Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Cari jawabannya..


__ADS_3

"Penyesalan adalah neraka nyata di dunia" jawab Alia dingin saat itu.


Dan karena ucapan Alia itu, keesokan paginya. Topan terlihat uring-uringan tak jelas di kantor.


Semua berkas diatas mejanya membuatnya mual. Tak pernah ia merasakan hal sedemikian aneh di sepanjang hidupnya.


Kevin yang merupakan rekan kerja Topan pun ikut kecipratan uring-uringan sang teman. Semua diskusikan hari ini buyar, semua gagal dan semua tak nyambung.


"Ada apa dengan mu, Topan?? hari ini kau aneh sekali!!" rutu Kevin kesal pada temannya itu.


Topan mengaruk kepalanya yang tak gatal. Dan meletakkan berkas yang ada di tangannya begitu saja.


Hela nafas kasar pun terdengar dengan wajah berkerut.


"Apa kau sedang dalam masalah?"


"Tidak.."


"Lalu?? apa karena ibumu lagi?"


"Bukan, ibuku baik-baik saja.." sahut Topan ketus.


"Lantas?" tanya Kevin kembali.


"Ck.. entahlah, aku tidak tau!!" sahut Topan kesal.


Kevin berdecak kian heran.


"Lebih baik kau cari wanita.. mungkin sisi kelaki-lakian mu harus di keluarkan.."


Topan menatap tajam.


"Bisa jadi kau kurang belaian, jadi emosi mu susah di kendalikan.." tutur Kevin memberi saran.


"Aku tidak butuh!!"


Kevin melirik tak yakin.


"Aku yakin kau butuh!! mungkin bukan kau.. tapi itu.." Kevin memberi isyarat pada arah antara paha Topan.


Topan mendelik.


"Aku tidak seperti kau!! sudahlah.. aku keluar!!" seru Topan beranjak pergi meninggalkan sang teman yang sudah tak tahan ingin tertawa.


Namun berselang Topan pergi, Kevin tertawa lepas. Ia yakin sang teman pasti merindukan belaian seorang wanita yang dapat memberikannya kehangatan di tiap malam.


Topan yang dapat mendengar tawa kekeh Kevin hanya meledeknya di belakang.


"Dasar mesum!!" rutu Topan yang akhirnya tepat berdiri di depan pintu lift.


Ting.. pintu lift berbunyi dan tak lama pintu itu terbuka.

__ADS_1


Topan yang tengah kesal pun seketika kaget ketika melihat sosok pria di hadapannya.


"Ternyata kita sehati.." seru Johan sang atasan.


Kening Topan bertaut heran.


"Naiklah.. " perintah Johan.


Topan tak bisa mengelak dan akhirnya masuk kedalam lift itu bersama sang atasan sekaligus teman dekatnya.


Dan anehnya arah angka lift justru naik ke atas dan membawa Topan masuk ke dalam ruang kerja sang atasan.


Topan menatap ruangan sang atasan. Tak lama Dodi kembali dengan membawa beberapa surat di tangannya lalu memberikan kepada Johan.


Topan hanya menatap dan memilih duduk di sofa empuk ruangan itu.


"Aku dengar ibumu sudah ada yang jaga.." kata Johan dengan menyelesaikan tandatanggan di kertas yang di berikan Dodi.


"Hm, ya.."


"Apa ibu sehat??"


"Ya.. jauh lebih baik.." jawab Topan santai.


Johan menatap Dodi yang akhirnya keluar dari ruangan itu.


"Lalu ada apa kau dengan Rudy Mahendra??" tanya Johan menatap Topan.


"Apa kau sedang mengintai aku?"


"Bukan.. hanya saja.. aku mendengar keluhan dari klien mu, jika kau tidak mau menangani kasus perceraiannya.."


Topan tertawa kecil.


"Rudy mengadu?? dasar tidak punya nyali!!" tukas Topan bergumam kesal.


Johan bangun dari kursi kerjanya dan duduk di sofa yang menghadap Topan.


"Aku tidak tau ada apa denganmu, Topan.. Tapi aku peringatan sampingkan masalah pribadimu ketika bekerja!!" tukas Johan memperingati.


Topan tertawa kecil.


"Ah, kau terlihat lebih manusiawi" ejek Topan. "Apa.. karena kau sudah menikah?"


Johan menghela nafas panjang lalu melonggarkan dasinya. Dan terlihat lebih santai.


"Aku tidak tau itu pujian atau bukan, tapi.. aku rasa yaa, aku sedikit berubah setelah menikah.." sahut Johan.


Topan menghela nafas.


"Aku.. tidak mengerti wanita.."

__ADS_1


Johan menatap Topan.


"Jadi akar permasalahanmu ini adalah wanita??" tanya Johan tak percaya.


Topan tak mengubris rasa keterkejutan Johan.


"Yaa, sebenarnya aku tidak ingin tau, tapi hal itu justru membuat aku semakin kepikiran.." jujur Topan membuka suara.


"Kau suka padanya?"


"Aku tidak yakin.. apa itu suka atau karena suatu rasa kasian"jawab Topan apa adanya.


Johan berpikir.


"Cari jawabannya.. jangan biarkan urusan ini mengusik pekerjaan mu.. aku tidak suka" tukas Johan sembari mencoba memejamkan matanya.


Topan menyeringai kecil.


"Aku ingin mencari jawabannya.." ujar Topan tergantung. "Tapi aku takut akan kebenarannya"


Johan membuka mata dan menatap Topan.


"Jika benar dugaan ku, mungkin dia akan kembali pada kehidupan lamanya.. dan aku tidak suka"


"Kalau begitu rebut saja..bereskan?? " jawab Johan santai memberi solusi.


Topan berdecak.


"Kau pikir dia barang.."


"Lalu kau mau membiarkan dia lepas??" tuding Johan.


Topan bungkam. Dari sorot matanya dia bimbang.


"Aku benci urusan yang bertele-tele.. jadi bereskan, aku mau kau menjadi Topan yang kejam seperti biasanya.." ujar Johan lalu ia bangun dan mengambil satu amplop mewah lalu memberikannya pada Topan.


Topan menatap pada amplop pemberian Johan.


"Hanya pesta kecil-kecilan.. datanglah bersama wanitamu itu" ujar Johan.


Topan meraih amplop itu dan melihat nya. Johan B. Bastian dan Dinda Gandis.


"Aku pikir aku tidak di undang.." seloroh Topan.


"Niatnya seperti itu, tapi setelah mendengar curhatmu, aku pikir aku ingin melihat sosok wanita yang membuatmu jadi uring-uringan selama kerja.."


Topan terkaget dan menatap Johan.


"Kau mengorek informasi dari staffku??" tuding Topan protes, yang langsung teringat Kevin.


"Yaa, mau bagaimana lagi.." jawab Johan santai.

__ADS_1


"Dasar kau ini, kau sebenarnya tidak cocok menjadi pengacara.. kau cocok sebagai mafia mata-mata.." tukas Topan yang akhirnya bangkit dari duduk nyamannya.


__ADS_2