai diminumnya sedikit- sedikit sambil menghisap batang rokoknya yang sudah menyala terselip diantara jarinya. Rumi diam dan memandang laki-laki yang sudah memberikan kepuasan dan puncak kenikmatan setelah emosinya memuncak tadi. Urat-urat syarat nya kini sudah kendor berganti dengan kelembutan yang kini diperlihatkan untuk laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


" Mana kontak wanita tadi?" kata Rumi kepada Zio. Zio menyerahkan ponsel miliknya kepada Zio. Rumi mulai membuka layar ponsel itu dan mencari kontak wanita yang dimaksud.


" Siapa namanya?" tanya Rumi lagi masih penasaran dan penuh kecemburuan.


" Penggoda!" jawab Zio lalu berlalu meninggalkan Rumi yang masih duduk di kursi makan itu. Rumi masih fokus menatap layar ponsel milik suaminya itu. Sedangkan Zio, berjalan ke taman belakang dibawah pohon cemara yang belum tinggi. Di sana Zio duduk kembali menikmati secangkir kopinya dan rokok dengan merk favoritnya.


Terlihat Rumi beberapa kali menghubungi wanita yang dimaksudkan namun beberapa kali juga tidak sekali pun diangkat oleh orang yang bersangkutan di seberang sana. Akhirnya Rumi berjalan mendekati Zio dan menyerahkan ponsel milik Zio.


" Dia tidak mengangkatnya." kata Rumi. Zio diam saja tidak mau menanggapi.


" Jadi wanita itu suka menggoda kamu? Besok akan aku datangi dia di tempat kerjanya. Akan aku buat malu dia." kata Rumi masih penuh emosi. Zio kini melihat Rumi dengan sorot mata yang tajam dan tidak suka.


" Kenapa? Aku hanya tidak ingin suami aku digangguin oleh wanita lain. Kamu itu hanya milikku. Dan hanya aku saja, mas." kata Rumi kini mulai posesif sekali. Zio menarik batang rokoknya dan melepaskan asapnya kembali.

__ADS_1


" Kamu tidak pantas cemburu dengan wanita seperti dia, sayang! Kamu ini wanita berkelas." kata Zio lalu berdiri dan melangkah pergi dan hendak meninggalkan Rumi. Namun Rumi menahan tangan Zio. Hingga Zio menghentikan langkah nya dan melihat Rumi istrinya itu.


" Mau kemana?" tanya Rumi.


" Mau menunggu kamu di kamar!" jawab Zio sambil memainkan bola matanya nakal. Rumi tersenyum lalu mengikuti langkah Zio suaminya.


Di dalam kamar itu, kini Rumi mulai mendominasi permainan. Zio seolah pasrah menerima pelayanan yang ditunjukkan oleh Rumi. Rumi tidak melewatkan setiap inci bagian-bagian tubuh kekar dan atletis milik suaminya itu. Malam itu benar-benar malam yang menciptakan suara indah dari konser dia insan yang mempermainkan biolanya. Bermain dengan gesekan sesuai ritmenya. Menggesek dan menimbulkan suara merdu di sana. Zio terbuai permainan indah itu. Sedangkan Rumi berusaha membuat permainan nya tidak mengecewakan laki-laki yang saat ini di bawahnya.


" Aku akan membuat kamu menyadari, kalau aku lebih pandai dalam bermain di atas ranjang seperti ini. Dan kamu akan sadar, kamu tidak akan memerlukan wanita lain lagi selain aku." bisik Rumi dengan bermain penuh irama.


Sandriza mulai gelisah di atas tempat tidur nya. Dirinya tidak menyangka kalau dibohongi oleh laki-laki seperti Zio. Laki-laki yang berusaha mengejar- mengejarnya dan bilang menyukainya. Laki-laki yang mengaku kalau belum pernah menikah itu kenyataan nya sudah memiliki istri. Dan ini, istrinya dengan tenang- terangan membuat Sandriza malu di restoran tadi.


Ponsel Sandriza tiba-tiba berbunyi, membuyarkan pikiran- pikiran nya yang saat ini kemana-mana. Ada nomer yang belum dikenalnya. Namun Sandriza sangat penasaran akan nomer itu.


" Halo!" ucap Sandriza dengan mode masih malas.

__ADS_1


" Halo, ini aku Handoko." kata orang diseberang sana. Sandriza ber O ria.


" Kamu belum tidur?" tanya Handoko.


" Belum, mas!" jawab Sandriza singkat.


" Kenapa? Jangan dipikirkan sekali kejadian yang menimpa kamu tadi. Oh iya, ini nomer aku, kamu simpan yah!" kata Handoko berusaha akrab.


" Baik akan aku simpan, mas!" sahut Sandriza.


" Besok latihan di sanggar kan? Aku nanti akan datang ke sana." ucap Handoko.


" Heem! Sudah istirahat dan bobok lebih awal. Jangan banyak mikir. Nanti aku akan melindungi kamu, jika istri laki-laki itu melabrak kamu." kata Handoko penuh dengan janji.


" Iya, terimakasih mas!" sahut Sandriza. Lalu memutuskan panggilan masuk nya. Laki-laki di seberang sana mengumpat sendiri karena tanpa pamit Sandriza dengan seenaknya menutup panggilan keluar nya.

__ADS_1


__ADS_2