
Dan keesokan harinya. Alia sedang bersiap-siap di depan kaca. Ia merasa diri untuk pergi bersama sang suami kedokter kandungan.
Topan baru saja menyemprotkan sedikit parfum. Dan karena aromanya cukup menyengat, Alia yang mengcium aroma itu langsung merasa sedikit pusing.
"Mas??" panggil Alia lembut.
"Ya?" sahut Topan menoleh sembari menutup kembali botol parfum miliknya.
Alia menatap ragu.
"Maaf ya mas.."
Kening Topan tertaut heran.
"Hm?? kenapa??"
"Itu.. aroma parfumnya.."
"Ya?? kenapa dengan parfumnya?" tanya Topan.
"Boleh gak jangan pakai dulu.."
"Hah??" respon Topan yang kaget. "Maksudnya??"
"Alia, gak tahan aromanya mas, terlalu kuat.."
Topan menatap botol parfum miliknya di tangan dengan wajah bingung lalu kembali menantap sang istri.
"Tapi, biasa mas pakai parfum ini, kamu gak pernah ngomong gitu??"
Alia mengigit bibir bawahnya sembari berpikir.
"Iya sih, tapi.. mungkin karena.." ucap Alia sembari mengusap perutnya.
Sesaat Topan berubah.
"O-oh.." Topan mengangguk paham. "Baiklah.. untuk sesaat ini mas gak akan pakai parfum dulu deh" ujar Topan dengan meletakkan botol parfum miliknya.
Alia tersenyum.
Lalu tak lama Topan mendekat dan memeluk Alia namun Alia langsung menahan dengan wajah gusar.
Dan lagi-lagi Topan terheran.
"Kenapa lagi?"
"Parfumnya masih ada di baju mas.."
"Huuffft.." Topan langsung membuka kancing kemejanya dan mencampkan begitu saja baju kemejanya. Dan hanya meninggalkan kaos putih berlengan pendek.
Topan langsung memeluk Alia dari samping.
Alia terkaget.
"Baiklah, sepertinya mas sudah harus banyak mengalah sedari bayi ini didalam perut.. oke fine, ayah akan ikutin mau kamu nak.." ucap Topan sembari mengusap perut Alia.
Alia terpaku, untuk sesaat ia menantap sang suami dari jarak yang dekat.
"A-ayah??" Alia mengulang sembari menantap sang suami.
Topan tersenyum.
"Ya, Bunda.." sahut Topan. "Cocok kan?? panggilan Ayah dan Bunda??"
__ADS_1
Alia tersenyum penuh arti lalu mengangguk menyetujui.
Dan Topan menjatuhkan satu kecupan dibibir Alia. Mata Alia terpejam menerima kecupan penuh kasih dari sang suami.
Untuk beberapa saat keduanya larut dalam ciuman intim yang penuh arti. Topan menarik tubuh Alia agar merapat dekat dengan tubuhnya. Jemari Alia menyisup dan mengulung di leher Topan. Pangutan lembut Topan membuat Alia lemah, rasa-rasanya itu adalah ciuman termanis untuk pagi hari ini.
***
Kini di satu rumah sakit swasta. Alia duduk dengan hati gelisah. Masih ada rasa khawatir di dalam diri Alia.
Alia menunggu sang suami yang sedang mendaftar. Sesekali ia juga melihat beberapa wanita hamil yang duduk dengan perut yang sudah terlihat buncit.
Jantung Alia berdebar. Sungguh ia tidak percaya jika akhirnya ia akan kembali mendaftar ke dokter kandungan.
Namun di saat gugupnya, tiba-tiba Topan kembali dengan mengangetkan Alia.
"Kita dapat nomor 4.." kata Topan menantap Alia.
"Oh, iya mas.."
Namun Topan melihat Alia kegelisahan Alia yang begitu jelas.
Topan menyentuh jemari Alia yang berada di atas pangkuannya lalu duduk di samping sang istri.
"Kamu gelisah??"
Alia tertegun. Lalu mengangguk pelan.
Perlahan Topan membawa jemari Alia keatas pangkuannya. Ia mengusap lembut punggung tangan Alia. Seolah memberi ketenangan pada sang istri.
Alia menatap penuh arti, sungguh ia tak pernah membayangkan akan berada dimoment se indah ini. Bersama pria yang akan menjadi ayah anak-anaknya. Pria yang selalu dapat memenuhi relung hatinya dengan hangat, selalu memberi perhatian yang dulu sangat ia harapkan.
Dan setelah menunggu antrian dengan sabar, akhirnya tiba giliran Alia di panggil masuk.
Topan dan Alia kaget, namun keduanya langsung beranjak.
Alia berjalan dengan tangannya di genggam erat oleh Topan bersama masuk kedalam ruangan dokter.
***
Dan setelah pemeriksaan yang sangat berdebarkan, dokter wantia itu memberikan sebuah hasil foto USG pada pasangan suami-istri yang terlihat sangat berbahagia.
Alia terpaku menantap lembar foto janinnya itu.
Tanpa sadar air matanya kembali jatuh.
Dokter tertegun dengan senyum ikut terkembang. Ia sangat mengerti moment bahagia yang selalu di nanti setiap pasangan.
"Janin mbak sangat bagus, dan usianya baru 6 minggu.."
Deg.. Alia merasakan jantungnya seolah berhenti. Sungguh ini seperti sebuah dejavu.
Sekilas ia mengenang kenangan pahit ketika mantan suaminya memberikan sebuah hasil USG milik wanita lain.
"6 minggu?" ulang Alia dengan air mata Alia jatuh tepat di atas foto janinnya lalu mengusap penuh sayang pada lembar foto itu. Ada rasa bergetar yang tak bisa ja ucapkan, Alia jatuh cinta pada sosok yang bahkan belum lahir.
Topan mengusap lembut punggung Alia. Ia tau beratnya mental Alia untuk benar-benar bisa percaya bawah ia sedang mengandung.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja, kurangi aktivitas berat, banyak istirahat, makan makanan yang bergizi.. juga jauhi dari pikiran stres, itu saja.." pesan dokter ramah.
"Terimakasih dokter.." ucap Topan.
Alia menyeka air matanya.
__ADS_1
"Terimakasih dokter.. sungguh Terimakasih" ucap Alia mengulang dengan wajah bahagia.
"Ya mbak Alia.. berbahagialah, karena janin juga dapat merasakan perasaan ibunya.."
"Baik dokter, akan saya ingat.." sahut Alia dengan cepat mengubah suasana hatinya.
Dokter tersenyum lalu ia memberikan sebuah kertas resep pada Topan.
"Ini hanya vitamin.. selebihnya saya harap mbak Alia perbanyak makanan bergizi saja.."
Alia kembali mengangguk.
Topan pun seketika merasa lega melihat wajah sang istri tersenyum kembali.
"Pemeriksaan selanjutnya lebih baik di lakukan 1 bulan ke depan.."
Topan terpaku.
"Bulan depan??" ulang Topan.
"Ya, akan lebih baik di lakukan pemeriksaan berkala tiap 1 atau 2 bulan sekali.
"Tapi.. kami akan terbang minggu depan ke Batam.. "
Dokter terkaget.
"Terbang?? apa tidak bisa di tunda??"
Topan dan Alia kaget.
"Karena mbak Alia baru memasuki 6 minggu, saya tidak menyarankan untuk ibu hamil terbang dengan pesawat di usia kehamilan terlalu muda.. itu terlalu beresiko" jelas dokter lagi.
Topan langsung paham.
"Oh, jadi kapan sebaiknya dokter?"
"Kita akan melakukan pemeriksaan lagi, jika sehat dan mbak Alia tidak ada keluhan, maka mbak Alia bisa terbang di usia kehamilan 18 minggu.." saran Dokter.
Topan berpikir.
"Baiklah dokter, saya akan ikut saran Dokter yang jauh lebih paham.."
Dokter tersenyum ramah.
"Sekali lagi terima kasih dokter.." ucap Topan sembari beranjak bangun.
"Ya, selamat untuk mbak Alia dan mas Topan.. jaga kesehatan ya mbak Alia.." pesan Dokter mendoakan pada pasiennya.
***
Disepanjang jalan pulang, Alia masih saja terus memandang foto USG itu.
Senyum bahagia terus terpancar dari wajah Alia. Ia mengusap lembut foto janin itu.
Topan hanya bisa menikmati moment itu dari duduk kemudinya.
Ia tak akan pernah mengatakan hal rahasia besar yang menjadikan Alia bercerai dengan Rudy.
Ia akan menyimpan semua rahasia itu seorang diri, ia tak ingin Alia kembali di bayangin oleh mantan suaminya jika Alia tau bahwa sebenarnya Rudy yang tak bisa memiliki benih yang sehat untuk menhamili Alia selama bertahun-tahun.
Dan Topan merasa bangga pada dirinya sendiri karena dapat memberikan benihnya di rahim Alia dengan cepat.
Jika dihitung, usia janin dan masa keintiman yang mereka lakukan setelah menikah 2 bulan, berarti Alia hanya kosong selama 2 minggu. Dan setelah itu Alia langsung hamil.
__ADS_1
Topan merasa menjadi pria sejati saat ini dan tak lama lagi akan ada seorang anak yang akan memanggil namanya "Ayah".