
Dan tim sibuk benar-benar membuat hal tak terpikir oleh pasangan yang akan menikah hari itu.
Dinda membawa Alia untuk fitting baju di butiknya. Dinda punya beberapa koleksi baju pengantin yang mungkin saja ada yang cocok di tubuh Alia.
"Ayo, Alia coba yang ini juga.. semua harus kamu coba, oke.." seru Dinda bersemangat dengan mengeluarkan beberapa koleksi baju terbaik yang dari butiknya.
Alia hanya bisa terbengong dengan melihat beberapa baju kebaya yang sudah di tumpukan dihadapannya.
"Hmm.." Alia tampak bingung melihat semua hal itu, ia masih ragu dan tak yakin.
"Ayo, pilihan saja Alia.. semua ini ukuran S fit to M.." jelas Dinda.
Alia masih ragu-ragu.
Hingga terlihat satu kebaya yang sedikit simpel dengan potongan yang manis di bagian dada dan punggung.
"Mau yang itu?" tanya Dinda.
"Hm.." sahut Alia pelan.
"Oke, baiklah.. mbak Nopa tolongin!!" perintah Dinda cepat pada salah satu asistennya untuk membantu Alia.
Dan Alia pun di bawa ke salah satu ruang pas di butik Dinda.
Terlihat ibu Topan duduk tenang dengan melihat sekeliling butik yang begitu bagus dan mewah. Seorang asisten Dinda datang mendekat pada ibu Topan dan memberikannya sebuah minuman.
"Ayo, di minum dulu.." tawar mbak Feli ramah.
Namun ibu Topan tak merespon, ia masih terkaguma pada ruangan putih dengan banyaknya gaun-gaun terpajang rapi di rak estales.
Dinda mendekat dan memberi kode pada Feli agar tidak mengusik ketenangan wanita tua itu.
Tak beberapa lama, Alia keluar dengan telah berganti mengenakan kebaya pilihannya tadi.
Wajah Dinda terkagum.
"Wah.." decak Dinda spontan. "Ini pas sekali sama kamu, Alia.."
Alia sedikit tersipu malu.
"Apa tidak berlebihan mbak??"
"Enggak.. enggak sama sekali" sahut Dinda sembari mendekat pada Alia dan memegang lengan juga pinggang Alia yang masih ramping.
"Bagus sekali" puji Dinda.
Alia pun ikut terkagum akan kebaya yang ia kenakan bisa sangat pas di tubuhnya, seolah kebaya ini adalah miliknya.
"Syukurlah, ternyata ada yang cocok sama kamu, Alia.. aku sempat khawatir jika kebaya-kebaya ini tidak cocok dan harus banyak perbaiki.. karena waktu tidak banyak lagi"
"Tapi, mbak.. Alia merasa tidak enak, karena.."
Dinda langsung menggeleng dan kedua tangan memegang bahu Alia.
"Dengar Alia, aku tau kisah kalian tidaklah mudah, jadi izinkan kau menyempurnakan sedikit saja moment bahagia kalian.. tolong Alia, aku sangat ingin menbuat kamu terlihat cantik di hari bahagia mu" pinta Dinda tulus.
Alia tertegun.
"Kenapa mbak begitu baik??"
Dinda terpaku. Lalu seketika tersenyum simpul.
"Karena, aku tidak punya waktu untuk berbuat jahat" jawab Dinda yang terdengar klise. " Hidupku ini hanya pinjaman yang sewaktu-waktu aku harus kembalikan, karena itu.. aku ingin menbuat orang-orang yang aku rasa pantas untuk merasakan bahagia dengan sedikit karya yang aku punya.."
Alia diam dengan ucapan ambigu sang teman.
"Kau benar-benar cantik Alia, seperti sifat yang terpancar dari auramu.. kamu benar-benar membuat pak Topan jatuh cinta karena sifat lembutmu.." tutur Dinda memuji.
Sesaat Dinda bernelangsa.
"Aku pernah dengar dari Johan, di antara banyak staffnya.. ia paling pusing dengan pak Topan, sifatnya yang tegas dan keras kepala sungguh membuat Johan susah untuk mengatur pak Topan.." ujar Dinda. " Tapi, suatu hari tak terduga pak Topan datang dan meminta ijin untuk bisa bekerja sembari menbawa ibunya, di saat itulah Johan berubah pandangan akan sosok pak Topan.."
Alia mendengar dengan seksama.
"Johan iri pada berbaktinya Topan pada sang ibu, yang Johan sendiri tak bisa melakukannya dengan terang-terangan.."
"Di dunia ini, mungkin sedikit pria dengan sifat spesial seperti pak Topan.. sehingga ketika aku mendengar jika kamu akan menikah dengan Topan, seketika aku merasa lega yang luar biasa.." tutur Dinda jujur.
Dinda menatap Alia lekat.
"Aku sangat berharap, aku tidak melihat kamu menangis lagi Alia.. pak Topan pasti akan bisa membuat kamu bahagia dengan sifat terlembutnya.."
Alia tersenyum penuh arti.
"Berbahagialah Alia, lupakan semua kenangan masalalu.. sambut dia yang mencintaimu dengan segala cintanya.." pesan Dinda memberi suport yang luar biasa.
__ADS_1
Tanpa sadar Alia menitikkan air matanya. Ada rasa haru yang tak bisa ia ungkap.
Dinda memeluk Alia.
***
Di lain berbeda
Ada sosok yang merasa kesepian di rumahnya sendiri. Rumah yang tampak kosong tanpa adanya sosok Alia dan sang ibu.
Setelah melewati malam tanpa tidur karena rumah kosong. Pagi ini Topan bersiap untuk membereskan beberapa hal tentang persiapan pernikahannya.
Dan hal yang harus ia lakukan adalah bertemu dengan wali Alia yang merupakan kakak kandung ayah Alia.
Topan sudah berpikir lama, untuk mengunjungi wali Alia. Ia hanya ingin melihat secara jelas wali Alia yang membuang sang ahli waris sah.
Dengan menempuh perjalanan sedikit jauh, akhirnya Topan tiba di satu rumah besar yang terlihat tak begitu terurus.
Topan melihat kembali secarik kertas untuk memastikan jika ini adalah rumah milik keluarga Alia yang kini sudah berpindah tangan.
Topan berjalan memasuki halaman rumah yang sudah banyak di tumbuhi oleh ilalang mulai tinggi.
Topan mencari sesiapa saja untuk mendapatkan informasi.
Dan ternyata sebuah motor metic baru saja keluar dari garasi.
Topan berdiri didepan halaman. Dan motor metic itu pun keluar melewati dirinya. Topan dengan cepat menahan.
"Permisi.." seru Topan menghadang pengendara motor metic itu.
Dan motor itu pun berhenti.
"Maaf, permisi apa benar ini rumah pak Idrus??" tanya Topan sopan.
Dan sang pengendara pun membuka kaca helm hitamnya.
"Ya, tapi pak Idrus sudah meninggal, anda siapa??"
Topan lega, ternyata benar rumah besar ini adalah milik Alia.
"Hm, saya Topan.. saya sedang mencari pak Zahrul.. adik pak Idrus.."
"Ayah saya? untuk apa anda mencari ayah?? apa menagih hutang lagi?" tanya wanita itu khawatir.
"Oh, bukan.. saya.." ucap Topan tergantung dengan mengambil jeda berpikir. "Adahal yang ingin saya bicarakan dengan pak Zahrul.. apa bisa saya bertemu dengan beliau??" tanya Topan sopan.
Wanita itu terlihat ragu-ragu.
***
Dan setelah pertimbangan yang sedikit memakan waktu, akhirnya Topan masuk kedalam rumah besar itu.
Wanita itu menbawa Topan menuju kamar yang sedikit jauh. Tercium bau obat yang cukup kerasa ketika wanita itu membuka pintu kamar yang ternyata terdapat seorang pria tua dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
"Ayah mengalami kecelakaan yang membuat kakinya harus di amputasi.." jelas wanita yang akhirnya di ketahui Topan bernama Yara.
"Setelah amputasi, kesehatan Ayah terus menurun, sehingga jalannya perusahaan juga terganggu.."
Topan mendengar.
"Dan kami pun mengalami kebangkrutan secara berperlahan.." jelas Yara berat.
Topan terdiam.
"Beberapa aset milik perusahaan telah di beli oleh mas Rudy, suami Alia.. putri Paman Idrus yang harusnya mengelola perusahaan.."
Kening Topan bertaut kaget.
"Rudy membeli perusahaan??"
"Ya, secara tidak langsung ia mengambil alih perusahaan milik Alia.." sahut Yara. "Kami tidak punya pilihan, selain mas Rudy suami Alia, kami juga butuh uang untuk menutupi segala hutang yang tiba-tiba terjadi dalam kurun waktu 1 tahun"
Topan menceran, cerita yang cukup janggal.
Yara menghela nafas panjang dengan wajah sedih.
"Mungkin mas Rudy marah karena perlakuan ayah pada Alia, dan dengan kuasanya mas Rudy menyulitkan semua penjualan perusahaan sehingga kami jatuh dengan sendirinya dan malah menjual aset pada mas Rudy.."
Topan mengerti tindakan Rudy itu, jika ia jadi Rudy ia pasti akan lakukan hal yang sama.
Dan kini Topan melihat dengan mata kelapa nya sendiri sang wali tertidur dengan tak berdaya di atas kasur seadanya.
Yara menutup pintu kamar itu.
"Tak ada yang bisa mas Topan bicarakan pada ayah, karena beliau sudah pikun.." jelas Yara pada Topan yang terlihat tengah berpikir.
__ADS_1
Yara berjalan, Topan pun mengikuti langkah wanita itu yang bisa dipastikan jika usianya sebaya dengan Alia.
Kini Topan berada di teras rumah besar itu bersama Yara.
"Sebenarnya.. saya datang untuk meminta izin menikah dengan Alia besok.." jelas Topan yang akhirnya menjelaskan arti kedatangannya mencari wali Alia.
Yara terkaget tak mengerti.
"Tunggu, mas bilang apa tadi?? menikah dengan Alia??"
Topan mengangguk.
"Tapi.. tapi bagaimana bisa Alia menikah dengan mas Topan sedang Alia masih menjadi istri mas Rudy.."
"Mereka sudah bercerai.."
Yara terkejut.
"Setahun yang lalu.." jelas Topan detail.
Yara benar-benar tak percaya.
"Bagaimana mungkin?? mas Rudy begitu mencintai Alia.. Mas Rudy bahkan.." ucap Yara tergantung dengan mengingat beberapa bulan yang telah lalu. Jika Rudy pernah mencari Alia kerumah ini hingga 2 kali.
Bahkan saat itu dengan sombongnya pria itu datang hanya untuk memastikan jika sang istri tak menginjakan kakinya dirumah yang telah dikuasai oleh ayahnya.
Yara masih mencoba mencerna.
"Jadi.. Alia sudah bercerai dengan mas Rudy selama itu.."
Topan mengangguk.
"Karena itu, saya sengaja datang kemari hanya untuk memberi tahu hal yang seharusnya, karena bagaimana pun Alia memiliki keluarga, walau kalian telah membuangnya.."
Yara sedikit tertunduk. Ada penyesalan yang terlihat jelas namun tak bisa di ubah lagi.
"Kapan kalian akan menikah?"
"Besok.." sahut Topan.
Yara tersenyum simpul.
"Katakan pada Alia, tolong bahagia..agar aku bisa menebus kesalahan yang dilakukan ayah.." ucap Yara tertekan. Ada beban moral yang menjadi beban besarnya karena kesalahan orang tua.
"Jika punya waktu, datanglah.." pinta Topan.
Yara terkejut.
"Saya terlalu tidak punya muka di hadapan Alia.." sahut Yara.
Topan mengerti.
"Mungkin ini karma yang harus saya tebus, dulu kami mengambilnya tanpa meminta dan kini kami kehilangan semuanya tanpa bersisa.."
Topan menghela nafas. Lalu tanpa ragu ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Yara.
Yara menantap bingung.
"Ambilah.."
"Tidak terima kasih.. kami masih punya.."
Namun ucapan Yara terpotong ketika tangan Topan langsung memberikan kedua hal itu di tangannya.
"Anggap saja ini dari orang lain yang peduli"
Yara terkaget tak berkutik ketika menerima lembaran uang merah yang sangat ia butuhkan.
"Aku tau ayahmu sudah berbuat salah dan kau pastinya marah dan kesal karena telah menanggung semua kesalahan ini, tapi.. jangan berhenti untuk merawatnya.." pinta Topan.
Yara terpaku.
"Bagaimana pun kesalahnya itu di buat karena ia ingin membuat kamu bahagia, hanya saja caranya yang tidak baik.."
Yara terrenyuh, hatinya perih.
"Kalau begitu, aku pamit.." pamit Topan dengan berlalu pergi meninggalkan sang saudara Alia yang berdiri di posisinya dengan hampir menangis.
Topan melangkah pasti menuju mobilnya.
"Tugas wali selesai.." seru Topan sembari masuk kedalam mobil. Dan sesaat ia mengingat wajah pak Zahrul yang terlihat penuh penyesalan.
Namun Topan segera menepis bayangan itu, lalu bersiap untuk melajukan roda mobil kesatu tempat yang harus ia pergi.
"Tempat peristirahatan terakhir ayah dan Bunda Alia.." ucap Topan pada dirinya sendiri.
__ADS_1