
Sandriza sudah disibukkan agenda syuting. Bersama Mery lah Sandriza mulai jalan kemana-mana ke lokasi syuting film itu. Handoko benar-benar memberikan fasilitas yang lengkap untuk Sandriza di awal karirnya itu. Mery yang sudah mahir dan lihai dalam menyetir mobil itu, diberi kepercayaan oleh Handoko untuk membawa Sandriza ke lokasi syuting dengan kendaraan beroda empat itu. Sandriza merasa benar-benar berhutang budi dengan andilnya Handoko dalam karier barunya di dunia hiburan itu.
Sebagai artis pendatang baru, Sandriza memang sudah beberapa kali melihat tatapan yang tidak senang dan cemburu dengan artis seniornya. Namun Sandriza tetap bersikap ramah dan tetap berusaha baik kepada siapa pun. Walaupun dirinya adalah orang terdekat dari pengusaha muda yang cukup dikenal memiliki pengaruh dan kekuatan dalam dunia hiburan itu. Seperti saat ini ketika sedang break ada suara- suara sumbang yang sengaja menyindir Sandriza.
" Di zaman sekarang kalau tidak dengan menjual dirinya dan tidur dengan orang penting itu, mana bisa mendadak melejit menjadi artis dan langsung memerankan tokoh utama dalam film. Semua itu pasti barter dengan badannya yang seksi dengan peran utama yang saat ini ia dapatkan." kata Rose seorang artis senior yang kini hanya mendapatkan peran pembantu wanita. Saat ini Rose sedang di ruang make up dan di sebelah nya ada Sandriza juga sedang di make over untuk adegan part pesta.
Sandriza walaupun tersindir namun karena Sandriza tidak merasa melakukan semua itu hanya diam saja. Mery yang ada di sebelah nya hanya melirik ke arah Sandriza.
" Sandriza, mau makan?" tanya Mery sambil berusaha menyuapi Sandriza. Sandriza tersenyum melihat Mery yang penuh perhatian dengan dirinya.
" Aku bisa sendiri, mbak Mery! Nanti saja sebentar lagi ini selesai di make up." sahut Sandriza. Mery hanya tersenyum.
Ponsel Sandriza yang di tas berdering. Mery mulai mengambil ponsel itu yang memang tas dan semuanya dibawa dan dipercayakan oleh Mery.
__ADS_1
" Mas Han telepon, Sandriza!" bisik Mery. Sandriza tersenyum lalu mengulurkan tangannya meminta ponsel nya dari tangan Mery. Sandriza menerima panggilan masuk itu.
" Halo!" sapa Sandriza. Handoko dengan suara khas nya juga memberi salam. Kini panggilan suara itu beralih ke video. Namun Sandriza tidak juga menerima video call itu. Sandriza menolak nya.
" Kenapa ditolak, sayang? Aku pingin lihat wajah kamu yang sedang di make up." protes Handoko.
" Lagi banyak kawan- kawan artis senior, mas! Tidak enak saja loh." ucap Sandriza.
" Tidak apa! Sebentar saja kok. Angkat dulu sebentar yah, aku kangen banget sama kamu. Sudah tiga hari kita tidak ketemuan. Kamu syutingnya di luar kota pula." kata Handoko.
" Cantiknya! Pingin cium kamu deh!" ucap Handoko. Sandriza malah tersipu malu.
" Kamu dimana ini, mas?" tanya Sandriza. Sandriza melihat Handoko sedang tiduran namun menampakkan dada bidangnya namun basah. Sepertinya habis renang.
__ADS_1
" Di rumah mama! Lagi renang nih." jawab Handoko. Sandriza tersenyum.
" Mas, syuting mau di mulai lagi nih. Udahan dulu yah!" kata Sandriza. Handoko akhirnya menyudahi video call nya walaupun dengan berat hati.
Sandriza berjalan menuju ke lokasi syuting diikuti oleh Mery.
" Kamu belum makan loh!" protes Mery. Sandriza malah tersenyum.
" Nanti aja deh! Aku ingin iga bakar setelah ini." kata Sandriza.
" Kalau begitu aku pesankan sekarang juga, biar kamu mau makan. Aku bisa kena marah Mas Han kalau kamu lupa makan." kata Mery. Sandriza merasa beruntung memiliki asisten dan kekasih seperti Handoko yang penuh perhatian.
" Enak yah, kalau mendadak jadi artis karena jual beli dan bisa memuaskan di ranjang gitu?" sindir Rose. Mery tiba-tiba menjadi panas telinga nya. Mery hendak marah dan melabrak artis senior tersenyum namun di cegah oleh Sandriza.
__ADS_1
" Biarkan saja! Jangan diladeni. Biasa dan sangat wajah kalau mereka iri dan cemburu. Mereka melihat semua nya karena mereka melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan semuanya." bisik Sandriza dan berusaha tenang dalam masalah apapun.