
"Apa kamu mau? memperjelas status kita??"
Deg.. Alia terpaku.
Topan menunggu dengan gelisah.
Alia diam dengan pertimbangan di dalam pikirannya.
"Alia rasa.." sahut Alia tergantung berat.
Kening Topan tertaut gelisah.
"Alia, bukanlah orang yang tepat untuk menjawab status apa yang pantas untuk pertanyaan mas saat ini.." jawab Alia merendah.
Bibir Topan terkatup gusar.
"Mas adalah orang yang baik, dan mungkin saat ini perasaan mas itu hanyalah perasaan sesaat karena merasa kasihan pada Alia.."
Deg.. Topan terlihat kecewa.
"Apa aku tak bisa memiliki hati mu??"
Alia menarik nafas cukup dalam untuk memenuhi relung-relung hatinya yang kosong. Dan terlihat jika Alia sulit untuk menjawabnya.
"Hati??" tanya Alia mengulang pertanyaan Topan. "Alia rasa saat ini tidak ada hati yang tersisa.." ucap Alia tergantung dengan rasa sesak di dadanya. " Semuanya sudah hancur saat perceraian terjadi"
Topan terpaku, seolah ia dapat melihat jelas wajah kesedihan yang selama ini Alia sembunyi dengan rapi.
"Status yang saat ini terlihat jelas adalah Alia hanya seorang pembantu, dan mas tetap lah majikan bagi Alia.. sebatas itulah yang bisa Alia jelaskan.."
Topan diam. Namun dari ucapan Alia yang tenang, terlihat tergambar jelas jika ia bukanlah wanita yang terbuai dengan ucapan. Perasaannya yang luluh lantak akibat perceraian telah membuat sisi percayanya hilang.
Seketika Alia mengalihkan tatapannya ketika menyadari sorot kekecewaan Topan.
"Alia akan lihat ibu, dan membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang.." ujar Alia yang memilih pergi meninggalkan Topan dengan kekecewaannya.
Sepeninggalan Alia, Topan yang masih berada di sana hanya bisa menghela nafas panjang. Penolakan Alia yang begitu tenang membuatnya kekecewaan. Namun ada sisi penyesalan karena telah menjadi bagian dari sebuah kesalahan yang menbuat Alia kehilangan segalanya.
"Apa ini hukuman untukku??" bisik Topan pada dirinya sendiri.
***
Dan siang harinya.
Setelah Topan membereskan biaya rumah sakit. Ia pun berjalan pada Alia dan ibunya.
__ADS_1
"Sudah beres, ayo kita pulang" ajak Topan pada keduanya.
Alia pun mengangguk dan mengajak sang ibu majikan untuk berjalan.
Namun ketika langkah ketiganya tiba di parkiran. Tiba-tiba Alia menyadari sesuatu.
"Ya ampun, mas!!" seru Alia dengan wajah gusar.
Topan menoleh ke belakang ketika hendak masuk kedalam mobil.
"Ada apa Alia?" tanya Topan yang ikut kerkejut dengan kepanikan sang pembantu.
"Anu Mas, Alia..Alia lupa ambil obat ibu.."
Topan pun seketika menghela nafas pelan.
"Ya udah gak papa, obat ibu kita pesan lain aja.."
"Jangan mas, obatnya masih ada beberapa strip lagi.. mubazir kalau gak di ambil, biar Alia balik ambil dulu ya mas" seru Alia dengan bergegas menaruh barang di bagasi belakang.
"Tapi Alia.." Topan menahan.
"Gak papa mas, gak lama.. sebentar ya.." ujar Alia dengan cepat berlalu pergi meninggalkan mobil sedan Topan.
Topan tak sempat menahan dan hanya bisa melihat pada punggung wanita yang baru saja menolak hatinya beberapa waktu yang lalu.
"La-par" ucap ibu dengan tatapan polos.
Topan menatap lekat sang ibu.
"Buk, apa masih bisa ibu berdoa untuk Topan??" pinta Topan pada wanita yang telah melupakan dirinya sebagai anaknya.
***
Di waktu yang bersamaan, Rudy baru saja tiba di halaman rumah sakit di tempat sang pengacara Topan dirawat.
Kedatangannya memang untuk menjenguk, namun ia juga datang dengan berbagai pertanyaan yang sangat mengusik pikirannya.
Bagaimana tidak, tadi pagi sang sekertaris memberi kabar jika Topan Syahputra mengundurkan diri sebagai pengacara Mahendra dan di gantian oleh Pengacara Yudika Nando.
Dan hal itu membuat Rudy marah, ia kecewa dengan pengunduran diri Topan yang secara sepihak tanpa ada masalah apa pun sebelumnya. Terlebih lagi, Topan sudah banyak mengetahui rahasia yang di percayakan Rudy pada sang pengacara.
Hingga Rudy akhirnya menjenguk sang pengacara demi mencari akar permasalahan langsung dari teman lamanya itu.
Rudy berjalan dengan melihat sekitaran untuk mencari Loby informasi.
__ADS_1
Dan tak lama kejelian matanya pun menemukan tempat yang ia cari.
Rudy berjalan pada sudut ruangan rumah sakit yang terlihat sedikit sibuk.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu mas"
"Siang, saya ingin menjenguk seorang teman.. tapi, saya lupa ia berada dikamar nomor berapa"
Sang perawat reseptionis pun mengangguk.
"Baik, namanya siapa?"
"Topan Syahputra.."
"Alamat??"
"Hmm, saya tidak tau.."
Sang perawat mengangguk.
"Sebentar coba saya cek dulu, mas" seru wanita itu ramah dan dengan cepat mengetik di keyword komputernya.
Dan Rudy pun menunggu sembari melihat pada aktivitas di sekeliling rumah yang terlihat sedikit ramai.
Namun di saat bersamaan ia melihat sosok yang berjalan dengan langkah terburu.
Deg... sesaat jantung Rudy berdebar.
"Alia??" seru Rudy berbisik dengan reflek melangkah untuk mengejar sosok yang terlihat hendak menuju lift.
"ALIA!!" panggil Rudy dengan suara keras dan berusaha mengejar wanita yang ingin ia rengkuh kembali.
Namun di saat bersamaan sebuah rombongan dengan membawa pasien kursi roda lewat di hadapan Rudy dan menghalangi langkahnya.
Rudy gusar ketika langkah terhalang pada rombongan yang membuatnya terhenti.
Dari kejauhan ia dapat melihat pada Alia yang akhirnya masuk kedalam lift.
Rudy berubah lewat dan mengejar lift tersebut.
"Alia???" panggil Rudy untuk kesekian kalinya pada nama yang begitu ia rindukan.
Namun ketikan langkahnya hampir sampai. Pintu lift pun tertutup dengan sempurna.
"Alia!!" seru Rudy dengan nafas terengah di depan pintu lift dan mencoba melihat pada arah pentunjuk lift.
__ADS_1
"Ck.." decak Rudy kesal dan marah pada dirinya sendiri.