PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
SATPAM


__ADS_3

Keempat nya akhirnya menonton film bersama. Bagas sengaja memberikan tempat duduk Sandriza diantara dirinya dengan Handoko. Sedangkan Isa ada di sampingnya. Bagas yakin, Isa lebih agresif dibandingkan dengan Handoko. Apalagi suasana gelap di studio film akan memberikan kesempatan tangan- tangan nakal bagi laki-laki dewasa itu. Film sudah diputar di layar lebar itu. Film dengan cerita laga namun dibumbui romantis membuat jantung dag dig dug bagi yang menonton nya.


Sandriza fokus dengan cerita di layar lebar itu. Sesekali tangannya mengambil cemilan popcorn yang ia letakkan di atas pangkuannya. Ketika adegan yang romantis itu tiba ketiga laki-laki dewasa itu semuanya menatap layar lebar itu tanpa berkedip. Sandriza iseng mencuri pandang ke arah Handoko. Betapa terkejutnya Sandriza, Handoko yang merasa diperhatikan oleh Sandriza menjadi tersenyum menggoda. Kini Handoko sedikit mendekat ke Sandriza, alih-alih hendak mengambil popcorn ditangan Sandriza namun juga membisikkan sesuatu di dekat Sandriza.


" Kenapa? Apa kamu menginginkan kiss yang panjang itu?" ucap Handoko pelan. Sandriza seketika merinding mendengar kata- kata dari Handoko. Handoko mulai memasukkan popcorn yang diambilnya dari Sandriza ke dalam mulutnya.


" Enak popcorn milik kamu! Kita tukaran." kata Handoko menukar popcorn miliknya dengan punya Sandriza yang rasa karamel.


Sandriza mencoba popcorn milik Handoko dengan rasa pandan. Sandriza tidak begitu menyukainya.


" Kurang enak! Gak mau ini." kata Sandriza lalu berusaha merebut popcorn nya yang sudah ditangan Handoko. Namun Handoko menolaknya. Kali ini Handoko malah menyuapi Sandriza dengan popcorn yanga ada ditangan nya itu.


Film layar lebar itu akhirnya usai dan keempatnya keluar secara bergiliran.


" Setelah ini, aku boleh mengajak kamu kencan kan?" bisik Handoko kepada Sandriza. Sandriza hanya diam kini tangannya sudah ditarik oleh mas Bagas. Mas Bagas ingin menyelamatkan Sandriza dari tangan- tangan nakal laki-laki dewasa itu.

__ADS_1


Kini mereka sudah keluar dari studio film itu. Dan kembali mencari kopi. Handoko masuk ke Starbucks dan memesan kopi di sana dan dibawanya pulang.


" Kamu mau gak, Bagas?" tanya Handoko lalu memberikan satu cup untuk Bagas dan juga Sandriza. Isa pun sudah memesannya lebih dahulu. Lalu keduanya keluar menuju parkiran setelah membayar semuanya.


" Mas Bagas langsung pulang kah?" tanya Isa. Bagas mengernyit dahinya.


" Iya, tapi mau mengantar Sandriza dulu ke sanggar." jawab Bagas.


" Sandriza ikut bersama kami saja, mas!" ajak Isa. Handoko menganggukkan kepalanya.


Kini Sandriza satu mobil dengan Handoko dan Isa. Sedangkan Mas Bagas langsung pulang membawa barang- barang belanjaan dari Sandriza yang sudah diletakkan di dalam mobilnya.


" Bagas itu berasa seperti satpam saja yah!" komentar Isa. Sandriza tersenyum namun Sandriza juga membenarkannya ucapan dari Isa.


" Tapi aku suka, Bagas seperti itu. Itu artinya dia sangat menjaga dan melindungi kamu. Bagas sangat sadar kalau kamu itu seperti bidadari yang layak dijaga. Kamu seperti mahkota yang perlu dilindungi dari ancaman laki-laki hidung belang yang mencoba merayu dan mempermainkan kamu." kata Handoko.

__ADS_1


" Seperti??" sahut Sandriza menyindir.


" Seperti kami ini!" sahut Handoko sambil menaikan bahunya. Sandriza tersenyum menyeringai.


" Tapi aku tidak mau kalau dianggap laki-laki hidung belang loh!" sahut Isa yang saat ini memang dirinya lah yang menyetir mobil itu.


" Jadi kira- kira berapa laki-laki yang menggigit jarinya ketika berusaha mendekati kamu, namun ada Pak Satpam itu?" sindir Handoko. Sandriza mencoba menghitungnya.


" Hem, baru satu." jawab Sandriza.


" Kira-kira kalau kita mendekati kamu, dan Pak satpam itu bisa luluh, kita harus bawa apa?" goda Isa. Handoko membenarkan pertanyaan Isa.


" Entahlah! Mas Bagas tidak bisa disogok kok." sahut Sandriza. Kedua laki-laki itu sama- sama memiliki sesuatu supaya sang kakak itu tidak menghalangi untuk pendekatan dengan gadis yang ada di dalam mobil mereka itu.


" Oke? Kalian latihan yang serius yah! Aku ada sedikit urusan dulu. Nanti aku kan ke sanggar menjumpai kelian." kata Handoko setelah mobil itu sampai di sanggar teater dan Isa sudah turun dari sana. Kini giliran Handoko yang beralih kemudinya. Sebelum pergi meninggalkan mereka, Handoko memainkan matanya pada Sandriza. Sandriza hanya tersenyum saja akan sikap genit Handoko terhadap dirinya.

__ADS_1


__ADS_2