
Disepanjang jalan pulang Topan memikirkan ucapan sang atasan.
"Cari jawabannya??" ucap Johan saat itu.
"Ck.. mau cari bagaimana??" rutu Topan menghela nafas panjang sembari melakukan mobilnya ke arah jalan pulang.
Di sepanjang jalan pulang, terlibat beberapa pedagang tengah menjajakan makanan di rak mereka. Di beberapa rak terjadi antrian dan kerumunan.
Topan melihat sekilas dan membaca nama stiker yang tertera di rak jualan di pinggir jalan itu.
"Piscok rasa cinta" gumam batin Topan. Tak lama ia melihat lagi nama stiker di tak jualan yang lain.
"Bakso cilok.. cinta lokasi" ulangnya membaca dengan terheran. Lalu menggelengkan kepala ketika membaca nama-nama absur jajanan itu.
Dan terakhir ia melihat satu rak jajan lain.
"Martabak Raja.." ucapnya membaca. Dan entah mengapa ia penasaran hingga akhirnya ia memperlambat laju mobil dengan perlahan menepi di pinggir jalan.
Tak lama ia memarkirkan mobil sedannya dan membuka sabuk pengaman lalu turun.
Topan berjalan menuju rak jajanan martabak Raja tersebut.
"Sore mas, mau pesan apa??" tanya salah seorang pria dengan wajah tersenyum.
"Memang ada menu apa aja??" tanya Topan. Tak lama pria itu memberikan list menu pada Topan.
Topan meraih dan mulai membaca satu persatu tulisan yang ada di kertas yang sudah di lapisi plastik.
Mata Topan pun tercengang.
"Martabak selir?? Martabak putri.." ucapnya bergantian.
Sang penjual terlihat tersenyum ketika melihat wajah sang pembeli yang kaget.
"Iya mas, nama martabak kita kan Raja.. menunya yaa harus cocok.. ada selir 1 coklat.. selir 2 keju.. selir 3 srikaya..selir 4 missi.."
Topan mengangguk.
"Kreatif juga sih.." seloroh Topan dengan tertawa kecil.
Sang penjual sedikit tersipu malu mendengar pujian Topan.
"Tapi kalau mas mau yang spesial bisa juga ada martabak permaisuri.."
"Permaisuri?"
"Iya mas, permaisuri..isinya agak komplit.."
"Ooh.."
"Atau mas mau martabak lebih spesial lagi?? ada kok mas namanya martabak Ratu.."
__ADS_1
"Hah? Ratu??"
Sang penjual tertawa kecil melihat ekspresi keterkagetan Topan.
"Iya mas, martabak Ratu..cuma agak mahal.."
Kening Topan bertaut heran.
"Kenapa?"
"Karena martabak Ratu bahanya beda mas, dia bahannya premium.. bukan bakai butter biasa, bahannya ancor dan keju mozzarellanya juga yang mahal.. beda dengan martabak selir dan permaisuri"
"Oohh.."
"Karena Ratu itu kan identik dengan hal yang mahal bukan pakai hal yang murah, dia istimewa.. semua bahan kita pakai premium.."
Topan mangut-mangut mencoba paham.
"Jadi kalau martabak Raja?? isinya apa aja??"
"Maaf mas, martabak Raja gak ada.." jawab sang penjual cepat.
"Loh?? kok gak ada?? katanya martabak Raja??" tanya Topan terheran.
Sang penjual tersenyum simpul.
"Iya mas, karena mas sendiri adalah Raja.. "
"Kan motonya pembeli adalah Raja.. Dan mas adalah Raja yang bebas memutuskan selera mas untuk memilih menu Ratu, Permaisuri atau selir.." jawab sang penjual apa adanya.
Sontak Topan tertawa lepas. Ia tak menyangka mendapat jawaban yang begitu mengelitik dari sang penjual.
"Jadi mas Raja mau milih menu apa??"
Topan terkekeh geli, namun pandangannya kembali melihat pada list menu lalu berpikir sejenak dengan pikiran tertuju pada sosok Ratu yang bersembunyi di dalam rumahnya, Alia.
"Hmm, kayak saya akan memilih Ratu saja.."
"Oke.."
Topan melihat pada sang penjual.
"Tolong buat yang spesial dan yang terbaik untuk Ratu ku.." jawab Topan meniru ala-ala Raja.
Sang penjual pun kembali tersenyum kecil, lalu dengan sigap melakukan pekerjaannya kembali.
***
Dan 35 menit kemudian, sedan mewah Topan pun akhirnya tiba di depan pintu garasinya. Ia turun dengan wajah senang dengan membawa 2 plastik martabak Ratu yang hangat dan harum di tangannya.
Langkah Topan begitu ringan menuju depan rumahnya. Dan hampir beberapa langkah ia tiba di depan pintu. Tiba-tiba pintu itu terbuka.
__ADS_1
Langkah Topan terhenti.
"Selamat datang Mas Topan.." sambut Alia dengan wajah berbinar.
Deg.. Topan terpaku. Dan tak lama sosok ibu Topan juga tersenyum kecil menyambut sang anak.
"Kalian??" seru Topan.
Alia tersenyum.
"Hari ini ibu semangat banget nungguin mas pulang, ibu bahkan udah mandi loh" Alia menjelaskan.
"Ooh.." Topan hanya bisa tersenyum kecut, ia pikir Alia memang sengaja menunggu dirinya.
"Hhmmm, harum banget.." ujar Alia mencium aroma makanan yang begitu menyegat.
Topan tersadar.
"Oh, iya.. ini mas bawa pulang oleh-oleh.."
Alia berbinar.
"Oya?? waah asyik.." sorak Alia pada Ibu Topan.
"Ini, mas bawa pulang martabak.." jelas Topan dengan memberikan pada Alia.
"Martabak??"
"Heem.. martabak Ra.." ucap Topan tergantung.
Alia mendelik menunggu ucapan Topan yang terpotong.
"Martabak Bangka manis.."
"Oooh.. pasti enak nie, dari wangi ya aja udah ke cium" seru Alia. "Masuk yuk buk, mas Topan bawa makanan enak nie.." ajak Alia pada ibu Topan.
Kedua wanita beda generasi itu pun akhirnya masuk bersamaan. Dan meninggalkan Topan yang masih di posisinya dengan memandang Alia yang berlalu.
Namun tak lama Alia sadar.
"Loh, mas.. ayo masuk.. oia, mas mau Alia siapin kopi??" tawar Alia dengan menoleh pada sang majikan yang masih berdiri di luar rumah.
Topan tersadar.
"Oh.. oh oke.. Mas mau" jawab Topan cepat.
Sekilas Alia terlihat tersenyum sangat manis pada Topan
Deg.. dan hal itu sukses membuat Topan terkesima.
Perlahan Topan menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ya Tuhan, lama-lama aku takut untuk masuk kerumah ku sendiri!!" rutu batin Topan yang mengutuk dirinya karena kian tak bisa mengobrol debaran jantungnya ketika melihat Alia.