PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
JANGAN TINGGALKAN AKU


__ADS_3

Handoko segera turun dari ranjang itu, sampai melupakan dirinya masih dalam keadaan tidak mengenakan pakaian nya. Sandriza semakin gusar melihat pemandangan tersenyum. Nyatanya benar bahwa suaminya telah menikmati malam panjangnya bersama Mery, asisten pribadinya.


Handoko menyambar handuk kimono nya dan serta merta mendekati Sandriza yang masih berdiri mematung karena kedua kakinya seperti tidak mampu melangkah meninggalkan tempat itu. Handoko memeluk Sandriza dalam ketidakberdayaan nya. Jantung nya seperti berhenti berdetak. Kakinya lemas. Ini benar-benar tersulit yang dialami oleh Sandriza.


" Sandriza, sayang! Maafkan aku! Maafkan aku!" kata Handoko masih dengan suara serak bangun tidur ditambah hatinya ikut sedih melihat keadaan Sandriza. Tidak ada air mata yang keluar dari kedua mata Sandriza. Sandriza seperti patung yang diam dan terasa kelu bibirnya setelah teriakan nya tadi. Handoko memeluk Sandriza kuat dan seperti sangat takut akan kehilangan Sandriza, yang baginya adalah Ratunya.


" Sandriza! Jangan tinggalkan aku atas kesalahan ini. Jangan Sandriza!" kata Handoko seperti meratap.


Sandriza tidak bergeming.


" Sandriza, kamu boleh marah! Ucapkan kata kasar dan makian seperti tadi! Aku rela mendengar semua itu, asal kamu jangan meninggalkan aku." ucap Handoko. Mery sangat geram mendengar kata- kata Handoko itu.

__ADS_1


Sandriza mulai mendorong Handoko supaya bisa melepaskan pelukan nya. Mery tersenyum dengan reaksi Sandriza. Sesaat Sandriza menatap tajam bola mata Mery. Mery pura-pura bersalah atas semua yang ia perbuat.


" Aku minta maaf, Sandriza!" kata Mery menunjukkan wajah penyesalan. Sandriza mendengus kesal.


" Dia bilang minta maaf? Dia sengaja memberitahu aku akan hubungan ini. Dia bilang minta maaf?" sahut Sandriza sambil tangan nya menunjuk ke arah Mery. Handoko terkejut bukan main.


" Hah?? Mery, kau!!" teriak Handoko penuh amarah.


Kembali Sandriza menatap Handoko dan Mery saling bergantian.


" Baiklah! Aku tunggu di rumah mama papa. Masalah ini harus segera kita selesai kan." kata Sandriza tegas seraya melangkah keluar dari kamar utama aparat itu.

__ADS_1


" Tunggu Sandriza! Aku ikut dengan kamu!" kata Handoko seraya menyambar jaketnya. Namun Mery menghentikan langkah Handoko.


" Mas Handoko! Tunggu!" teriak Mery. Handoko sesaat menoleh ke arah Mery.


" Apakah tidak lebih baik mas Handoko mandi dan berganti pakaian yang lebih pantas. Apakah mas Handoko mau, papa mama kamu melihat penampilan kamu seperti itu. Ini seperti menunjukkan kalau kamu benar-benar dipergoki oleh Sandriza atas pengkhianatan ini. Apakah kamu mau seperti itu?" ucap Mery. Handoko bergegas menuju kamar mandi dan mengikuti kata Mery. Dalam keadaan apapun, dirinya harus berkepala dingin.


Handoko benar-benar takut jika Sandriza ingin meninggalkan dan minta cerai dengan dirinya.


Di bawah guyuran air shower di kamar mandi itu, Handoko tidak bisa berpikir. Handoko harus mempersiapkan alasan kepada mama papa nya soal masalah ini. Terlebih lagi Handoko harus menghadapi Isa, adiknya yang dahulu sangat menyukai Sandriza. Bahkan Isa, adilnya pun rela menyingkirkan keinginan dan rasa ingin memiliki Sandriza demi kakaknya itu.


" Sandriza, apakah kamu bakal marah dengan aku? Apakah kamu bakal meninggalkan aku setelah pengkhianatan aku ini? Akhhhhhhhhhhhgghhh!!" Handoko benar-benar belum siap jika harus berpisah dengan Sandriza.

__ADS_1


__ADS_2