PELAKOR- PELAKOR

PELAKOR- PELAKOR
MABOK


__ADS_3

Di kafe itulah teman- teman Handoko sudah berkumpul. Mereka sudah menunggu kedatangan Handoko. Lama mereka tidak kumpul- kumpul dan bertemu di acara bebas seperti itu. Mereka adalah komunitas laki-laki super sibuk yang setiap hari bergelut di usaha bisnisnya. Sehingga waktu dan kesempatan seperti inilah sangat dinanti dan dirindukan oleh laki-laki pengusaha itu.


Di sana para cowok- cowok yang berpenampilan mentereng itu sudah dengan pasangan nya masing- masing. Ada yang memang benar-benar dengan kekasihnya, ada yang baru kencan dan memboking malam ini. Bagi mereka uang bisa membayar semua nya. Ketika uang sudah banyak digenggaman, mau menginginkan sesuatu pun seperti menjentikkan jari saja.


Handoko tiba dan masuk ke dalam kafe itu dengan menggandeng Sandriza. Semua mata cowok- cowok itu menatap Sandriza tanpa berkedip. Handoko semakin menggandeng Sandriza seolah-olah ingin menunjukkan kalau Sandriza adalah wanita nya yang tidak boleh diganggu dan digoda oleh siapapun. Handoko mulai bergabung dengan kawan- kawan nya.


" Wah kamu sudah telat lama, kawan! Baiknya kita hukum si Han ini, bagaimana?" usul Boy dengan rekan- rekannya yang lain. Handoko malah menggaruk kepala nya. Sandriza ikut menatap ke arah Handoko yang tidak bisa menolak dari kawan- kawannya yang menyudutkan nya.


" Suruh si Han minum. Karena kita berempat, jadi si Handoko suruh minum sampai empat gelas." usul Roy yang paling heboh.


" Berempat? Bukannya kita delapan orang dengan pasangan kita. Masak kita tidak dihitung dan tidak dianggap ada sih?" protes Rena. Ketiga cewek yang lain membenarkan.

__ADS_1


Handoko semakin tersudutkan.


" Maaf kawan, tadi benar-benar masih ada acara. Jadi datangnya telat." kata Handoko membuat alasan dan berusaha bernegosiasi.


" Kami tidak mau tahu! Sekarang kamu minum!" kata Roy dan keempat cowok yang lainnya tertawa senang.


Akhirnya Handoko mulai menenggang minuman yang disodorkan oleh Roy satu gelas. Satu gelas itu habis sudah. Kini giliran Boy memberikan minuman satu gelas untuk Handoko. Handoko kembali menenggaknya sampai habis. Sandriza menjadi mengkhawatirkan Handoko.


" Tenang saja, aku tidak akan mabok, sayang." ucap Handoko sambil memeluk Sandriza. Yang lain tertawa terbahak- bahak karena si Handoko bisa dikerjain oleh mereka. Kini gelas ke tiga dan ke empat sudah dituang dan tinggal Handoko menenggaknya habis. Handoko kini bersandar di kursi sofa itu. Handoko tetap merangkul Sandriza dengan mesra.


" Kamu tidak apa- apa kan, mas?" tanya Sandriza. Handoko mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


" Kepala aku pusing! Aku ke kamar mandi dulu yah." ucap Handoko. Sandriza tidak ingin melihat Handoko kenapa- kenapa. Sandriza memapahnya. Teman-teman Handoko tertawa senang.


Benar saja, sampai di kamar mandi Handoko memuntahkan isi perutnya. Sandriza menjauh karena baunya begitu menyengat.


" Kita pulang saja, mas!" ajak Sandriza. Handoko tidak enak jika pulang duluan padahal juga baru datang.


" Ayo mas, aku tidak suka tempat ini." kata Sandriza dengan keras. Handoko di papah oleh Sandriza keluar kafe itu. Sedangkan teman-teman Handoko sudah tidak mempedulikan Handoko beserta Sandriza. Mereka sudah sibuk dengan pasangan nya masing-masing dan mulai mencari tempat untuk berduaan.


" Lain kali, kamu tidak perlu mengikuti undangan semacam ini lagi bersama mereka. Mereka tidak ada yang benar." protes Sandriza sambil menuju ke parkiran mobil sambil memapah Handoko yang sudah sempoyongan.


" Kamu bilangnya tidak mabok tapi ini apa?" Sandriza masih saja ngedumel. Handoko kini benar-benar mabok dan memejamkan matanya. Kepala nya berasa berat. Sandriza akhirnya memberanikan diri menjalankan mobil itu pelan- pelan.

__ADS_1


Walaupun sangat lambat Sandriza menjalankan mobilnya, yang penting Sandriza bisa sampai ke apartemen nya. Sampai di depan apartemen, Sandriza menghubungi Mery untuk meminta bantuan untuk sama- sama memapah Handoko yang tinggi besar itu. Sandriza sangat kesulitan jika memapahnya sendiri menuju apartemen.


__ADS_2