Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Satu atap yang sama


__ADS_3

Dan akhirnya dengan hanya membawa satu buah koper biasa, Alia keluar dari kamar kost yang baru dua bulan ia tempati.


"Terima kasih ya, buk.. Alia ijin pamit" ujarnya dengan sopan ketika berpamitan dengan sang pemilik kost.


"Ya nak Alia" jawab pemilik kost berat karena kamar kostnya kembali kosong.


Topan menghampiri Alia dengan membantu membawa koper milik Alia.


Alia kaget.


"Pak?? jangan.." tolak Alia cepat.


Namun Topan tak peduli ia mengambil alih tas itu dari tangan Alia.


"Kamu bawa ibu saja" ujar Topan dan berlalu pergi meninggalkan Alia begitu saja.


Alia hanya bisa bengong melihat punggung sang majikan.


"Sukma??" Ibu Topan memanggil Alia.


"Ya??"


"La-par" seru ibu Topan dengan wajah cemberut.


Alia menghela nafas pelan lalu dengan pelan meraih lengan ibu sang majikan.


"Iya, kita pulang dan nanti Alia siapin makan ibu.."


Ibu Topan mengangguk.


"Maaf ya buk.. ibu jadi bangun sepagi ini.. maaf yaa" ujar Alia merasa bersalah.


Namun ibu Topan tak mengerti ia bahkan hanya tersenyum cengegesan ketika berjalan bersama Alia di sampingnya.


"Nanti susunya yang banyak yaa" pinta ibu Topan.


Alia tersenyum kecil.


"Iya" jawab Alia menyetujui.


Pagi yang berbeda untuk Alia dan juga Topan. Mungkin tak ada dalam sejarah majikan begitu khawatir pada sang pembantu. Namun Topan melakukan hal itu dengan sangat sadar seolah itu hal yang wajar saja.


Tapi, tanpa Topan sadari jika hatinya yang lebih tak tenang jika Alia berada di tempat yang tak layak untuk mantan Nyonya kaya itu.


Topan menaruh koper Alia di belakang bagasi. Dan tak lama terlihat dua wanita beda generasi itu saling berjalan bersama dengan senyum membingkai wajah mereka.


Topan memperhatikan dengan lekat moment itu dan itu membuat rasa gelisah semalam hilang entah kemana.


***


Setiba di rumah sang majikan, Alia segera melunasi janjinya pada ibu sang majikan yang sudah sangat lapar.


Ia menyiapkan sereal dan susu permintaan sang ibu majikan dengan cepat.


Topan pun ikut menyiapkan kopi pagi milik sendiri. Dan tanpa sengaja ia melihat aktivitas Alia yang begitu serius menyedu susu hangat milik ibunya.


Lalu tak lama Alia membawa sarapan itu ke hadapan ibu Topan yang sudah sedia di meja makan.


"Ini sereal ya dan ini susu spesial untuk ibu.. di gelas besar" seru Alia dengan semangat.


Ibu Topan antusias. Alia dengan cepat mengambil celemek makan untuk menutupi dada ibu Topan.


Tak lama, Topan juga kembali ke meja makan dengan secangkir kopi pagi miliknya dan akhirnya ikut duduk bersama di meja makan.


Tatapannya sesekali melihat dua orang yang membuatnya tenang.

__ADS_1


"Ibu, susunya ha-ngat ya.." jelas Alia memberi peringatan agar ibu Topan berhati-hati. Lalu ia meraih kursi dan akhirnya ikut duduk di samping ibu majikan.


Namun tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan tatapan sang majikan. Alia terkage dan seketika canggung.


Topan mencoba tenang dengan kembali menyerut kopi yang cukup hangat memenuhi rongga mulut ya.


"Hm, Alia.."


"Ya?"


"Kamar untuk kamu, belum di bersih kan.." jelas Topan.


"Oh, gak papa.. Alia bisa bersihkan nanti pak.."


"Jadi untuk sementara kamu tidur bersama ibu saja, ya?"


Alia terlihat berpikir.


"Hm, karena kamar kosong hanya ada di atas dan harus di kosongkan.. belum ada tempat tidur dan lemari" jelas Topan lagi.


"Oh"


"Karena itu aku akan membelikannya untuk kamu sebentar lagi.." sambung Topan.


Alia kaget.


"Hm, lebih baik gak usah pak.."


"Topan.. lebih baik kamu panggil aku Topan.."


Alia lagi-lagi di buat kaget.


"Ta-pi.."


Topan melihat reaksi tak nyaman Alia.


Alia menelan salivanya.


"Sejujurnya, aku gak pernah nganggap kamu pembantu, Alia.. kamu sudah baik merawat dan menjadi teman ibu ku.. dan aku merasa kamu tidak harus merasa rendah.." jelas Topan apa adanya.


Alia terpaku.


"Nanti aku akan bereskan kamar atas.. kamu fokus saja mengurus ibu.."


"Tapi, pak..ah" sela Alia tertahan ketika terlihat reaksi kening Topan berubah. "Hm, maksudnya mas.. Mas Topan tolong jangan seperti itu.. tolong biarkan Alia saja yang membersihkan kamarnya" desak Alia merasa tak enak menerima kebaikan majikan rumahnya.


"Tolong jangan buat Alia merasa tak enak menerima kebaikan, pa.. hm maksudnya mas Topan.." pinta Alia gelisah.


Mendengar perkataan Alia, Topan hanya diam dengan menatap lekat wajah Alia yang gusar.


Lalu tak lama ia mengangguk pelan.


"Hm, baik lah.. kalau kamu mau begitu.. tapi, tolong kerjakan nanti, setelah ibu tidur..karena.."


"Ya.. Alia ngerti, mas Topan" potong Alia lega.


"To-pan??" seru ibu Topan tiba-tiba.


Sontak Alia dan Topan terkaget.


"Apa buk?? ibu..ibu panggil siapa tadi??" cecar Topan yang kaget mendengar namanya kembali di kenali oleh sang ibu.


"To-pan?? Epan??" ucap ibu bingung.


Topan tersenyum simpul. Ternyata ibunya masih tak mengenali anaknya.

__ADS_1


Alia yang melihat raut wajah sang majikan pun ikut terbawa perasaan. Lalu ia meriah pundak ibu Topan.


"Ibu, namanya mas To-pan.. anak ibu" jelas Alia memberi pengertian pada ibu Topan yang menatap sang putra dengan tatapan kosong, tanpa ada cinta untuk sang putra lagi.


Topan menghela nafas pelan mendengar ucapan Alia dan hanya bisa menata hatinya yang sedih ketika melihat tatapan kosong sang ibu.


Alia mengenali ekspresi sedih di balik wajah tenang Topan. Namun ia tak bisa berbuat banyak, karena ibu Topan menderita Alzaimer.


Tak lama, Topan pun beranjak pergi meninggalkan Alia dan ibunya.


Terdengar langkah Topan masuk ke kamar dan pintu tertutup.


Alia pun menghela nafas pelan lalu menatap ibu sang majikan yang memainkan sendok di tangannya.


"Bu.. semoga ibu bisa ingat lagi sama putra ibu ya??" doa Alia pelan.


"Hm??" Ibu Topan menoleh ketika mendengar ucapan Alia.


Alia tersenyum simpul melihat respon ibu sang majikan.


"ibu tau?? putra ibu adalah anak yang baik sekali.. ibu pasti bangga sudah melahirkan dan membesarkan anak seperti mas Topan.." ujar Alia penuh makna, tapi sayangnya tak sedikit pun ucapan Alia mempergaruhi ibu Topan.


Ingatan ibu Topan benar-benar telah hilang dan kini ingatannya hanya seperti selembar kertas putih yang kosong.


***


Di saat bersamaan, Rudy berdiri dengan wajah kesal dan marah. Ketika mengetahui jika Alia Zatifah baru saja keluar dari kost kumuh itu.


"Tadi pagi, Alia di jemput oleh seorang pria.." jelas sang pemilik kost.


"Apa?? Pria??"


"Iya.." jawab pemilik kost yakin.


Rudy meradang dengan perasaan terkhianati. Ia tak percaya jika Alia memiliki kenalan pria.


"Apa ibu tau, orangnya seperti apa??" tanya Rudy cemas.


Sang pemilik kost terlihat berpikir.


"Tinggi, necis dan kayaknya orang kaya.."


Rudy mendengar dengan kesal, itu bukan ciri yang ia inginkan.


"Dan.. pria itu bawa ibu-ibu tua.."


Kening Rudy bertaut heran.


"Ibu tua??"


"Iya.. ibu-ibu tua.. tapi kayaknya ibu itu sakit.."


Lagi Rudy dibuat tak mengerti dengan penjelasan yang terlalu tidak mendetail dari sang ibu pemilik kost.


"Ibu.. jika nanti Alia kembali, bisa tolong hubungi saya??" Rudy mengeluarkan kartu nama miliknya dan memberikan pada wanita gendut pemilik kost.


Ibu kost menerima dengan membaca kartu nama pemberian Rudy. Dan seketika raut wajahnya berubah kaget.


"Rudy Mahendra?? Rudy.. Rudy Mahendra yang kaya itu??" ulang ibu kost dengan wajah kaget bukan kepalang ketika membaca nama yang tertera di kartu nama itu.


Rudy tak mengubris rasa kaget sang ibu kost.


"Tolong kabari saya, jika Alia kembali.. mengerti??" perintah Rudy dengan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan memberikannya pada sang ibu kost.


Ibu kost berubah sumbringah ketika mendapatkan rejeki di pagi hari.

__ADS_1


"Waah.. iya..iya, akan saya hubungi pak Rudy jika mbak Alia kembali..pasti " janji sang ibu kost berbinar-binar.


"Oke, saya tunggu" ujar Rudy dengan berlaku pergi dari tempat kost kumuh itu.


__ADS_2