
" Mana bagusnya sajalah! Intinya aku memerankan apa saja, siap kok! Lagi pula aku sudah lama tidak gabung di teater, nanti bisa kaku cara akting aku." kata Sandriza merendah.
" Kamu punya bakat akting, Sandriza! Lama tidak latihan pun, masih bisa dengan cepat menguasai peran. Aku sangat yakin itu!" nilai Isa.
" Terimakasih atas penilaian dan kepercayaan nya! Aku ngikut saja lah!" kata Sandriza.
" Nah, akhirnya lega rasa hati aku. Soalnya pertunjukkan teater ini nanti akan diliput secara live oleh stasiun televisi." cerita Isa bersemangat.
" Apa? Waduh! Aku nanti grogi loh Isa!" sahut Sandriza.
" Weleh kamu suka sekali merendah! Setelah ini kita akan rajin latihan bukan? Dan awas saja kalau kamu tidak disiplin. Aku akan selalu menjemput kamu kalau latihan teater!" kata Isa.
" Soal itu jangan repot- repot Isa!" sahut Sandriza.
" Baiklah! Ayo antar aku pulang!" kata Sandriza akhirnya.
__ADS_1
*******
Sandriza sudah tiba di depan rumahnya. Isa mengantarkannya sampai pintu gerbang karena Sandriza tidak mengijinkannya Isa masuk. Sandriza tentu saja takut jika Bagas banyak bertanya dan tatapan membunuh bisa keluar dari mata Bagas jika Sandriza di dekati oleh para cowok- cowok. Apalagi cowok keren seperti Isa.
" Kamu dari mana, kok baru pulang sampai malam begini sih?" tanya Bagas ketika Sandriza sudah masuk menuju pintu utama dan di sanalah Bagas menunggu kepulangan Sandriza dengan se berondong pertanyaan.
" Eh mas Bagas! Aku terkejut!" canda Sandriza sambi mendudukkan pantatnya di kursi ruangan tengah itu.
" Terkejut! Terkejut! Memangnya aku hantu?" sahut Bagas.
" Setelah dari kantor, aku langsung ke sanggar mas. Ada rapat pembentukan panitia pelaksana pertunjukan pentas teater bulan depan. Dan penentuan orang-orang yang akan memerankan tokoh dalam cerita yang akan diangkat dalam pertunjukan nanti." cerita Sandriza.
" Kamu ini malah tertawa." tambah Bagas sambil maju mulutnya.
" Sudah belum ngomel-ngomel nya mas? Aku mau masuk kamar nih?" kata Sandriza yang dengan cepat berdirinya hendak masuk kamarnya.
__ADS_1
" Setelah di sanggar tadi kemana?" tanya Bagas yang membuat Sandriza membulat bola matanya.
" Biasa saja bola matanya itu! Awas nanti lepas!" tambah Bagas dengan senyum jahilnya.
" Kami beli mie ayam bakso, mas!" jawab Sandriza jujur.
" Sama laki-laki yang naik motor ninja itu, yah! Tidak ada ganteng- ganteng nya seperti aku. Ganteng juga aku jauh!" ucap Bagas dan kembali Sandriza menjadi terkekeh dibuatnya.
" Iyalah, mas Bagas gitu loh!" sahut Sandriza membuat Bagas sedikit melambung ke awan.
" Besok- besok kalau latihan ke sanggar bilang! Aku yang akan antar kamu dan aku juga yang akan menjemput kamu." kata Bagas dengan mendelik matanya. Sampai hanya mengerutkan dahinya.
" Iya, mas Bagas yang ganteng sendiri di rumah ini." kata Sandriza tidak mau ribut dan panjang lebar. Sandriza secepatnya melesat masuk ke dalam kamarnya.
" Hai! Setelah kamu berganti pakaian, temani aku makan malam." teriak Bagas kepada Sandriza sebelum menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
" Mau makan dimana, Mas?" tanya Sandriza sambile menengok dan ikut berteriak.
" Makan di rumah ajalah!" jawab Bagas lalu berjalan menuju ruang makan.