PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
PROTES NYA BAGAS


__ADS_3

" Dia pacar ayah." jawab Fauzi.


" Ini bahaya, ayah! Dia istri orang. Itu tidak baik. Ayah bisa saja mencari wanita single yang bukan istri orang. Aku tidak akan melarang, ayah berbuat apa saja dan berhubungan dengan wanita manapun. Asal bukan istri orang. Tolonglah ayah! Ini tidak benar. Wanita cantik dan muda banyak loh, ayah! Lagi pula siapa yang tidak akan menyukai ayah. Ayah masih terlihat muda, ganteng, kaya lagi." kata Bagas dengan tegas.


" Tapi ini masalah cinta, Bagas." sahut Fauzi.


" Ah aku tidak yakin jika ayah benar-benar mencintai wanita itu? Dia tidak lebih baik juga dari mama." kata Bagas berusaha membandingkan wanita yang tidur di sofa itu dengan mama nya.


" Tapi ini benar- benar aneh, Bagas! Ayah merasa rindu jika tidak bertemu dia. Ayah merasa risau Jika sehari tidak menghubungi dia. Ayah pun sangat blingsatan jika tidak mendapatkan kabar dia. Apalagi ketika ayah chat, telepon tidak ada balasan dari dia. Ada lagi, ayah pun memiliki rasa cemburu itu jika dia bersama suaminya." cerita Fauzi kepada Bagas.


" Astaga, ayah! Ini sudah tidak benar! Lalu akan dibawa kemana hubungan kalian berdua ayah? Jika dia masih berstatus istri orang. Ini benar-benar tidak mungkin ayah! Apakah ayah ingin membuat mereka bercerai dengan suaminya? Lalu menikah dengan ayah?" kata Bagas mulai mendesak ayahnya.

__ADS_1


" Saat ini kami masih suka sama suka saja. Kami melakukan semua itu enjoy saja. Kami belum terpikirkan untuk langkah selanjutnya." kata Fauzi.


" Lalu sampai kapan ayah seperti ini? Melakukan hubungan yang terlarang ini dengan istri orang? Apakah sampai suaminya memergoki kalian berdua? Apakah sampai suaminya mengetahui istrinya sudah berselingkuh dan mengkhianati dia? Atau sampai ayah dihajar suaminya karena telah berselingkuh dengan istrinya?" kata Bagas.


Fauzi mulai berpikir sejenak dengan perkataan anak laki-laki nya. Memang hubungan seperti ini ujung- ujungnya membuat rumah tangga akan hancur jika pasangan nya mengetahui perselingkuhan ini.


" Ayolah ayah! Pikirkan kembali! Ayah harus berani menyudahi hubungan seperti ini. Mau sampai kapan ayah seperti ini? Carilah ketenangan ayah. Lambat laun ayah akan semakin tua. Ayah butuh wanita dan pendamping yang bisa diajak bicara dan berkeluh kesah atas masalah dan penatnya ayah karena kerjaan ayah. Tidak semata-mata untuk memuaskan diri ayah saja. Semua itu bisa dikomunikasikan bersama dengan pasangan, ayah. Tidak asal cerai saja, ayah." kata Bagas seperti psikolog handal.


" Aku yakin ayah pasti bisa! Ayah, ayolah ini sudah tidak benar! Ayah harus mengontrol semuanya. Pasti ada wanita yang baik yang bisa mengerti ayah. Contohnya seperti mama." kata Bagas lagi.


" Maksudnya kamu ingin, ayah rujuk dengan mama kamu?" tuduh Fauzi.

__ADS_1


" Kalau itu memungkinkan! Tapi yang aku mau, ayah harus mulai berbenah. Cukuplah ayah, bermainnya. Ayah sudah mulai renta. Maaf loh ayah. Ini supaya ayah ingat, ayah sudah berkepala empat dan mau berkepala lima. Cari wanita pendamping yang bisa membuat ayah tenang. Ajari dia jalan yang baik. Tentu saja ayah juga lebih dulu bisa mencontohkan yang baik itu seperti apa. Benar tidak, ayah? Beri contoh yang baik untuk putra- putra ayah." kata Bagas mulai menusuk jantung Fauzi.


" Benar kata kamu! Jangan mengikuti langkah be jat dari ayahmu ini, nak!" kata Fauzi akhirnya sambil menundukkan kepalanya.


" Ayah! Dulu ayah tidak seperti ini loh! Tolong kembali menjadi ayah yang bisa aku contoh ayah! Sudahi hubungan dengan wanita itu." kata Fauzi sambil mengambil tangan ayahnya.


" Ayah harus putus dengan Gisel?" tanya Fauzi lagi.


" Iya! Ayah harus bisa! Ini tidak baik jika ayah meneruskan nya." sahut Bagas sambil melihat Gisel yang masih tidur itu.


" Aku tunggu kabar baik dan perubahan dari ayah!" kata Bagas sambil keluar dari ruangan kerja ayahnya itu.

__ADS_1


" Apakah aku bisa untuk tidak berhubungan lagi dengan Gisel? Pesona nya tidak bisa aku elak kan." pikir Fauzi sambil melihat Gisel.


__ADS_2