
" Di mana kalian tinggal selama ini?" tanya Handoko.
" Kami di penginapan yang sudah disiapkan oleh pihak management. Tapi beberapa hari ini Sandriza tinggal di rumah mas Bagas." jelas Fatika.
" Bagas di sini?" tanya Handoko.
" Benar pak Han, mas Bagas ada urusan bisnis di negara ini." terang Fatika.
" Baiklah, kamu bisa pergi! Jangan bilang kalau Sandriza kalau aku sudah tiba di sini. Aku ingin memberikan kejutan padanya." ucap Handoko sambil meminum wine di gelasnya. Fatika keluar dari ruangan itu. Ruangan kamar hotel dengan fasilitas yang mewah. Namun sebelum Fatika keluar dari pintu kamar itu, Handoko memanggilnya.
" Fatika! Kirim lokasi di mana Sandriza sedang syuting film, biar aku yang akan ke sana dan memberikan kejutan itu kepada Sandriza." kata Handoko. Fatika tersenyum mendengar nya.
" Baik Pak Han! Akan saya kirim lokasi syuting film itu." sahut Fatika dengan hormat.
__ADS_1
@@@@@@@
Di lokasi syuting.
" Ayolah, Sandriza! Apa susahnya melakukan adegan ciuman itu dengan aku? Aku pria yang tampan dan sangat suka kebersihan. Aku juga akan pilih- pilih dengan lawan main ku untuk memerankan adegan romantis seperti ini. Kamu beruntung, aku memilih kamu untuk menjadi partner dalam film ini. Kamu menjadi kekasih aku. Buat senatural mungkin. Oke?" ucap Marco panjang lebar. Beberapa kali pengambilan adegan ciuman itu, Sandriza sangat kaku melakukan nya dengan Marco. Hal itu semakin membuat geregetan kru dan Marco itu sendiri.
Om Mario mendekati Sandriza dan membisikkan sesuatu.
" Sandriza, anggap saja kamu berciuman dengan suami kamu, Handoko. Oke?" bisik Om Mario. Sandriza mengerucut bibirnya. Marco menjadi gemas.
Setelah Mario meneriakkan 'action!' itu dengan keras, Sandriza dan Marco benar-benar melakukan ciuman itu. Marco mulai ganas mencium Sandriza dan sesekali nakal menggigit bibir Sandriza dengan gemas. Sandriza yang tahu kalau Marco sedang membuatnya marah, Sandriza membalas ciuman itu dengan liar dan benar-benar menggigit nya. Marco menahan semua itu supaya adegan itu benar-benar natural. Walaupun Marco tiba-tiba menahan gejolak nya dan tiba-tiba bagian bawah miliknya benar-benar menegang, namun Marco harus tetap profesional melakukan adegan ciuman itu. Sampai akhirnya sang Sutradara menyudahi adegan itu dengan tepukan tangan yang nyaring.
" Sempurna! Kalian benar-benar melakukan itu seperti nyata." ucap Om Mario. Sandriza meringis menahan pedih di. mulutnya. Apalagi Marco demikian halnya. Mario yang melihat keduanya menjadi tertawa terbahak- bahak.
__ADS_1
" Kamu menggigit nya?" tanya Om Mario kepada Sandriza.
" Marco yang mulainya, Om!" sahut Sandriza. Marco melotot tajam.
" Ganas sekali wanita ini. Aku tidak bisa membayangkan jika sudah di atas ranjang." ucap Marco. Spontan saja Marco di pukul Kepala nya oleh Sandriza dengan botol minuman. Marco semakin tertawa meledek Sandriza.
Di kejauhan ada pasang mata yang melihat kejadian itu dengan kemarahan dan juga kecemburuan. Namun karena kerinduan yang membuncah dan tidak ingin mempermasalahkan semua itu, akhirnya hanya menarik nafasnya supaya lebih memaklumi dunia akting itu. Seseorang yang memiliki pasang mata itu adalah Handoko. Kini Handoko mendekati Om Maria, Sandriza dan juga Marco.
" Hai!" sapa Handoko seraya membuka kaca mata hitam yang dipakai nya. Sandriza seketika terkejut dengan keberadaan Handoko di dekat nya. Sandriza menghambur ke arah Handoko lalu memeluknya. Mario dan Marco menelan ludahnya sendiri melihat kemesraan suami istri. Kini giliran Handoko melakukan ciuman panas itu di depan mereka. Seketika mereka menutup mata mereka tidak ingin melihat nya. Sampai akhirnya Sandriza mendorong pelan Handoko karena sengaja melakukan hal itu.
" Apakah kamu cemburu, Han? Kamu sengaja mencium istri kamu di depan kami semua karena kamu melihat adegan terakhir tadi?" tuduh Mario yang merupakan sahabat dekat Handoko.
" Bukannya aku sudah bilang? Aku tidak ijinkan istri aku melakukan adegan ciuman pada laki-laki siapa pun. Kenapa kamu membiarkan istri aku berciuman, hah?" protes Handoko. Om Mario hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Ayo sayang! Aku akan menghukum kamu!" ucap Handoko seraya menarik tangan Sandriza menuju ke mobilnya.