
" Isa! Kamu terlalu kuat mencengkram tangan aku!" kata Sandriza. Isa melepaskan tangannya yang menarik Sandriza dari dalam ruangan sanggar sampai ke depan parkiran. Sandriza menarik nafas lega.
Sandriza mulai mencari keberadaan Mas Handoko yang dibilang Isa sudah menunggu mereka di parkiran. Namun kenyataan nya Mas Handoko belum terlihat batang hidungnya dan mobilnya pun belum terparkir di sana. Isa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Dimana Mas Handoko? Katanya sudah menunggu kita?" tanya Sandriza. Isa kini malah duduk di kursi taman.
" Duduklah! Kita tunggu Mas Handoko disini." suruh Isa sembari menepuk bangku kayu panjang yang masih kosong di samping nya. Sandriza akhirnya ikut duduk mengikuti kata- kata Isa.
Kini Isa mulai mempersiapkan diri untuk mengungkapkan perasaan nya. Dia tidak mau didahului oleh laki-laki lain yang saat ini mendekati Sandriza. Bahkan yang ia lihat, laki-laki yang berusaha mendekati Sandriza banyak. Bukan hanya Gagah, dan juga kakaknya, Mas Handoko. Pantas saja jika Mas Bagas selalu menjaga Sandriza dari ulat- ulat bulu yang lebih gatal di pohon, yaitu laki-laki yang modus dan berusaha meraih hati Sandriza.
" Sandriza!" panggil Isa mulai memberanikan diri untuk bicara.
" Iya, ada apa Isa?" sahut Sandriza masih kalem. Isa kembali menarik nafas dalam- dalam.
" Kamu belum punya pacar kan? Maksud aku, saat ini kamu masih sendiri kan?" tanya Isa. Sandriza mengerutkan dahinya.
" Kenapa?" sahut Sandriza.
" Jawab saja pertanyaan aku." kata Isa masih ingin melanjutkan tujuannya ingin menembak Sandriza.
" Belum sih!" kata Sandriza. Isa kembali bernafas lega.
" Kita pacaran yuk!" ucap Isa langsung ke sasarannya. Sandriza malah terkekeh. Isa jadi sewot.
" Sandriza! Aku serius. Kamu malah mentertawakan aku sih?" sahut Isa.
" Habis kamu lucu sih." ucap Sandriza. Isa malah semakin sewot.
" Oke, oke. Kenapa ngajak pacaran dengan aku?" ucap Sandriza akhirnya.
" Karena aku menyukai kamu. Lagi pula aku tidak rela jika laki-laki lain berusaha mendekati kamu. Aku cemburu, Sandriza. Apalagi Gagah tadi terang- terangan mendekati kamu dan minta foto berdua dengan kamu." kata Isa seperti anak kecil. Sandriza semakin terkekeh. Isa malah semakin jengkel melihat reaksi Sandriza yang seperti nya tidak serius menanggapi dirinya ketika mengatakan suka pada nya dan mengajaknya menjadi pacar.
" Sandriza!" panggil Isa lagi. Sandriza masih terkekeh.
Isa merasa tidak dihargai oleh Sandriza. Isa berjalan meninggalkan Sandriza yang masih terkekeh.
" Eh, Isa! Tunggu, kamu mau kemana?" Sandriza mengejar Isa. Isa masih tetap berjalan.
" Aduh begitu saja ngambek loh!" kata Sandriza kini berusaha mengganggu Isa karena sudah marah dengan nya.
" Isa, dengarkan aku!" ucap Sandriza sambil menahan lengan Isa supaya menghentikan langkah nya. Isa sesaat melihat wajah Sandriza.
" Isa! Apakah kamu ingin melindungi aku? Apakah kamu selalu mengkhawatirkan aku?" tanya Sandriza kepada Isa. Isa mengangguk pelan seperti anak-anak.
__ADS_1
" Nah, kita akan sering bersama walaupun tidak sedang berpacaran. Kita akan menjadi sahabat. Ini lebih mengasikkan dibandingkan kita berpacaran." kata Sandriza. Isa menggeleng cepat.
" Isa! Aku nyaman ketika bersama dengan kamu. Kamu baik dan perhatian kepada aku. Namun aku mau kita selalu seperti ini, berteman saja." kata Sandriza lagi.
" Tidak Sandriza! Aku ingin lebih dari ini. Aku ingin kamu menjadi pacar dan juga kekasih aku. Kelak aku ingin, kamu menjadi istriku dan ibu dari anak-anak aku nanti." ucap Isa serius. Sandriza rasanya ingin tertawa. Namun kali ini Sandriza berusaha menahan tawanya karena bagi Isa ini sangat serius menyangkut perasaannya. Sesungguhnya Sandriza hanya menganggap Isa sebagai teman atau sahabat, tidak lebih dari itu. Tidak ada rasa yang aneh di dalam hatinya.
" Sandriza! Jawab pertanyaan aku kali ini. Kamu mau menerima aku sebagai pacar kamu atau tidak?" kembali Isa menegaskan.
" Isa! Bolehkah aku menganggap kamu sebagai teman atau sahabat aku?" jawab Sandriza tidak ingin membuat Isa kecewa. Namun sehalus apapun bahasa Sandriza itu adalah penolakan kalau dirinya tidak mau diajak berpacaran dengan nya.
" Kenapa? Apakah kamu sudah menyukai laki-laki lain? Kamu menyukai Gagah atau mungkin Mas Handoko?" sahut Isa. Sandriza terkejut. Sandriza menarik nafas dalam- dalam dan berusaha tenang.
" Isa, aku baru saja putus cinta. Kamu tahu? Tidak mudah untuk mencintai seseorang. Ini perlu waktu ndan proses." kata Sandriza akhirnya. Isa sesaat menjadi melunak.
" Jadi, masih ada kesempatan dan peluang bagi aku kan untuk menjadi kekasih kamu?" sahut Isa masih berusaha mendesak Sandriza.
" Kalau itu aku tidak janji! Aku hanya ingin, antara aku dan kamu selalu bersahabat dan tanpa ada embel-embel yang lain nya." kata Sandriza.
" Sandriza! Tidak bisakah hati kamu melunak untuk aku?" desak Isa. Sandriza mulai bingung harus bilang apa lagi dengan Isa supaya Isa memahami perasaan nya.
" Isa! Aku mau aku dan kamu berteman." sahut Sandriza akhirnya.
" Baiklah! Maaf aku sedikit memaksa kamu dalam hal ini. Tapi percayalah aku benar-benar menyukai kamu. Sungguh!" kata Isa lagi. Sandriza kini menatap manik mata Isa yang serius dan tidak ada kebohongan di sana.
Cahaya lampu mobil mulai menerangi keduanya. Isa dan Sandriza masih berdiri mematung di sana. Mobil Handoyo itu berhentilah di depan mereka berdua.
" Maaf terlambat!" kata Handoko dengan suara yang keras. Isa mulai masuk ke dalam mobil Handoko dengan wajah yang muram.
" Ayo Sandriza, masuk!" suruh Handoko. Sandriza masih saja berdiri saja. Sandriza ragu- ragu untuk ikutan masuk ke dalam mobil mereka.
Handoko akhirnya turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Sandriza. Sandriza tidak bisa menolak nya.
Handoko mulai curiga akan raut wajah Isa yang seperti kertas kusut. Sedangkan Sandriza tidak seceria biasanya.
" Kalian kenapa sih? Ada masalah? Maaf, aku datang terlambat. Tadi terlalu asyik ngobrol nya dengan kolega jadi sampai lupa waktu. Kalian marah dengan aku yah?" kata Handoko berusaha menebak-nebak. Namun keduanya masih diam membisu.
" Ya sudah, bagaimana kalau kita makan yuk! Aku traktir deh! Mau makan apa kalian? Kalian pasti capek latihan kan?" ucap Handoko berusaha membuat keduanya ceria. Namun masih tidak ada yang berubah diantara keduanya.
" Mereka kenapa sih? Ini aneh loh! Apalagi Isa. Isa tidak biasanya menunjukkan sikap diamnya seperti itu. Kalau dia marah atau gak suka dengan aku, kang ngomel atau protes. Ini diam saja." pikir Handoko.
" Mas Handoko! Langsung antar pulang ke rumah aku bisa kan? Mas Bagas sudah nanyain nih?" ucap Sandriza tanpa basa- basi.
" Tidak makan dulu?" tanya Handoko.
__ADS_1
" Tidak usah mas! Masih kenyang. Kenyang berdebat." kata Sandriza pelan. Isa mendengus kesal.
*******
Setelah mengantarkan Sandriza. Handoko mulai menyelidik permasalahan yang terjadi diantara mereka berdua.
" Kalian ada masalah? Kalian berantem?" tuduh Handoko. Isa masih diam belum mau ngomong.
" Ayolah, dik! Katakan sama mas, mana tahu mas bisa membantu kamu." kata Handoko lagi.
" Mas Handoko tidak akan bisa membantu aku dalam masalah ini. Yang ada Mas Handoko akan mentertawakan aku." kata Isa.
" Ada apa sih ini?" sahut Handoko. Isa mulai mengusap wajahnya sendiri karena jengkel.
" Sandriza menolak aku untuk menjadi pacar aku." ucap Isa. Handoko seketika terkekeh.
" Benar bukan? Kalian sama saja. Kalian menertawakan aku ketika aku mengungkapkan perasaan aku.Sandriza dan juga Mas Handoko. Apakah aku lucu jika bilang menyukai Sandriza?" kata Isa. Kini Handoko terdiam menghentikan tawanya.
" Lalu? Apa kata Sandriza?" tanya Handoko.
" Dia bilang ingin nya berteman saja. Namun aku berusaha mendesaknya supaya menerima aku sebagai pacar nya. Namun Sandriza tetap menginginkan aku dan dia berteman saja." kata Isa.
" Kamu terlalu berburu- buru dik. Kamu main tembak saja loh." protes Handoko.
" Aku takut mas. Nanti mas Handoko dan Gagah lebih duluan nembak Sandriza." sahut Isa. Kembali Handoko tertawa. Kali ini tertawa nya lebih lepas. Isa memukul lengan kakaknya itu kuat.
" Aduh! Sakit dik!" sahut Handoko.
" Kalau begini, aku mengaku kalah deh. Susah mengambil hati Sandriza. Semoga Mas Handoko bisa mencuri hati Sandriza. Aku harap, Sandriza menyukai Mas Handoko." ucap Isa. Handoko mengerutkan dahinya.
" Kamu ini aneh! Mengaku kalah duluan sebelum berperang." sahut Handoko.
" Ini sudah sangat jelas Mas. Aku sudah ditolak oleh Sandriza. Sekarang aku mendukung Mas Handoko saja deh." kata Isa akhirnya.
Handoko diam sesekali melirik ke arah adiknya yang lagi patah hati itu.
" Rasa suka dan cinta tidak bisa dipaksakan. Semua perlu proses. Dan waktu akan menjawab nya." kata Handoko. Isa membenarkan apa kata kakaknya itu.
" Makan sate kambing yuk dik!" ajak Handoko. Isa masih diam.
" Makan dulu, biar kuat menghadapi kenyataan kalau ditolak cinta nya." sindir Handoko lalu menghentikan mobilnya.
Kini Handoko turun dari mobilnya diikuti oleh isa ke warung sate kambing yang ada dipinggir jalan.
__ADS_1
" Sudah! Nanti kamu akan menemukan Sandriza yang lainnya lagi. Semangat dong!" kata Handoko. Isa mulai memaksakan diri untuk tersenyum.