Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Lost Control


__ADS_3

Diruang tengah terlihat Alia dan Topan duduk di Sofa bentuk L itu, terdengar sesekali suara desis kesakitan Topan ketika merasakan perih pada luka yang dibersihkan Alia.


Topan memilih untuk memejamkan matanya agar pandangannya tak bertemu dengan bola mata yang menbuatnya resah.


"Ssst..." desis Topan kesekian kali ketika salep obat luka itu dioles oleh jemari Alia.


Kekhawatiran silih berganti di wajah Alia yang mengusap dengan lembut luka yang tampak segar itu.


"Apa mas gak keklinik?? kayaknya gak bisa cuma di taruh obat ini aja" saran Alia yang merasa khawatir pada luka pelipis Topan.


Topan tak menjawab, namun terlihat jelas jika pria ini tengah menahan sakit yang begitu perih di lukanya.


Dan akhirnya Alia menyelesaikan memberi obat pada tiap luka di wajah Topan.


Perlahan kedua mata Topan terbuka dan hal pertama yang ia lihat hanyalah wajah Alia yang tengah menutup kembali kotak obat.


Sesaat Topan terpaku namun tak lama ia mencoba untuk berpaling dan bangun dari duduknya.


"Terimakasih, Alia.." ucap Topan dengan hendak berlalu pergi.


Alia yang terheran menatap punggung Topan dengan wajah gelisah.


"Mas Topan" seru Alia menahan langkah Topan.


Topan pun berhenti tanpa berbalik.

__ADS_1


Alia bangun dari duduknya dengan menyampingkan kotak obat lalu berjalan mendekat pada sang majikan.


"Apa benar, mas sudah tidak menjadi pengacara mas Rudy lagi??" tanya Alia gusar.


Topan menghela nafas dan menjawab dengan berat.


"Ya.."


"Kenapa??" tanya Alia kembali.


Topan tercekat dengan pertanyaan tak terduga sang pembantu. Perlahan ia pun berbalik dan mendapatkan tatapan Alia yang tertuju padanya.


"Kenapa mas?? kenapa mas berhenti??" tanya Alia mengulang.


Deg..Alia terpaku.


Topan menghela nafas panjang setelah jawaban yang sangat ia takutkan terucap.


"Aku takut kau akan meninggalkan aku.. walau sebenarnya aku tau, jika aku tak punya hak apapun di setiap keputusan mu.." sambung Topan dengan hela nafas pelan.


Bibir Alia terkatup rapat.


"Sudahlah.. seperti janji mas sama kamu, kamu jangan merasa bersalah.. Mas akan bertanggung jawab pada perasaan dan masalah ini sendiri.." ujar Topan dengan tatapan sendu pada wajah Alia. "Percaya pada mas, kamu cukup tinggal disini dengan tenang.."


"Bagaimana rasanya percaya??" sela Alia yang tiba-tiba membuka suara.

__ADS_1


Topan terpaku.


"Bagaimana Alia harus percaya pada mas??" tanya Alia dengan gemuruh di hatinya yang tak ia mengerti.


Sesaat keduanya saling menatap dalam.


"Kau ingin tau??" sahut Topan.


Perlahan Alia mendekat dan tanpa sadar tatapan Alia seperti terhipnotis oleh ucapan Sang majikan.


"Hm, Alia ingin percaya!" jawab Alia tanpa ragu.


Sesaat Topan tak percaya mendengar ucapan Alia hingga ia mencari dengan menatap dalam sorot mata sang pembantu.


"Tunjukkan.. " pinta Alia berbisik dengan membalas tatapan lekat bola mata Topan.


Entah dorongan dari mana, perlahan dengan satu tangan kanan Topan meriah wajah Alia lalu sedetik kemudian ia menjatuhkan satu ciuman di bibir sang pembantu.


Perlahan Alia menutup matanya untuk menikmati ciuman sang majikan.


Dan untuk beberapa saat ciuman itu begitu lembut dan manis. Hingga beberapa detik berlalu ciuman itu terrerai dengan nafas keduanya saling menderu. Tatapan yang begitu dekat dan penuh arti.


Namun tak berselang lama, sebuah keyakinan seolah memenuhi relung hati keduanya. Hingga akhirnya Topan kembali menjatuhkan ciuman untuk kali kedua dengan tanpa ragu.


Alia pun menerima dengan membalas pangutan bibir Topan yang memenuhi hasratnya. Perlahan jermari Alia memeluk tubuh Topan yang menariknya rapat hingga sebuah keintiman begitu tersirat di antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2