
"Sandriza, ke hotel A yah?" tanya Mery.
" Iya, Mr Viktor dan Om Mario sudah menunggu kita di ruang loby hotel." sahut Sandriza. Mery mengangguk mengerti.
@@@@@@@
Di hotel A, Mr Viktor dan Om Mario sudah menunggu kedatangan Sandriza. Di lobby hotel itu, laki-laki dewasa yang cukup mentereng itu sedang berbincang-bincang serius. Sandriza mulai berjalan mendekati mereka yang berjumlah empat orang diantaranya tiga laki-laki dewasa dan satu wanita cantik yang merupakan salah satu aktris papan atas.
Sandriza dan Mery menyapa mereka seraya berjabatan tangan dengan mereka semua. Pandangan acuh dan sombong terlihat dari aktris wanita cantik itu.
" Maaf saya terlambat datang, Mohon sekiranya Dimaklumi." ucap Sandriza seraya menangkup kan kedua tangannya.
__ADS_1
" Seharusnya sebagai seorang aktris pendatang baru harus lebih disiplin dan tahu diri. Apakah pantas seorang produser, sutradara, skenario dan senior menunggu kamu, yang baru saja naik daun karena satu film itu?" sindir wanita cantik yang merupakan aktris senior papan atas. Mr Viktor dan juga om Mario berusaha meredamkan suasana dari ketegangan antara aktris senior itu yang bernama Laila.
" Tidak jadi masalah, Laila! Bukannya kita juga baru saja duduk dan belum membicarakan hal serius tentang kontrak kerjasama itu?" sahut Mr Viktor seraya tersenyum. Sandriza merasakan keteduhan dari sorot mata Mr Viktor yang bersikap ramah terhadap dirinya. Laila semakin tidak suka dengan Sandriza.
" Duduklah, Sandriza! Kita akan mulai dengan pembicaraan kontrak kerja dan juga cerita dari film yang akan segera kita garap." ucap Om Mario. Sandriza dan Mery mulai duduk dengan tenang. Kini Mery selaku asisten Sandriza mulai nimbrung membicarakan masalah yang berkaitan dengan kontrak kerja itu. Kini mereka sudah masuk ke pembahasan yang serius. Sandriza mulai membaca skrip naskah yang disodorkan oleh skenario. Tawaran kali ini Sandriza akan memerankan tokoh utama wanita. Laila yang duduk di sana mulai tidak menyukai Sandriza yang saat ini sedang di atas puncaknya.
Setelah beberapa lama telah mendapatkan kesepakatan, Sandriza mulai menandatangani kontrak kerja itu. Sandriza mengambil posisi sebagai pemeran utama wanita, yang dalam cerita tersebut tidak ada adegan vulgar dan dewasa.
Sandriza bergegas undur diri dari pertemuan yang santai namun sangat penting itu.
" Tentu Mr! Akan saya sampaikan salam nya kepada mas Han." sahut Sandriza sambil tersebut kepada Mr Viktor.
__ADS_1
Sandriza mulai menjauhi lobby hotel itu dan Mery pun mengikuti langkah Sandriza meninggalkan tempat itu.
" Benar-benar tidak tahu malu Si Laila itu. Rasanya aku akan menjambak rambutnya saja. Setelah ini aku rasa dia akan dengan rela hati naik ranjang di tempat tidur nya Mr Viktor supaya bisa memperebutkan posisi kamu." kata Mery.
" Mery! Tapi aku sudah menandatangani kontrak itu dan aku sudah positif memerankan posisi peran utama di film yang akan digarap nanti. Apakah bisa direbut oleh Laila itu?" kata Sandriza.
" Tentu saja, Sandriza! Laila itu wanita yang licik. Dia berani mempertaruhkan harga dirinya supaya bisa mencapai obsesinya." sahut Mery.
" Ah, kita lihat saja nanti Mery! Setelah ini aku bakal kembali sibuk dengan syuting baik di dalam kota maupun luar negeri. Latar dari film itu akan dibuat di luar negeri juga. Bagaimana dengan Handoko? Aku akan meninggalkan dia sendiri di sini." kata Sandriza.
" Itu sudah resiko, Sandriza. Dan maaf Sandriza, jika harus ke luar negeri, sepertinya aku tidak bisa ikut. Sedangkan aku disini juga memegang administrasi di rumah produksi perusahaan milik Mas Handoko juga. Aku takut menjadi terbengkalai." kata Mery.
__ADS_1
" Aku tahu itu! Terserah mas Han nanti, mau kasih aku asisten untuk menggantikan kamu." ucap Sandriza.
" Oh iya Mery! Kita ke kantor mas Handoko." tambah Sandriza kembali. Mery tersenyum sumringah.