Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Keluarga Alia


__ADS_3

Di satu malam yang sedikit dingin, karena efek sepeninggalan hujan yang turun tiba-tiba tadi sore.


Alia baru saja membereskan ibu Topan yang akhirnya dapat tidur dengan tenang.


Malam itu, sang majikan belum juga pulang. Alia melirik jarum jam di ruangan itu. Ada rasa khawatir jika Topan pulang telat.


"Udah jam 10" bisik Alia sembari menghela nafas panjang membuang gelisanya.


Namun Alia merasa perutnya lapar. Ia mengusap perutnya yang rata dengan wajah tersenyum.


"Makan mie di cuaca dingin begini pas banget" gumam Alia dengan bersemangat memuju dapur belakang untuk membuat semangkuk mie instan hangat nan pedas untuk memuaskan rasa lapar yang datang tiba-tiba.


***


Di tempat berbeda, terlihat Topan akhirnya bisa lepas dari macet ya ibu kota karena hujan yang cukup lebat.


Topan melajukan mobil sedannya dengan kecepatan sedang di bawah rintik hujan yang masih belum reda.


Berselang beberapa menit akhirnya laju mobil Topan masuk kedalam pekarangan halaman rumahnya yang tidak berpagar.


Topan merasa lega dengan segera mematikan mesin mobilnya di depan garasi yang tak sempat ia buka lagi.


Topan turun dengan perasaan lelah, lelah pikiran dan rasanya yang terkuras oleh sidang-sidang siang hari.


Topan berjalan dengan mengambil kunci rumah dari balik sakunya. Topan berniat masuk tanpa menganggu tidur Alia yang pasti sudah beristirahat di kamarnya.


Kunci itu pun akhirnya dapat membuka pintu rumah Topan.


Perlahan Topan mendorong pintu rumahnya. Dan seketika tercium aroma yang begitu mengoda dari dalam.


Langkah Topan kian masuk kedalam rumah dengan telah mengunci pintu kembali.


Tak lama sosok yang begitu riang keluar dari dapur belakang dengan membawa piring kosong.


"Alia??" seru Topan terkejut.


"Akh!!" Alia pun tak kalah kagetnya hingga hampir saja menjatuhkan piring yang ia pegang kelantai.


"Alia?" seru Topan kembali dengan berjalan cepat kehadapan Alia.


Alia pun seketika tersadar.


"Mas Topan?? ikh, kagetin aja.." rutu Alia kesal.


Topan seketika tertawa kecil melihat wajah judes Alia yang tak pernah ia lihat.


"Ya kamu juga main keluar tiba-tiba, mas kan juga kaget.." balas Topan tak mau kalah. "Kamu ngapain? kenapa belum tidur??" tanya Topan.


"Ah, Alia tadi memang rencananya mau tidur, tapi.. hehehe" Alia terlihat malu-malu dengan melirik sebuah mangkuk hangat berisi mie instan nan mengoda. " tiba-tiba perut lapar, jadi kepikiran buat mie deh.."


Topan hanya mendengar dengan senyum.


"Mas laper gak?? makan bareng yuk.." tawar Alia.


Tanpa ragu Topan mengangguk.


"Ya, boleh kalau kamu gak keberatan untuk berbagi.. Mas laper karena macet parah jadi belum makan" kata Topan setengah curhat.


Alia tersenyum.


"Ya udah, kalau gitu Alia ambil piring tambahan dan teh lemon hangat.. gimana, cocok kan mas??"


Seketika memberi tanda oke.


"Cocok banget sayang.." sahut Topan lembut.


Alia akhirnya berlalu kembali menuju dapur belakang. Sedangkan Topan menarik kursi untuk duduk sembari membuka kancing lengan kemejanya dan membuka dasi dari lingkar lehernya yang masih tergantung di sana.


Topan juga meraih handphone dan meletakkannya di atas meja, hingga rasa bebas dapat ia rasakan utuh.


Tak lama Alia pun kembali dengan membawa piring untuk sang majikan.


"Ini mas.." ujar Alia dengan memberi piring tersebut pada Topan.


Topan menerima dengan senyum.


"Terima kasih, sayang.."


Alia jadi tersipu malu mendengar panggilan manja dari sang majikan.


"Bagaimana hari ini dengan ibu?" tanya Topan sembari menunggu Alia menaruh mie ke dalam piringnya.

__ADS_1


"Masih gak terlalu selera makan mas, tapi.. syukurnya mau minum obat dan sedikit ngemil.."


Topan mengangguk.


"Mas udah buat jadwal, hari kamis siang kita bawa ibu kedokteran.."


"Oh, hari kamis yaa.."


"Iya, kenapa??"


"Ah, enggak mas, Alia pikir besok sudah kedokter, karena kasian ibu kalau terlalu lama di biarkan gak selera makan.. takut lemes dan jadi sakit.." tutur Alia bernada khawatir.


Topan menghela nafas panjang, ucapan Alia ada benarnya. Tapi jika di hari diluar jadwal daftar maka antrian pasien sangatlah panjang hingga 25 pasien 1 hari.


"Tapi gak papa juga kok mas, Alia akan usahakan ibu untuk tetap makan seperti biasa.. atau Alia akan buat porsi kecil tapi sering.."


Topan terkesan pada sikap Alia yang begitu peduli pada ibunya.


"Alia.."


"Mmh??" sahut Alia dengan hendak bersiap untuk menyantap mie di piringnya.


"Terima kasih.."


Alia terpaku.


"Kamu begitu peduli pada ibu.."


Alia tersenyum penuh arti.


"Ayo, dimakan mas.. nanti keburu dingin.." ujar Alia.


Topan pun mengangguk lalu keduanya menikmati mie hangat yang begitu mengugah selera di tengah cuaca dingin malam ini.


***


Setelah menyantap mie, perut keduanya pun jadi kenyang.


"Enak juga masakan mie kamu" puji Topan.


Alia tertawa kecil.


Topan setuju dengan mengangguk. Mungkin mie instan ini enak karena yang masak adalah kekasih hatinya. Yang pedas jadi manis, yang panas jadi hangat dan yang asin jadi nikmat.


Topan menyerut teh lemon hangat dari gelasnya. Rasanya hangat dan asem manis begitu pas di lidah.


Sesaat Topan menatap Alia yang terlihat melamun dengan memainkan sendok di mangkuk kosong miliknya.


"Kamu lagi mikirin apa??"


Alia terkaget laku hanya meletakkan sendok itu begitu saja.


"Hm, sedikit rindu sama orang tua Alia.." jawab Alia jujur.


"Boleh mas tau, bagaimana orang tua kamu??"


Alia mengangguk pelan lalu wajahnya berubah dengan menelangsa jauh mengenang.


Sesaat ia menarik nafas panjang sebelum berbicara.


"Ayah dan Bunda, hanya orang tua biasa..yaa orang tua pada umumnya.. kalau lagi baik.. baiiik banget dan seolah Alia seorang putri raja.. tapi kalau lagi marah yaa sama kejamnya dengan pak polisi.. kejam banget.. sampai hukumannya juga gak main-main.." kenang Alia dengan tersenyum kecil.


Topan duduk dengan santai dan melihat kedua tangannya untuk mendengar kisah kenangan sang kekasih.


"Ayah, paling sayang.. paling bisa memanjakan Alia.. selalu suka bergurau dan juga paling sabar dalam memberi nasehat.." kenang Alia pada sosok pria yang selalu memberikan dukungan dengan usapan sayang di pucuk kepala Alia hingga dewasa.


"Tapi berbeda dengan Bunda.. Bunda ibu-ibu cerewet yang MasyaAllah kayak yang semuanya di buat cemas.. ini gak boleh, itu gak boleh.. ini jangan itu juga jangan, semua langkah jadi salah dimata Bunda.. Tapi.. di balik cerewetnya, Bunda yang selalu bisa mengertiin Alia.." ucap Alia sedikti tergantung berat.


Dengan senyum bergetar sedih ia mengenang sang ibu.


"Rasanya belum sempat isi hati Alia utarakan, tapi Bunda seolah tau apa yang Alia rasakan.." sambung Alia dengan akhirnya menitikkan air mata.


"Sungguh, Bunda adalah ibu yang luar biasa bagi Alia.."


Dan seketika jemari Alia mengusap air matanya sendiri.


Topan tertegun, dan tanpa sadar ikut menyeka air mata Alia dengan wajah sedih.


"Ah, maaf ya mas.. Alia.."


"Ssttt.. Mas ngerti.. kamu pasti sangat kehilangan orang tua kamu.."

__ADS_1


Alia mengangguk sembari menahan air matanya untuk terlihat tegar.


"Tapi, hal yang membuat Alia terus merasa bersalah adalah.." sanggah Alia berat. " Mereka meninggal di hari wisuda Alia.. dan itu membuat Alia.." ucap Alia terpotong tanpa dapat ia ucapakan lagi.


Kenangan kematian sang orang tua Alia dalam kecelakaan lalulintas dihari wisudanya, menjadikan Alia trauma.


Sesaat Alia diam dengan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Dan saat itulah kehidupan Alia berubah.." sambung Alia dengan wajah berbeda.


Topan terpaku.


"Para Paman yang menjadi wali Alia, satu persatu datang mengambil alih seluruh harta Ayah.. dan hanya menyisakan 1 rumah kenangan milik Alia.."


Topan terkaget tak percaya


"Perusahaan Ayah, tanah juga beberapa aset yang dimiliki Ayah semua berubah menjadi milik mereka.."


"Tapi bagaimana bisa seperti itu?? bukankah ada yang namanya hak waris, dan mungkin saja Ayah mu meninggalkan surat wasiat.." cecar Topan yang paham tentang hukum perwalian, jadi ikut kesal mendengar cerita sang kekasih.


Alia menggeleng pelan.


"Entahlah.. Alia tidak tau.. karena pengacara yang Ayah miliki juga tak sedikit pun mendukung pembelaan Alia..bahkan.." ucap Alia tergantung berat. " Dia menyuruh Alia untuk mengalah karena, dimata hukum hak Alia juga tidak bisa berbicara karena, Alia hanya seorang anak perempuan dan tidak ada kakak laki-laki atau adik laki-laki.." jelas Alia tenang.


Topan tak percaya mendengar kisah kelam sang kekasih begitu pahit.


Perlahan Alia menghela nafas panjangnya.


"Dan saat itulah, mas Rudy datang dengan melamar dan menikahi Alia tepat 1 bulan kepergian Ayah dan Bunda.."


Topan terpaku mendengar nama Rudy. Ternyata Rudy Mahendra sempat menjadi seorang pahlawan di perjalanan kehidupan Alia.


"Ah, maaf ya mas.. jadi ceritanya kemana-mana" sela Alia merasa tidak enak setelah menyebutkan nama mantan suaminya itu.


Topan terlihat tenang.


"Gak papa, karena semua itu proses perjalanan hidup kamu.. jadi yaa, memang saat itu Rudylah yang menjadi pahlawannya.." ujar Topan yang sedikit cemberut.


Alia malah tertawa kecil.


"Kenapa ketawa?" tanya Topan heran.


Namun Alia tetap saja tertawa kecil dengan wajah yang mengemaskan.


"Apa sih?? kamu ketawain mas yaa??" tanya Topan yang kesal.


Alia tidak menjawab namun ia bangun dari kursi itu dan hendak berlalu.


"Eh, kamu mau kemana??" protes Topan yang bingung pada sang pembantu.


"Ya tidurlah, kan udah malem, udah curhat dan perut juga udah kenyang.." jawab Alia enteng.


"Loh?? terus ini piringnya?"


Alia berhenti lalu dengan wajah tersenyum lebar menatap sang majikan.


"Nah itu tugas mas.. kan tadi Alia udah masakin, sekarang giliran mas untuk tugas cuci piring..hahaha" tawa Alia dengan hendak berlalu pergi.


Topan berdecak tidak percaya.


"Awas kamu ya!!"


Lalu tanpa Alia sadari, Topan mengejar langkah Alia yang hampir tiba di anak tangga.


Grep.. Topan memeluk tubuh Alia dari belakang.


"Dapat!!" seru Topan.


Deg..Alia terkaget dan ia dapat merasakan lengan sang majikan melingkar di pinggangnya.


Sesaat Alia dapat mencium aroma maskulin parfum Topan yang begitu harum.


Deg..deg.. jantung Alia berdebar gelisah ketika hela nafas Topan berhembus di sisi pelipis wajahnya.


"Alia.." bisik Topan.


Alia diam tak menjawab, ia tengah berusaha menahan debaran jantungnya.


"Maukah kamu menikah dengan ku??"


Deg..

__ADS_1


__ADS_2