PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
HARUS SALING PERCAYA


__ADS_3

Masih di apartemen.


Handoko menyiapkan hidangan di atas meja makan. Makanan serta juz yang dipesankan melalui Roy, benar- benar lengkap. Roy, memesankan makanan dan minuman itu semuanya adalah kesukaan dari Handoko. Langkah kaki mungil tanpa alas kaki itu kini mendekati Handoko yang saat ini di ruang makan yang tidak terlalu luas. Sandriza mulai memberanikan dirinya mendekati Handoko. Handoko mulai menatap Sandriza yang saat ini telah mengenakan bajunya. Handoko tersenyum melihat Sandriza yang memakai kemejanya terlihat kedodoran. Sandriza malu- malu dilihatin Handoko seperti itu.


" Kenapa mas? Ada yang salah yah? Habis bingung, aku pakai baju apa lagi? Kaos- kaos milik kamu model oblong dan ketat. Sedangkan yang longgar kemeja- kemeja saja. Jadi pakai ini saja deh. Lebih aman!" ujar Sandriza sambil menutupi bagian dada nya dengan handuk yang tidak mengenakan da la man bH penyangga gunung kembar nya lantaran basah. Bahkan Sandriza diam- diam mengenakan boxer milik Handoko yang super besar. (Sebentar author cekikikan dulu yah.)


" Ada baju tidur aku yang berukuran kecil kok. Kenapa pakai kemeja sih?" protes Handoko yang membuat gejolak laki-laki nya akan memberontak ketika melihat tampilan Sandriza seperti itu malah terlihat sangat seksi. Apalagi kemeja nya itu sampai di atas lutut dan Sandriza tanpa mengenakan celana panjang. Handoko menelan ludahnya.


" Aku kan tidak tahu, mas! Asal ambil aja kok." ujar Sandriza dengan cemberut. Handoko mendekati Sandriza dan melepaskan handuk yang sengaja dikalungkan di pundak.


" Jangan dilepas mas!" protes Sandriza. Handoko mulai mengeringkan rambut yang masih basah milik Sandriza itu dengan handuk yang tadi dikalungkan di pundak Sandriza. Sesaat Sandriza diam akan tangan terampil Handoko.


" Nah, ini sedikit lebih kering dari tadi kan. Kalau kamu masuk angin, aku juga yang nanti repot." ucap Handoko sambil meletakkan handuk itu ke sandaran kursi. Sandriza secepatnya meletakkan kembali ke pundaknya supaya bagian da da nya kembali tertutup. Handoko yang melihat tingkah Sandriza seperti itu menjadi paham.


" Oh walah, basah yah da la man nya?" sahut Handoko sambil terkekeh. Sandriza tersenyum malu.


" Lalu? Yang bawah pakai tidak?" tanya Handoko sambil melirik ke bawah.


" Pakai, tapi pakai punya kamu!" jawab Sandriza. Handoko membulat matanya. Setelah itu malah terkekeh. Sandriza tersipu malu.


" Tapi kebesaran, longgar banget." tambah Sandriza. Handoko makin terkekeh.


" Ya sudah! Besok akan aku suruh anggota ku untuk mengambil barang- barang milik kamu di rumah tante Melinda." kata Handoko. Sandriza masih tersipu malu.


" Ayo kita makan, Sandriza!" ajak Handoko. Sandriza mulai mengambil makanan yang sudah dihidangkan di atas meja itu.


" Apakah kamu ingin aku buatin kopi? Teh yang tadi aku buat ada di kamar. Pasti sudah dingin." ujar Sandriza. Handoko tersenyum.


" Kamu bisa buatin kopi?" sahut Handoko.

__ADS_1


" Bisa!" jawab Sandriza singkat.


" Nanti saja! Ini sudah ada minuman ini." kata Handoko. Keduanya mulai diam sambil menikmati makanan nya.


*******


" Apakah kamu sering membawa wanita ke apartemen ini, mas?" tanya Sandriza. Handoko mengerutkan dahinya.


" Tidak pernah! Hanya kamu saja! Bahkan aku jarang pulang ke apartemen ini. Aku lebih sering pulang ke rumah mama papa. Mereka masih menginginkan kehadiran aku." jelas Handoko. Sandriza tersenyum.


" Masih anak mama kah?" sindir Sandriza. Handoko tersenyum saja.


" Mungkin setelah aku menikah, mereka akan benar-benar melepas aku dan mempercayakan semuanya pada istri aku kelak." kata Handoko.. Sandriza tersenyum malu.


" Kamu tadi belum menjawab pertanyaan aku, bukan? Kamu mau kan, menjadi kekasih aku Sandriza?" ujar Handoko kini mendekati Sandriza.


Handoko mulai menatap kedua bola mata Sandriza yang menatapnya tajam. Handoko meraih dagu itu dan mulai mengusap lembut bibir milik Sandriza. Tidak menunggu lama Handoko mulai meraup bibir itu hingga ciuman itu kembali terjadi. Cukup lama ciuman itu terjadi, akhirnya Sandriza mendorong pelan Handoko.


" Aku menyukai mu Sandriza! Mulai sekarang kamu adalah wanita ku." bisik Handoko.


" Demikian juga aku!" sahut Sandriza malu sambil membenamkan kepalanya ke dada bidang milik Handoko yang masih telanjang.


" Setelah ini bobok dan beristirahat lah, sayang! Aku akan menjaga kamu di luar. Aku akan tidur di sofa ruang tengah." ucap Sandriza.


" Aku sendiri di kamar?" sahut Sandriza. Handoko mengerutkan dahinya.


" Kenapa? Apakah kamu ingin aku bobok bareng dengan kamu?" goda Handoko. Sandriza mencubit pinggang Handoko. Handoko kembali memeluk Sandriza erat.


" Aneh yah? Kenapa aku sangat menyayangi kamu. Dan aku mulai jatuh cinta dengan kamu. Ini terlalu cepat sekali prosesnya." kata Handoko.

__ADS_1


" Aku juga, setelah aku memimpikan kamu malam itu. Aku jadi kepikiran dengan kamu, mas. Lalu ketika berjumpa dengan kamu, rasanya jantung aku berdetak dengan hebat. Aku merasa nyaman kalau ada kamu ketika kamu ada di sanggar ketika latihan saat itu." cerita Sandriza jujur.


" Benarkah? Kamu mimpi aku? Mimpi apa?" tanya Handoko penasaran.


" Rahasia!" sahut Sandriza. Handoko semakin penasaran.


" Kasih tahu dong!" pinta Handoko. Sandriza malah berlari menuju ruang tengah. Handoko mengejar nya.


" Gak mungkin kan aku cerita bercinta dengan Mas Handoko?" batin Sandriza. Handoko masih berusaha mengejar Sandriza supaya bercerita akan mimpi nya.


" Ayolah sayang! Mimpi apa sih? Aku benar-benar penasaran sekali." kata Handoko. Sandriza masih tetap tidak mau bercerita. Handoko malah duduk mendekat di samping Sandriza.


" Dibilang rahasia yah rahasia!" sahut Sandriza sambil cemberut namun wajahnya mulai merona.


" Jangan- jangan mimpi indah dengan aku yah!" tebak Handoko. Sandriza kini menatap wajah Handoko. Kedua mata itu kembali beradu.


" Benar kan?" kata Handoko kembali. Sandriza tersenyum malu.


" Enak tidak kala mimpi gituan dengan aku?" tanya Handoko. Sandriza membulat matanya. Ini benar-benar membuatnya sangat malu. Handoko kembali merenggut bibir mungil Sandriza. Handoko mulai mengenalkan bibirnya dengan bibir Sandriza supaya semakin terbiasa.


" Cukup, mas! Nanti kebablasan." ujar Sandriza. Handoko mengusap bibir Sandriza setelah ciuman panjang itu. Handoko mulai mengatur nafasnya supaya kembali teratur.


" Aku sudah tidak sabar, untuk menjadikan kamu istri aku." ucap Handoko lirih. Sandriza tersenyum.


" Katanya kamu akan menjadikan aku artis yang punya nama dan diperhitungkan karena kemampuan akting aku, mas?" sahut Sandriza. Handoko kembali menghela nafas panjangnya.


" Benar! Mungkin setelah ini aku akan sering merasakan cemburu jika kamu mulai berakting dengan lawan main kamu yang berjenis kelamin laki-laki." kata Handoko. Sandriza masih saja tersenyum.


" Yang penting kamu mempercayai aku, mas! Kalau aku akan selalu setia dengan kamu. Itu saja!" ucap Sandriza. Handoko merasa puas akan kata- kata Sandriza.

__ADS_1


__ADS_2