PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
BELUM MERASAKAN SENDIRI


__ADS_3

" Aku turun di sini saja, kak Zio!" kata Sandriza ketika mobil yang dinaikin Sandriza berhenti di depan pagar besi rumah kediaman tante Melinda.


" Baiklah! Kasih ciuman aku dulu baru kamu bisa turun!" suruh Zio sedikit memaksa.


" Zio! Jangan mulai lagi deh!" sahut Sandriza sangat keberatan jika harus melakukan apa yang disuruh oleh Zio.


Zio tersenyum lalu mendekati Sandriza lalu dengan cepat mengecup dahi dan bibir Sandriza.


" Itu buat kamu supaya mimpi aku malam ini." kata Zio.


" Malam ini aku pasti sulit memejamkan mata." sahut Sandriza.


" Kenapa?" tanya Zio.


" Karena aku menjadi malas jika harus mimpi kamu, kak." kata Sandriza.


" Loh, kok begitu sih?" sahut Zio kecewa.


" Aku takut soalnya." jawab Sandriza.


" Oh, Lama-lama kamu akan menjadi terbiasa." ucap Zio dengan tersenyum.


" Malam ini aku akan menulis cerita." kata Sandriza.

__ADS_1


" Tentang apa, sayang?" tanya Zio penasaran.


" Tentang ciuman pertamaku yang direnggut paksa oleh pacar aku." jawab Sandriza. Zio yang mendengar nya menjadi terkekeh.


" Ya sudah, kak Zio! Bye!" tambah Sandriza lalu keluar dari mobil milik Zio.


" Bye Sandriza!" sahut Zio sambil tersenyum lalu menjalankan mobilnya.


" Hari ini nanggung banget sih! Mana di rumah istri aku lagi tidak ada dan sedang di luar kota." keluh Zio dengan hati kesal.


*******


Sandriza masuk ke rumah itu melalui pintu utama. Tanpa di sadari nya, di ruang tengah masih ada tante Melinda dan Mas Bagas yang duduk di kursi sofa. Entah apa yang sedang mereka obrolkan. Atau apakah mereka sengaja menunggu Sandriza pulang ke rumah?


" Eh, Mas Bagas dan tante Melinda!" sapa Sandriza sambil menjabat tangan keduanya.


" Dari mana kamu?" tanya Mas Bagas lagi dan tante Melinda hanya diam pura-pura sibuk dengan ponselnya.


" Dari jalan sama kawan." jawab Sandriza.


" Kawan atau pacar baru?" tuduh Mas Bagas.


" Eh? Maksudnya pacar baru, mas!" ralat Sandriza. Tante Melinda sesaat jadi menatap Sandriza lalu kembali menatap layar ponselnya.

__ADS_1


" Sama Zio itu yah?" tuduh Bagas. Sandriza mengangguk pelan.


" Kamu jangan berhubungan dengan laki-laki itu lagi! Dia tipe perusak wanita." kata Bagas to the point. Tante Melinda malah menjadi menatap putra nya itu sambil mengerucutkan dahinya.


" Sandriza! Mas tidak rela jika kamu berpacaran dengan yang namanya Zio itu. Mending kamu aku pacarin saja kamu!" kata Mas Bagas tanpa malu didengar mama nya. Tante Melinda malah menahan tawanya.


" Ijin ke kamar dulu, Mas! Tante saya ke kamar dulu tante!" kata Sandriza berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


" Sandriza! Mas Bagas belum selesai bicara!" teriak Bagas yang akhirnya mendapatkan mata mamanya yang melotot tajam kepadanya.


" Bagas! Melinda sudah dewasa loh! Kamu tidak boleh seperti itu. Kamu ini seperti memarahi anak yang masih kecil yang tidak boleh berpacaran." protes tante Melinda.


" Sebenarnya aku tidak suka saja, dengan pria itu. Aku melihat nya seperti kurang menghargai wanita. Matanya liar ketika memandang Sandriza. Aku tidak rela. Aku harus melindungi Sandriza dari laki-laki seperti dia, ma!" kata Bagas kumat jiwa posesif nya.


" Apakah kamu menyukai Sandriza?" tuduh Tante Melinda.


" Aku suka? Yang benar saja, mama ini! Aku hanya ingin melindungi Sandriza dan juga mamaku dari pria- pria nakal yang hanya melihat fisik doang. Sangat bohong jika laki-laki itu bilang sayang, cinta namun hanya ingin mencari kepuasan diri saja." terang Bagas.


" Bagaimana dengan kamu, nak? Apakah kamu bisa menyukai wanita tanpa melihat fisiknya dahulu?" tanya Tante Melinda.


" Aku sih belum ketemu wanita yang aku sukai." sahut Bagas akhirnya.


" Nah, itu dia! Jadi kamu belum bisa merasakan hal itu karena kamu belum ketemu wanita yang bisa membuat jantung kamu berdetak kencang." kata Melinda sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Bagas yang mulai berpikir dan merenungi kata-kata dari mama nya.

__ADS_1


__ADS_2