
Di tempat lain, Lauren dan Laila sudah merencanakan sesuatu untuk menjebak Sandriza. Setelah rehat seharian syuting film, kedua wanita itu mendekati Sandriza dan berpura-pura manis kepada nya. Lauren dan Laila mengajak Sandriza sekedar makan malam dan minum. Tidak ada penolakan dari Sandriza, toh selama di lokasi syuting kedua wanita itu adalah satu tim dan tidak membuat masalah dengan Sandriza. Bersama Fatika, Sandriza makan malam bersama kedua wanita itu.
Mr Viktor, Om Mario dan anggota yang lain juga mengadakan acara minum bersama. Sudah hampir satu bulan ini mereka benar-benar bekerja keras untuk menyelesaikan film itu lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Para pria- pria itu sengaja membuat pesta kecil-kecilan dengan mendatangkan penari striptis. Beberapa minuman alkohol dengan kadar rendah sampai tinggi sudah penuh berjejer di atas meja. Mereka benar-benar menikmati kebebasan malam ini.
Di tempat lain, Lauren, Laila, Sandriza beserta Fatika telah menyantap makanan dan minuman yang telah dipesankan oleh Laila. Fatika mencium gelagat yang tidak baik dari Lauren dan juga Laila. Namun karena Sandriza bersikap untuk menjaga sikap dan menghilangkan rasa kecurigaan itu, akhirnya Fatika hanya dia menyimpulkan nya sendiri.
" Aduh, jam tanganku di mana yah?" tanya Laila seraya mencari di dalam tasnya. Namun tidak ia temukan.
__ADS_1
" Bukan nya kamu tadi habis dari toilet, Laila! Pasti tertinggal di sana." sahut Lauren. Laila seketika menepuk jidatnya sendiri.
" Oh iya benar! Fatika sayang! Aku boleh minta tolong kepada mu ambilkan jam tanganku, tidak?" kata Laila dengan suara manja nya. Fatika mendengus kesal. Namun Sandriza yang melihat hal itu langsung berkata.
" Fatika! Boleh minta tolong sebentar, jam tangan Laila tertinggal di toilet. Kamu bisa mengambilnya untuk aku tidak?" kata Sandriza.
"Apa yang direncanakan oleh dua wanita ular itu yah?" gumam Fatika sambil mencari jam tangan milik Laila yang dimaksudkan. Laila mulai masuk ke dalam kamar mandi wanita, namun belum juga Fatika temukan. Namun ketika hendak keluar dari toilet wanita itu, pintu kamar mandi seperti dikunci dari luar. Fatika gedor-gedor pintu kamar mandi itu.
__ADS_1
" Sial! Mereka benar-benar licik! Sandriza! Apa yang akan mereka lakukan terhadap Sandriza?" Fatika berteriak keras, namun belum ada seorang pun yang mau membukakan pintu kamar mandi itu. Padahal Fatika yakin, suaranya bisa tembus ke luar karena pengunjung kafe itu sangat ramai.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya pintu kamar mandi itu dibuka oleh petugas. Fatika mendengus kesal. Fatika memaki-maki petugas yang telah membukakan pintu kamar mandi itu.
" Dibayar berapa kamu oleh wanita itu untuk mengunci aku di dalam kamar mandi, hah??" tuduh Fatika. Petugas itu membulat matanya penuh kemarau.
" Jangan asal menuduh non! Aku baru saja masuk kerja." sahut petugas cleaning servis itu. Fatika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kini Fatika kembali teringat Sandriza. Fatika akan menghubungi Sandriza dan memastikan Sandriza baik- baik saja. Namun beberapa kali Fatika menghubungi Sandriza, ponselnya tidak diangkatnya.
__ADS_1
"Aku bisa dibunuh pak Han, jika Sandriza terjadi apa- apa." kata Fatika. Fatika bergegas meninggalkan kafe itu lalu menuju ke tempat penginapan selama mereka berada di negara itu.