Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Pagi romantis


__ADS_3

Keesokan paginya. Sinar matahari yang perlahan menyinari ruang tengah itu. Akhirnya mengusik dua insan yang tengah tertidur lelap dengan saling berpelukan.


Perlahan kedua mata Alia terbuka, ia mengedarkan pandangan pada keseliling ruangan yang ia kenal. Dan tak lama ia mendengar suara detak jantung yang begitu dekat dengan pendengarannya.


Alia bereaksi lalu reflek menegadah dan akhirnya mendapatkan wajah sang majikan yang tertidur tenang.


Sesaat Alia terpaku pada wajah yang terluka namun terlihat damai.


Hingga tak beberapa lama Alia merasakan sebuah tangan melingkar erat di pinggangnya.


Dan sebuah senyum terbingkai di wajah pria yang terlihat bengkak dan perlahan-lahan membuka matanya.


Alia terpaku ketika bola mata itu bertemu dengan tatapannya.


Lalu tak lama terdengar erangan kecil dari mulut Topan.


"Aahh.." seringai Topan.


Alia terlonjak kaget.


"Kenapa mas?? ada yang sakit ya ? dimana??" cecar Alia khawatir.


"Ah, hm iya tapi.. gak papa.." sela Topan menenangkan kepanikan Alia.


"???" Alia bingung penuh heran.

__ADS_1


Lalu Topan kembali tersenyum.


"Sakit yang sangat nikmat, yang pernah mas rasakan.." gombal Topan dengan menyentuh wajah Alia.


Alia sedikit tersipu malu, lalu ia hendak bangun dari sisi tidur Topan.


Namun, Topan menahan lengannya.


"Mau kemana??"


"Ibu.. Alia mau liat ibu dulu.."


Mendengarkan ucapan Alia, Topan pun melepaskan lengan Alia.


"Lebih baik mas istirahat saja, wajah mas bengkak" saran Alia khawatir melihat pada beberapa bekas luka dan lembab di wajah sang majikan. " Alia akan liat lagi, mungkin ada salep untuk bisa mengobati bengkak luka di wajah mas.."


"Hm, ya mas sebaiknya kedokter saja.."sahut Alia setuju.


Namun Alia menangkap tatapan Topan yang menantapnya lekat.


"Mau Alia siapkan kopi hangat?"


Topan mengangguk lalu lembut menyentuh jemari Alia. Ada rasa yang masih membekas tentang pengakuan semalam. Terlalu manis sampai ia merasa ini semua bagaimana mimpi.


"Mas?? ayo.." seru Alia menyadarkan lamunan Topan dan menyuruh pria itu untuk segera turun dari sofa agar Alia bisa turun.

__ADS_1


Topan tersenyum dan akhirnya bangkit mengikuti keinginan sang pembantu yang ingin cepat-cepat melaksanakan tugasnya.


Alia akhirnya bebas dan berlalu pergi meninggalkan ruangan penuh kesan itu.


Topan hanya bisa menghela nafas lega dan raut wajah tersenyum melihat wanita yang akhirnya bisa ia miliki.


"Aku ingin selalu melewati waktu yang indah denganmu, setiap waktu.." gumam Topan dengan melihat punggung Alia yang akhirnya hilang dari pandangannya.


"Aku akan membuat wajah mu kembali tersenyum kembali, Alia.." janji hati Topan yang ingin ia lakukan untuk Alia.


***


Di lain tempat di pagi yang sama, terlihat Rudy duduk di dalam kamar yang gelap. Terlihat di tangannya mengenggam sebuah foto dengan tangan penuh darah.


"Kenapa mas datang?? KENAPA MAS MENCARI ALIA??" ucap frustasi Alia saat itu yang terus mengiang di dalam ingatan Rudy.


"Alia frustasi, Alia hancur bahkan Alia hampir kehilangan seluruh hidup Alia.."cecar Alia saat itu dengan wajah kesedihan yang kentara.


Wajah kekecewaan Alia saat itu tak bisa hilang dari benak Rudy, ia baru menyadari jika wajah yang selalu terlihat tenang ternyata begitu terluka.


"Aku akan menebusnya Alia.. agar kau kembali" lirih Rudy dengan menatap foto Alia yang tersenyum begitu bahagia.


Sekilas sosok sang pengacara kembali terlintas dan raut wajah Rudy berubah marah.


"Topan.. apa yang sedang kau rencanakan??" bisik Rudy dengan nada menahan luapan kemarahannya.

__ADS_1


Perlahan Rudy bangun dengan wajah berubah dingin. Lalu melihat pada tangannya yang masih berdarah.


Lalu sebuah seringai kelicikan pun terlihat.


__ADS_2