Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Pejuang Sakral


__ADS_3

Dan hari bahagia itu pun tiba. Kesibukan nyonya Johan terlihat jelas sedari pagi menjelang.


Dari seorang desainer, ia menjelama menjadi WO yang super-super sibuk dan cerewet. Sang suami hanya bisa mengikuti keinginan sang istri untuk ikut turun tangan menyukseskan hari itu.


Alia di bawa kesatu tempat dan di dandani oleh tangan-tangan profesional. Namun yang sungguh mengherankan adalah sosok ibu Topan yang terlihat tenang berada di saat-saat persiapan itu.


Ia dengan setia menunggu Alia yang sedang berdandan.


Setelah hampir 2 jam make over, akhirnya Alia siap.


Dengan di balut kebaya putih dan sentuhan make up profesional. Kini Alia berdiri dengan wajah anggun khas pesona seorang pengantin.


Dinda tersenyum puas dengan hasil yang ia harapkan begitu sempurna.


"Kau benar-benar cantik Alia" pujian Dinda yang menantap Alia. "Topan pasti akan tambah terpesona.."


Alia tersenyum malu-malu. Ia masih tidak percaya melihat dirinya kini kembali mengenakan pakaian skaral itu lagi.


Jantungnua berdebar, ada rasa yang bercampur aduk, ada gelisah yang ia sendiri tak bisa atasi. Sungguh ia masih tidak percaya kini mengulang moment pernikahan dengan seorang pria yang mengubah hidupnya.


"Kamu siap, Alia??" tanya Dinda.


"Mh, iya mbak.." sahut Alia dengan segenap keyakinan yang coba ia kumpulkan.


Dinda mengangguk senang.


"Aku akan mengabari Johan untuk mempersiapkan mobil agar kita tidak terlambat.."


"Iya mbak.." sahut Alia mencoba untuk terlihat tenang dari rasa gugup juga meresahkan hatinya.


Dinda pun berlalu dengan wajah tak sabar untuk mengabari sang suami.


Alia tinggal di ruang rias itu dengan beberapa asisten sang master MUA.


Terlihat ibu Topan menantap Alia bingung. Alia menyadari hal itu, lalu perlahan mendekat pada ibu sang kekasih.


Alia menurunkan sedikit tubuhnya sembari meraih jemari ibu Topan yang kini juga terlihat berbeda dengan gaun pesta yang khusus dibuat dengan bahan ternyaman untuk ibu.


"Bu.."


Alia mengerjam gugup.


"Cantik.." ucap Ibu Topan tanpa terduga.


Alia terpaku, ia cukup terkejut mendengar ucapan ibu Topan yang jarang sekali mengungkapkan perasaannya.


"Ibu.."


"Can-tik.. Sukma" ucap ibu dengan menyentuh bunga pada hiasan rambut Alia.


Alia tersenyum bias, ternyata ibu Topan masih tidak mengingat nama Alia dan masih memanggil nama teman khayalannya "Sukma".


"Hari ini, ibu pasti bingung.." ucap Alia jeda. Ia sedikit teetunduk. "Alia akan menikah dengan anak ibu.. apa ibu setuju??" tanya Alia menantap bola mata kosong ibu Topan.


Hanya beberapa detik seolah mata tulus itu mengisyaratkan satu kalimat berharga.


"Terima-kasih.." ucap Ibu Topan tulus.


Alia memantung. Ia seperti terhipnotis oleh sorot mata ibu dapat menenangkan hati Alia yang gelisah.


Alia mengenggam jemari ibu dengan lembut. Entah mengapa jemari ibu membuat Alia tenang.


Dan keduanya tersenyum penuh arti.


***


Karena pernikahan yang di adakan dadakan, maka persiapan yang bisa dilakukan juga sangat sederhana. Dinda sudah berusaha semaksimal mungkin dengan bantuan sang suami yang sangat berpengaruh.


Terlihat dari dekorasi yang cukup minimalis di satu aula hotel, tamu undangan yang hanya berupa kerabat dekat Topan yang merupakan rekan kerjanya.


Topan menunggu dengan gelisah. Ia datang sendiri ke acara pestanya tanpa ada seorang pendamping. Sungguh pengantin pria yang mandiri. Dengan berbalut pakaian pernikahan yang cukup pas di tubuhnya, Topan terlihat gagah di hari spesialnya.


Setelah kabar bahwa sang pengantin wanita telah hadir, maka proses sakral pun tiba. Namun Alia harus di sembunyikan di satu ruang yang disiapkan.


Detik-detik yang menebarkan pun dimulai, serangkaian proses akad itu di jalani. Hingga tiba saat seorang wali Hakim mengulurkan tangannya di hadapan Topan. Topan menyambut dengan siap.


Tak lama satu kalimat suci pun terucap dengan tegas dan lancar dari mulut Topan. Bahwa ia mengambil satu tanggung jawab besar dengan menikahi seorang wanita yang akan menghabiskan sisa hidup bersama dalam mahligai pernikahan.


"SAH" sahut sang wali.


Maka segenap tamu undangan pun langsung mengucap syukur, begitu pula dengan Topan yang seketika merasa lega luar biasa.


Walau proses pernah Topan lalui, namun rasanya seolah baru pertama ia lakukan. Sungguh ucapan janji suci mempunyai beban tersendiri bagi setiap pria yang mengambil tanggung jawab terbesar di hidupnya.


Alia yang gelisah seketika kaget ketika, Dinda memeluk dirinya.


"Selamat Alia, kamu kini resmi menjadi Nyonya Topan Syahputra.."


Alia terrenyuh, tanpa sadar ia menitikkan air mata harunya.


Dan moment yang di tunggu pun tiba, ketika Alia harus keluar dari ruangan persembunyiannya.


Para tamu undangan sesaat terpanah akan hadirnya sang pengantin wantia yang begitu misterius.


Tak sedikit yang berdecak kagum akan paras anggun Alia.


Garis wajah teduh Alia seolah menghipnotis setiap yang melihatnya. Tubuh ramping berbalut kebaya seolah memancarkan sosok Alia yang sebenarnya. Sosok seorang wanita terpandang dengan aura yang bersinar.


Dari jauh, Topan terpaku. Sungguh ia tidak pernah menyangka akan menikahi lawan yang ia kalahkan di meja hijau.


Masih teringat kata tersakit yang pernah ia lontarkan pada sang lawan.


"SAYA YAKIN pasti tidak ada seorang pria yang akan menerima anda dengan sifat Nyonya yang begitu sombong dan angkuh, sungguh anda tidak punya hati seorang wantia yang seharusnya patuh pada perintah suami!!" tuding Topan berapi-api pada Alia, saat itu di meja hijau perceraian Alia dan Rudy.


Namun kini Topan menertawakan dirinya sendiri. Ternyata pria yang akhirnya menerima dan meminta cinta wanita sombong itu adalah dirinya. Karma Topan dibayar tunai dengan menikahi wanita dipersidangan itu, hari.


Langkah anggun Alia kian tiba di hadapan Topan. Seketika tangan Topan terulur dihadapan Alia.


Dinda yang membawa Alia pun memberikan tangan Alia pada sang suami.

__ADS_1


"Semoga kalian bahagia.." doa Dinda berbisik diantar keduanya.


Keduanya tersenyum simpul. Dan tak sengaja tatapan keduanya bertemu, sehingga membuat Alia malu.


Proses sakral itu pun kembali berlangsung dengan detik-detik Topan menyematkan cincin pernikahan mereka.


"Aku sadar, aku bukan pria yang sempurna dan aku sadar kau juga bukan yang sempurna.. tapi aku akan belajar jika kaulah yang menyempurnakan aku" bisik Topan di saat cincin itu kian melingkar di jari Alia.


Air mata Alia jatuh. Sungguh ia tak bisa berkata-kata. Hatinya bergetar. Keharuan menyelimuti hati Alia yang seketika merasakan tulusnya cinta Topan dengan menerimanya apa adanya.


Dan tak lama sebuah salam hikmad pun terjadi, sebagai tanda bahwa Alia menaruh rasa patuh dan hormatnya pada sang suami, Topan.


Keduanya duduk di meja sakral itu untuk menandatangani buku suami dan istri.


Dinda terus menangis di sisi sang suami, ia ikut terharu dengan perjuangan Alia hingga hari ini bisa menangis bahagia. Johan berusaha memeluk sang istri agar tak terlalu terhanyut dalam moment itu yang akan mempegaruhi kesehatannya.


Dan karena sang pengantin wanita terus menitikkan air mata, sehingga hal itu menbuatnya suasana berubah haru. Beberapa tamu juga ikut menangis bahagia menyaksikan moment sakral itu.


Kini tak akan ada lagi yang meragukan keduanya, yang sudah terikat sebuah pernikahan yang sah baik dimata agama dan hukum.


Di sudut ruangan penuh haru itu. Ibu Topan duduk melihat dari kejauhan kebahagiaan sang putra.


"Selamat berbahagia.. kini semua sudah berakhir" bisik batin ibu Topan yang tak bisa mengungkapkan perasaannya.


***


Acara pernikahan Topan terus berlangsung. Para teman silih berganti memberi selamat pada Topan yang terkenal kejam, namun kini begitu ramah dan tersenyum ceria.


Namun di sela-sela acara berlangsung, Kevin maju untuk menyumbangkan sebuah lagi untuk kedua pengantin.


"Perkenalkan aku Kevin, staff dari bidang perceraian.. Saya berdoa terbaik untuk atasan ku Pak Topan.. semoga anda bahagia pak, tolong bahagia pak agar kami para staff juga bisa bekerja dengan santai.. biar gak rasa bekerja dengan Belanda gitu pak.." sindir Kevin tertawa lepas di atas panggung.


Gelak tawa pun terdengar dari tamu yang merespon lucu pada ucapan spontan Kevin.


Alia pun tertawa lepas setelah sekian lama ia tak pernah tertawa semudah ini.


Topan jadi kesal namun ia harus mengakui ucapan sang bawahan yang mungkin selama ini makan hati dengan sikap kerjanya yang sangat tidak enak.


"Baik, saya akan membawakan lagu yang menurut saya cukup mewakili pasangan yang berbahagia hari ini.. "Cinta Luar Biasa untuk anda pak Topan dan mbak Alia.." ujar Kevin.


Dan tak lama terdengar suara alunan musik mengalun dari band yang mengiringi Kevin.


🎢Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Suara Kevin ternyata begitu enak di dengar, semua yang mendengar ikut bernyanyi bersama.


Topan secara spontan merangkul pinggang Alia dan ikut bernyanyi untuk sang istri.


Alia tersipu malu mendengar tiap bait puitis itu.


Tatapan keduanya saling bertemu seolah mengisyaratkan bahwa perjuangan keduanya akan dimulai. Namun Alia percaya mereka akan melewati dengan bersama, setelah semua yang terjadi mereka akan jauh lebih kuat untuk melewati semua cobaan nanti.


Hingga di akhir lagu, Topan menjatuhkan satu kecupan sayang di kening Alia. Alia memejamkan mata seolah menerima tulusnya cinta sang suami.




Setelah lagu usai, sorak para tamu pun terdengar riuh memberi pujian pada Kevin.


"Terimakasih.. terimakasih.. ini hanya hobi ku yang jarang aku tunjukkan.." sesumbar Kevin sombong.


Para tamu tertawa.

__ADS_1


"By the Way.. mumpung masih di beri izin pegang mic.. aku mau kasih pesan untuk kalian semua yang sudah menikah, khusus kalian para suami!!" Kevin berkoar dengan wajah dipasang serius.


Para tamu menaruh perhatian pada seruan Kevin.


"HEY, kalian para suami, pegang kuat istrimu jaga selagi ada, karena istri mu cantik dimata para Bujangan, apalagi dimata para duda apa lagi dimata para mantan-mantannya..!!" koar Kevin lantang.


Sontak Topan tersentil.


"Sialan Kevin!!"


Para tamu pria bersorak, begitu juga para tamu wanita yang merasa di atas awan.


Dan Alia ikut tertawa lepas di hari bahagianya di samping pria yang kini menjadi suami barunya, Topan Syahputra.


***


Acara pun berjalan hingga sore hari, dan kemeriahan itu usai. Hingga hanya tinggal para kerabat dekat Topan.


Dinda masih setia disana menemani Alia dan me jaga ibu Topan.


Di saat legang, Johan mendekat dan akhirnya memeluk sang teman dengan rasa bahagia yang sama.


"Selamat teman, kau sudah bukan duda lagi.." ujar Johan.


Topan terkekeh.


"Terima kasih.. kau sudah sangat baik.."


Johan mengangguk.


Dan tak lama Dinda mendekat pada sang suami.


"Syukurlah acara berjalan lancar.." seru Dinda lega.


"Terimakasih mbak Dinda.." ucap Topan sopan.


Dinda mengangguk senang.


"Berterimakasihlah pada suamiku, karena beliau memberi izin.." sahut Dinda memeluk sang suami dengan manja.


Topan tersenyum simpul.


"Kami harus pulang.." seru Johan.


Topan mengangguk paham.


Namun tanpa di sangka Johan mendekat dengan gerakan cepat, Johan menyelipkan sesuatu di kantong jas nikah Topan.


Topan terkaget. Namun Johan menyeringai licik.


"Ingat, besok kau harus masuk kantor!!" Johan memperingatkan sang pengantin pria terang-terangan.


Topan seketika berdecak.


"Sial, kau memang tidak ikhlas melihat aku bahagia!!" rutu Topan.


Johan merangkul sang istri dan berlalu pergi tanpa mendengar protes sang pengantin baru.


Ketika Johan berlalu pergi, Topan pun menyelipkan tangan pada kantong jas nikahnya untuk mengambil sesuatu yang diselipkan Johan tadi.


Dan sungguh diluar perkiraan. Ternyata sebuah kertas bil tagihan yang menbuat Topan tercengang.


"180 juta!!" serunya membaca nominal struk biaya yang dikeluarkan oleh pihak hotel.


Topan mengeram.


"Dasar!! aku pikir kau benar-benar tulus membantu.." rutu Topan yang benar-benar di kerjain oleh Johan.


***


Setelah menyelesaikan ramah tamah pada tamu-tamu terakhir. Akhirnya Topan mempunyai waktu longgar untuk sedikit bernafas.


Terlihat Alia duduk di meja sendiri dengan menikmati sekeliling ruangan pesta itu.


"Alia??"


Alia reflek menoleh kaget.


"Mas??"


Topan tersenyum kecil dan akhirnya menarik krusi dan duduk di samping sang istri.


Sesaat keduanya seperti canggung.


"Ibu??"


"Ah, ibu ikut asisten mbak Dinda sedang di luar sama mbak Feli tadi.."


"Oh.."


Sesaat Topan menatap lekat wajah sang istri yang begitu cantik di matanya.


"Apa kau bahagia??"


Deg.. Alia terpaku. Namun tak lama Alia tersenyum.


"Ya, sungguh bahagia.." jawab Alia dengan tatapan berbinar pada sang suami.


Sesaat keduanya saling menantap penuh arti. Hingga suasana itu membawa naluri Topan yang sangat ingin mencium bibir sang istri.


Perlahan Topan mendekat dan sedetik kemudian ia mengecup bibir sang istri untuk pertama kalinya setelah status mereka resmi suami-istri.


Cekrek.. seorang fotografer pun mengabadikan moment manis itu dari kejauhan.



πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—


Tolong jannah mas Topan dan mbak Alia 😘😘

__ADS_1


__ADS_2