PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
MASIH PERJAKA


__ADS_3

Handoko menjatuhkan tubuhnya ke ranjang kamarnya setelah keluarga Barata itu kembali pulang. Dan setelah dirinya pun mendapatkan jeweran dari ayah dan mama nya. Namun jeweran itu tidak diartikan marah besar. Sebenarnya Pak Gunawan dan Bu Cantika memang sudah ingin melihat Handoko menikah dan menimang cucu dari anak-anak nya. Namun saat ini mereka lah yang selalu sering mendesak Handoko.


Handoko memang sebenarnya belum memiliki pacar atau kekasih. Pak Gunawan dan Bu Cantika selalu mendesak anaknya itu supaya memperkenalkan calon mantunya itu, namun Handoko masih saja cuek saja.


Tiba-tiba Isa masuk ke dalam kamar Handoko, abangnya itu yang kebetulan tidak dikunci.


" Bagaimana bang? Cocok gak, gadis yang dikenalkan kemari tadi? Masuk kriteria menjadi istri kakak tidak?" tanya Isa kepo nya kumat.


" Jauh kalau dibandingkan dengan Sandriza. Sepertinya aku akan otw mendekati wanita itu, dik" kata Handoko.


" Apa? Aku juga lagi mendekati dia loh, bang! Cari yang lain kenapa, sih?" protes Isa yang kini ikut berbaring di kasur kamar Handoko itu.


" Ya sudah, kita bersaing saja, dik! Siapa yang bisa membuat jatuh hati wanita itu, harus membelikan mobil sport keluaran terbaru." tantang Handoko.


" Bang! Aku bisa kalah saingan dengan abang kalau berlomba mendapatkan Sandriza. Ayolah, bang! Abang harus mengalah dengan aku. Aku sudah lama ngincer Sandriza, loh. Aku aja sampai bela- belain memerankan suami yang berkhianat itu supaya bisa bermain dengan pelakor yang diperankan Sandriza. Supaya apa coba? Supaya aku bisa sedikit mencium aroma wanginya Sandriza." kata Isa tanpa sensor.


" Kamu selalu modus, dik! Kamu sudah menang banyak dari abang. Abang juga belum memulai. Sandriza saja belum mengenal abang loh. Jadi kamu kenapa jadi tidak percaya diri seperti itu?" kata Handoko tersenyum jahil.

__ADS_1


" Bang! Abang tidak serius kan, menyukainya? Menyukai Sandriza itu?" tanya Isa penuh kekhawatiran.


" Tentu saja aku serius lah, dik! Aku tertarik dengan Sandriza! Setelah pertunjukan, akan ku jadikan Sandriza artis ku." sahut Handoko sambil terkekeh.


" Akan aku pastikan, Sandriza secepatnya menjadi pacar aku." kata Isa akhirnya. Handoko tertawa terpingkal-pingkal.


" Semangat dik Isa!" ucap Handoko sambil memukul bantal ke kepala Isa.


" Bang! Abang memberi semangat aku untuk mendekati Sandriza. Namun abang juga bilang menyukai Sandriza. Jadi gimana ini maksudnya?" kata Isa bingung.


" Sudah aku bilang, dik! Kita kompetisi. Nanti siapa diantara kita yang benar-benar membuat Sandriza itu jatuh hati kepada kita. Dan jangan lupa siapa yang bisa menjadikan Sandriza itu istrinya, nanti harus mengakui kekalahannya dengan memberikan mobil sport model baru di hadiah pernikahan nanti. Oke!" tantang Handoko.


" Bang! Tapi kalau sudah menjadi istri aku, Sandriza nanti, abang tidak boleh mengganggu nya lagi yah." kata Isa dengan polosnya.


" Tentu saja! Abang tidak berminat dengan wanita yang sudah bersuami orang." sahut Handoko.


" Oh iya, bang! Bukankah tadi gadis yang datang kemari tadi sangat cantik dan bodynya juga seksi badai. Kenapa abang tidak tertarik dengannya?" tanya Isa penasaran.

__ADS_1


" Entahlah! Kamu tahu dik sebelum dia pulang tadi dia membisikkan apa kepada abang?" kata Handoko.


" Apa bang?" tanya Isa kepo.


" Dia ngajak bercinta!" jawab Handoko singkat.


" What?? Wah itu keberuntungan bagi abang dong!" sahut Isa sambil terkekeh. Handoko kembali memukul kepala Isa dengan bantal.


" Dia ingin instan menjadi artis." cerita Handoko.


" Hem?? Berapa kali abang mendapatkan tawaran seperti ini?" tanya Isa penasaran.


" Sudah lebih dari seratus kali." jawab Handoko.


" Pernah menyetujui nya? Maksudnya abang pernah mengorbit kan artis setelah cinta satu malam itu?" tanya Isa kepo. Kembali Handoko memukul kepala Isa namun kali ini pakai guling sampai beberapa kali.


" Bang! Aku kan hanya bertanya saja loh! Tidak perlu memukul aku seperti ini." ucap Isa seperti teraniaya.

__ADS_1


" Kamu pikir, abang kamu ini cowok murahan? Abang juga masih perjaka. Senjata abang ini untuk istri abang nanti yang perdana." kata Handoko jujur.


" Aku salut dengan abang ku ini. Dengan banyak wanita- wanita cantik namun tetap dengan pendirian nya. Aku kasih seribu jempol buat abang ku yang ganteng, yang mapan, yang kuat pendirian nya." puji Isa.


__ADS_2