
Lauren menatap Sandriza dengan tatapan penuh selidik. Bagaimana bisa Lauren kehilangan bukti- bukti untuk menghancurkan Sandriza. Kamera yang sudah dipasang di kamar hotel itu hilang. Rencananya benar-benar gagal. Laila yang mengetahui hal itu ikut kesal. Sandriza cuek saja dengan sikap sok manis yang dibuat- buat oleh Laila dan Lauren. Sandriza lebih memilih diam dan tidak ingin membuat keributan. Toh mereka tidak mengantongi semua foto dan video Sandriza yang sedang berpakaian seksi dan bersikap liar.
" Fatika, tolong ambilkan vitamin C di dalam tas perlengkapan." kata Sandriza. Fatika secepatnya mengambil barang yang diminta Sandriza.
" Dua wanita itu seperti tidak pernah melakukan tindakan jahat kepada kita. Mereka pura-pura manis di depan Mr Viktor dan semua kru di sini. Benar-benar menyebalkan sekali." omel Fatika sambil memberikan Vitamin C kepada Sandriza.
" Kamu tahu, ketika aku disuruhnya ambil jam tangan milik Lauren, aku di kuncinya dari luar. Satu jam aku di dalam toilet itu. Teriak- teriak dan gedor pintu, tidak ada satupun yang membuka nya. Hingga beberapa saat baru di buka pintu nya. Itupun aku sudah tidak menemukan keberadaan kamu." cerita Fatika. Sandriza mendengus kesal.
" Mereka sungguh-sungguh keterlaluan. Mereka telah menawarkan aku pada laki-laki hidung belang. Untung saja, Mas Bagas yang memboking aku. Jika laki-laki lain, aku tidak bisa berbicara lagi soal ini. Akan aku cincang- cincang tubuh mereka jika sudah menghancurkan aku." kata Sandriza. Fatika meringis mendengar Sandriza bisa kesal dan se marah itu.
" Mas Bagas? Jadi, selama ini dia suka...." sahut Fatika namun kalimat nya tidak berani ia lanjutkan.
Sandriza mengernyitkan dahinya.
"Aku sih tidak yakin jika Mas Bagas suka memboking wanita-wanita cantik. Nyatanya dia tidak mau memanfaatkan situasi itu dengan menyentuh aku. Ah Fatika, betapa aku sangat malu jika mengingat hal itu. Aku pasti sangat menjijikkan dan merendahkan harga diriku karena pengaruh obat yang disuntik kan ke dalam tubuhku. Dan juga minuman atau makanan yang aku makan ketika di kafe itu." kata Sandriza panjang lebar.
" Nanti malam aku akan mendesak mas Bagas, soal hal ini. Apakah selama ini mas Bagas suka jajan?" tambah Sandriza.
" No Sandriza! Jangan, itu adalah privasi masing-masing orang. Kamu tidak boleh mendikte mas Bagas mu itu. Memangnya kamu siapa nya mas Bagas, hah?" kata Fatika. Sandriza menutup mulutnya sendiri.
__ADS_1
" Aku adik angkat nya!" sahut Sandriza.
" Adik angkat yang diam- diam disukai oleh kakak angkat nya." ucap Fatika. Sandriza membulat matanya.
" Ah Fatika, aku jadi kasihan dengan mas Bagas. Dia rela memupus perasaannya demi kebahagiaan aku." kata Sandriza.
" Itulah namanya cinta. Cinta tidak harus memiliki." sahut Sandriza.
" Sudah hampir satu bulan, Mas Han belum mendatangi aku. Apakah mas Han sangat sibuk?" tanya Sandriza.
" Sudahlah, jangan mencari kesalahan suami kamu. Sebentar lagi, syuting film ini akan usai. Ini lebih cepat dari prediksi. Setelah ini tinggal sesi pemotretan untuk promosi film. Dan itu akan dilakukan di dalam negeri." jelas Fatika.
" Kata om sutradara tinggal 10 adegan dan 2 adegan lagi yang harus di ulang." jawab Fatika.
" Dua adegan diulang? Adegan yang mana, semoga bukan aku yang mainkan." sahut Sandriza.
" Percaya diri sekali kamu! Dua adegan ini untuk kamu dan Marco." ucap Fatika.
" Aku dengan Marco? Adegan yang mana?" tanya Sandriza.
__ADS_1
" Sebenarnya ini adegan tambahan untuk kamu dan Marco." ucap Fatika. Sandriza mengernyitkan dahinya.
" Apa? Adegan seperti apa itu?" tanya Sandriza.
" Adegan kamu dan Marco berciuman. Part ini belum kalian ambil." kata Fatika menahan tawanya.
" Tidak ada adegan ciuman di skenario, Fatika! Aku bisa dibunuh Mas Han, jika mengambil adegan romantis seperti itu." kata Sandriza.
" Gampang, nanti bisa diatur! Kalian tidak benar-benar berciuman kok." kata Fatika.
" Semoga saja Marco mau diajak bekerjasama. Dia tipe yang totalitas jika beranting. Aku takut jika dia benar-benar menghendaki adegan ciuman dengan nyata." ucap Sandriza dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Sudahlah, nanti bisa kita bicarakan dengan om Sutradara. Oh iya, Sandriza! Sudah waktunya kamu syuting lagi." kata Fatika. Sandriza keluar dari ruang make up dan masuk ke lokasi syuting melewati Lauren dan Laila yang duduk bersama Mr Viktor di ruang istirahat.
@@@@@@@
" Di mana pak Han? Baiklah, saya akan menjemput Pak Han di bandara." kata Fatika sambil menutup panggilan masuk dari bos nya, Handoko.
" Pria ini selalu bisa membuat Sandriza seperti seorang putri. Masalah kemarin jangan sampai pak Han tahu. Kalau tahu, bisa hancur hubungan antara Mas Bagas dengan Pak Han. Walaupun semuanya berawal dari kelakuan Lauren dan juga Laila." pikir Fatika.
__ADS_1