
Zio mulai turun dari mobilnya setelah sampai di rumah tante Melinda. Zio mulai masuk gerbang rumah itu dan mendapati Sandriza sudah menunggu nya di teras rumah itu.
" Hai!" sapa Zio kepada Sandriza.
" Hai juga! Kamu nekat malam- malam gini kemari loh!" kata Sandriza.
" Aku kangen kamu! Ini aku bawakan kethoprak untuk kamu." kata Zio sambil menyerahkan bungkusan yang di dalamnya ada dua porsi kethoprak yang ia beli tadi.
" Sebenarnya aku tadi sudah makan sama Mas Bagas. Kamu mau makan? Biar aku ambilkan piring dan sendok nya." kata Sandriza.
" Kalau begitu nanti saja deh!" sahut Zio sambil menyalakan rokok nya.
" Apa mau aku buatin kopi?" tanya Sandriza.
" Kamu bisa?" tanya Zio.
" Bisa!" jawab Sandriza serius.
" Baiklah, kalau begitu kopi hitam saja." ucap Zio sambil tersenyum.
*******
Zio mulai menikmati kopi hitam buatan Sandriza. Rasanya sungguh benar-benar pas di lidahnya. Apakah lantaran hatinya sudah mulai terpesona dan tertarik terhadap Sandriza hingga apapun tentang Sandriza itu akan menjadi lebih enak dan istimewa.
" Bagaimana? Apa ada yang kurang? Aku kan tidak tahu selera kamu kak Zio!" kata Sandriza dengan bicara terlihat manis di mata Zio.
" Ini kopinya sungguh mantap. Sudah cocok di lidah aku." kata Zio.
" Benarkah?" tanya Sandriza sambil membulat bola. matanya jadi terlihat sangat imut di mata Zio.
" Oh iya, tante Melinda ada di rumah?" tanya Zio.
__ADS_1
" Belum pulang!" jawab Sandriza singkat.
" Oh!" sahut Zio sambil tetap menikmati kopi buatan Sandriza.
" Apakah tante Melinda masih bersama tuan Koko?" tanya Sandriza pelan.
" Aku rasa, iya!"jawab Zio.
" Tapi besok aku disuruh menjumpainya di salah satu hotel ternama di kota ini." cerita Zio jujur kepada Sandriza.
" Apakah Tuan Koko masih mempunyai istri? Maksud aku, Tuan Koko masih memiliki keluarga yang lengkap?" tanya Sandriza mulai meng hibah.
" Iya! Orang kaya mah bebas!" ucap Zio sambil tersenyum.
" Apakah kamu tidak kaya, Kak?" tanya Sandriza asal.
" Aku hanya asisten tuan Koko. Jadi aku ini masih punya pimpinan. Jadi belum termasuk kategori kaya bukan?" kata Zio.
" Iya sih!" sahut Zio.
" Apakah nanti kalau kak Zio kaya raya akan seperti tuan Koko? Maksudnya berkhianat dengan istrinya." kata Sandriza.
" Saat ini aku masih bujang dan belum menikah. Jadi aku masih berhak menentukan pilihan bukan?" kata Zio penuh dengan kebohongan.
" Jadi, kak Zio sudah memiliki calon istri? Maksudnya kekasih?" tanya Sandriza.
" Belum! Masih tahap pendekatan ke kamu. Mana tahu kamu mau menjadi kekasih aku." jawab Zio langsung apa yang dia mau terhadap Sandriza.
Tampaknya Sandriza kena perangkap dari kata- kata Zio.
" Kak Zio selalu bercanda." sahut Sandriza malu- malu.
__ADS_1
" Aku serius nih! Aku tidak akan kemari kalau tidak sedang mendekati kamu, bukan? Kamu sudah punya pacar belum?" tanya Zio to the point.
" Aku sih belum, kak! Tapi buru- buru banget kakak bilang gitu ke aku." kata Sandriza mulai berdetak jantungnya.
Zio menatap Sandriza hingga Sandriza salah tingkah. Menatap wajah polos Sandriza yang tidak pernah kena rayuan maut seorang laki-laki.
" Jadi mau tidak, pacaran dengan aku?" tanya Zio lagi tanpa ragu.
" Harus dijawab sekarang yah?" tanya Sandriza.
" Iya! Ngapain juga ditunda-tunda kalau kamu juga tertarik dengan aku." kata Zio sambil tersenyum.
Dalam hati sudah mulai bahagia karena begitu mudahnya Sandriza membuka hatinya padanya.
" Tapi, aku belum pernah pacaran." kata Sandriza.
" Hah? Kamu bohong banget! Gadis secantik kamu masak tidak pernah berpacaran." sahut Zio sambil menggeser kursinya lebih dekat ke kursi Sandriza.
" Benar kok! Ayah dan ibu aku dulu masih melarang aku berpacaran. Sampai sekarang aku juga tidak pernah didekati seorang pria." cerita Sandriza.
" Benarkah? Jadi aku perdana nih, yang menginginkan kamu menjadi pacar kamu?" tanya Zio.
" Benar!" jawab Sandriza.
" Ya sudah! Aku diterima tidak, jadi pacar kamu?" tanya Zio lagi sambil memegang pergelangan tangan Sandriza. Sandriza langsung merasakan aliran darahnya mulai memanas. Ini aneh pikir Sandriza.
Sandriza akhirnya menganggukkan Kepala nya pelan.
" Kamu menerima aku? Syukur lah! Aku senang sekali Sandriza! Besok malam minggu kita mulai kencan pertama kita yah? Setelah aku ada sedikit urusan bersama Tuan Koko." kata Zio.
" Baiklah!" sahut Sandriza tersenyum manis.
__ADS_1