
" Zio!" ucap Sandriza pelan. Namun Zio malah makin liar memainkan buah kembar itu. Sandriza makin tidak kuasa. Zio mulai mendekati wajah Sandriza dan mencari bibir Sandriza sambil tangannya tetap bermain di area gundukan itu.
Zio mulai mencium bibir Sandriza sampai lama. Sandriza diam tidak membalasnya. Mau membalas gimana, Sandriza belum pengalaman dalam berciuman.
"Zio, hentikan!" bisik Sandriza pelan sambil sedikit mendorong Zio supaya menghentikan aksinya.
" Sandriza! Setelah ini kita ke hotel yuk!" kata Zio nakal.
Sandriza melotot matanya mendengar Zio berkata demikian. Film di layar lebar itu masih berputar, namun Zio sudah mulai mencari kehangatan. Sandriza mulai sedikit khawatir akan sikap nakal Zio. Sungguh Sandriza memang belum pernah berpacaran dan ciuman bibir itu baru dia dapatkan dari Zio. Makanya ketika Zio menciumnya tadi Sandriza sampai membelalak matanya karena terkejut.
Zio kembali menggandeng tangan Sandriza menuju pintu keluar. Zio sudah tidak sabar menunggu sampai film itu usai. Zio terus menarik tangan Sandriza sampai menuju mobilnya yang terparkir di sana. Dengan cepat, Zio membukanya dan mereka berada di dalam mobil itu.
Zio sedikit mendekati Sandriza dan mulai meraih dagunya. Sandriza hanya diam namun ada ketakutan di sana. Betapa wajah Zio berbeda dari sebelumnya. Nafas Zio pun begitu memburu dan sudah tidak beraturan. Bibir tipis milik Sandriza itu di raup habis oleh Zio. Zio dengan ganas menciumnya dengan liar sampai Sandriza hampir tak bisa bernafas.
Tidak puas dengan itu, tangannya yang nakal mulai masuk ke rok mini Sandriza. Tangan itu mulai bergerilya mencari daerah sensitif milik Sandriza. Sandriza mulai men de.. sah.. Suara indahnya mulai lepas dari bibirnya. Jari lentik Zio mulai mencari gia sempit itu dan menari di sana. Sandriza memekik suaranya. Sandriza baru merasakan sensasi aneh itu untuk pertama kalinya. Zio masih tetap mencium bibir Sandriza dengan brutal. Tangan satunya mulai merogoh kedua bukit kembar nya.
__ADS_1
" Zio!" ucap pelan Sandriza setelah Zio mengambil oksigen untuk bernafas.
" Kita ke hotel yah!" ajak Zio akhirnya sambil menyudahi aksinya. Sandriza diam sejenak. Baru ini dia merasakan panas dingin dengan sentuhan tangan seorang laki-laki.
Zio mulai melajukan mobilnya keluar dari area parkir itu. Sandriza masih menatap Zio tidak percaya.
"Kita akan ke mana?" tanya Sandriza.
" Ke hotel!" jawab Zio nekat.
" Tapi aku tidak pernah melakukannya." kata Sandriza jujur. Zio terkejut mendengar kalimat itu.
" Hah? Benarkah?" sahut Zio tidak percaya.
" Sungguh! Dan kamulah laki-laki pertama yang berani mencium bibir aku." kata Sandriza. Zio tidak percaya.
__ADS_1
" Bahkan kamu tidak pernyataan berciuman?" tanya Zio heran. Zaman sekarang, usia 23 tahun seperti Sandriza rasanya tidak mungkin jika belum pernah merasakan berciuman bibir dengan pasangan nya.
" Kenyataan nya memang aku belum pernah." sahut Sandriza jujur.
" Aku minta di antar pulang saja." tambah Sandriza.
Zio mengurungkan niatnya untuk mengajak Sandriza ke hotel.
" Jadi? Kalau kamu tidak pernah berciuman dan berpacaran, tulisan kamu yang berbentuk cerpen dan novel itu menceritakan apa?" tanya Zio penasaran.
" Eh? Aku suka menulis cerita misteri, horor dan juga fantasi timur." jawab Sandriza sambil tersenyum.
" Imajinasi kamu hanya soal itu saja yah? Setelah kamu mengenal cinta dan merasakan bagaimana indahnya bercinta, kamu akan menulis cerita romantis." kata Zio.
" Dan aku yang akan mengajari kamu bagaimana berciuman dan bercinta itu." kata Zio dengan senyum nakal.
__ADS_1