Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Topan cemburu


__ADS_3

"Topan.. aku..aku akan menceraikan Bella, dan akan menikahi mantan istri ku kembali, Alia.." ujar Rudy Mahendra di satu siang bersama Topan di ruang kerja sang pengacara.


Topan tak dapat merespon, ia mencoba untuk mencerna ucapan teman sekaligus kliennya itu. Dan salivanya turun dengan pahit.


"Tapi.. bukan kah kau sendiri yang membuat tuntutan fitnah agar bisa menceraikan Alia??" tuding Topan kesal.


Rudy tertunduk.


"Saat itu aku benar-benar gegabah, aku.. aku sudah melukai perasaan Alia dengan mendengarkan ucapan ibu dan Bella.." tutur Rudy penuh penyesalan.


"Aku tidak habis pikir, Bella memakai benih orang lain dan mengakuinya sebagai darah daging ku!! dia benar-benar tidak tau malu dan serakah.." cecar Rudy geram.


"Dan setelah kau tau, kau ingin kembali pada Alia?? apa itu adil??" tuntut Topan yang menahan marahnya atas nama sang pembantu.


Rudy menatap heran.


"Kenapa kau marah??"


Topan menyadari jika ia terselut emosi, lalu dengan asal mengambil sebuah dokumen dari atas mejanya dan berlaku acuh tak acuh pada Rudy.


"Jika ingin bercerai, ajukan saja pada Kevin.. aku terlalu sibuk" tolak Topan pada kasus perceraian yang diajukan Rudy.


Rudy kian bingung dengan ucapan Topan.


"Topan?? kau.. kau adalah pengacara pribadi ku, lantas mengapa kau melimpahkan kasus ku pada orang lain.."


Jemari Topan yang sedang membuka lembaran halaman dokumen pun berhenti. Lalu dengan wajah dingin menatap sang klien, Rudy.


"Apa kau pikir pernikahan dan perceraian semudah membalikkan telapak tangan???" tandas Topan.


Rudy terdiam.


"Jika kau tau itu tidak mudah, lantas mengapa kau tidak memakai akal sehat mu ketika menceraikan, Alia!!" tukas Topan tajam.

__ADS_1


Rudy tercengang dengan ucapan sang pengacara.


"Topan? kau tau jelas alasan aku menceraikan Alia.. aku tidak tau jika yang bermasalah itu ada pada diriku, bukan Alia.."


"CUKUP RUDY!!" potong Topan marah. Dan atmosfer ruangan itu pun seketika berubah mencekam.


"Jika kau masih menghargai ibumu, maka kau harus bisa menghargai seorang wanita, seperti Alia.. karena Alia bukan barang yang mudah kau buang dan kau dapatkan lagi!!" lontar Topan menatap tajam pada Rudy.


Rudy tak bisa berkilah di hadapan Topan yang sedang tak begitu mood.


Rudy menyeringai kecil dengan wajah heran.


"Ada apa dengan mu Topan?? apa kau sedang jatuh cinta hingga terdengar sensitif??" celetuk Rudy yang akhirnya kesal lali bangun dari Sofa ruangan Topan.


"Sepertinya kau benar-benar tak bisa di ajak kompromi.." tukas Rudy membalas tatapan Topan.


"Telfon aku jika kau sudah waras!!" timpal Rudy yang akhirnya berlalu pergi meninggalkan sang pengacara dengan berbagai tumpukan dokumen sidang.


Rudy berlalu pergi, namun rasa kesal masih merajai Topan. Hingga dengan marah ia melempar pulpen mahal itu kesembarang arah.


"SIAL!!" rutu Topan yang terserang amarah di dadanya ketika mendengar ucapan mantan suami Alia menginginkan wanita itu kembali pada dirinya.


***


Sore harinya, Topan pulang kantor dengan wajah lesu. Setelah memarkirkan mobil sedannya di dalam garasi. Ia pun melangkah menuju pintu depan rumahnya.


Namun ketika ia hendak mengambil kunci pintu dari balik saku jasnya, ia pun tersadar jika kunci itu ia tinggalkan di mobil.


"Ck.." decaknya kesal hendak berbalik. Namun tiba-tiba pintu rumahnya berbunyi.


Brak..pintu terbuka dan menghentikan langkah Topan yang seketika menoleh.


"Selamat datang.." sambut sang pembantu dengan wajah ceria membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Sejenak Topan terpaku pada wajah ceria Alia.


"Epan.. pulaaaang.." seru ibu Topan yang sama-sama ceria menyambut diri ya.


Sehingga tanpa sadar Topan tersenyum simpul.


"Kok?? kalian?"


Alia tersenyum.


"Kita udah hafal kok bunyi mesin mobil mas Topan.. ya kan bu?" seru Alia pada ibu Topan yang hanya tertawa tanpa tau apa yang di tanya sang teman.


Seketika raut wajah Topan berubah tenang, rasa marah dan kesal tadi seketika hilang kala mendengar suara Alia yang bahagia bersama ibunya.


"Yuk, masuk.. ayo bu.. kita buat roti panggang coklat.. ibu mau??" ajak Alia sembari berbalik membawa sang ibu majikan bersamanya.


Seulas senyum terlihat di wajah Topan yang akhirnya masuk kedalam rumah mengikuti langkah kedua wanita yang berbeda zaman itu.


Topan terus menatap Alia dari belakang. Hingga tanpa terduga Alia menoleh kebelakang dan memergoki tatapan sang majikan pada dirinya.


"Mas mau roti panggang gak?" tanya Alia.


Topan terjegat kaget.


"Hah??"


"Ibu sama Alia mau buat roti panggang, mas mau gak?? biar sekalian" tawar Alia dengan wajah ceria.


"Oh, hm.. boleh.. boleh.." sahut Topan.


"Oke, kita buat untuk mas Topan juga ya bu.." kata Alia pada ibu Topan yang hanya mangut-mangut saja.


Keduanya berlalu pergi menuju dapur sedangkan Topan berdiri di antara ruang makan dan arah menuju kamarnya dengan menatap Alia.

__ADS_1


***


0


__ADS_2