Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
5 menit..10 menit


__ADS_3

Malam harinya. Setelah selesai menidurkan ibu Topan.


Alia akhirnya bisa bernafas lega. Sekilas ia melirik jam dinding dengan heran.


"Udah jam 9, tumben, mas Topan belum pulang" gumam batin Alia. Namun, tak lama Alia menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku jadi kepikiran, bisa jadi dia lembur" pikir Alia dengan cepat membersihkan hal-hal yang tak pantas ia cemaskan.


Tak lama Alia pun terserang rasa ngantuk, Alia pun tertidur di samping ibu Topan dengan tenang.


***


Di tengah malam, Alia terbangun karena rasa haus. Ia merasa tenggorokannya kering.


Dengan perasaan berat Alia beranjak bangun dari tidurnya untuk mengambil segelas air hangat untuk di minum.


Dengan perlahan-lahan, Alia keluar dari kamar ibu Topan yang masih tertidur lelap. Langkahnya pun terus menuju dapur belakang.


Setiba di dapur ia mengambil gelas dari laci rak dan berjalan menuju dispenser.


Cuuurrrt.. air hangat turun dan memenuhi gelas Alia. Sesaat terdengar suara rintik hujan, Alia mendengar dengan seksama.


"Waah, gerimis.." ujar Alia sembari melihat isi gelasnya yang hampir penuh. Namun Alia menyudahi menekan tombol dispenser lali segera minum air hangat tersebut hingga setengah.


"Ah.." hela Alia merasa tenggorokannya kembali basah setelah kering karena AC kamar ibu Topan. Baru dua malam tidur di kamar yang sejuk karena AC membuat Alia harus kembali beradaptasi, setelah beberapa bulan tidur dengan hawa kamar yang panas di kost murah.


Setelah merasa lega, Alia kembali meneguk air di gelas itu sampai habis dan membawa gelas kosong itu kedalam wastafel pencuci piring.


Kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang dapur untuk kembali tidur.


Namun ketika ia kembali, terlihat lampu ruang tengah hidup. Dan seingat Alia, lampu ruang itu tadi sudah di matikan. Tanpa pikir panjang Alia pun memilih untuk mematikan lampu tersebut.


Baru beberapa langkah Alia menuju sakelar lampu, ia terkaget ketika melihat sosok Topan malah tertidur di Sofa dengan masih mengenakan jas dan sepatu di kakinya.


Alia menatap heran lalu sekilas menoleh pada jam dinding ruangan itu dan terlihat jika jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 malam.


"Udah jam 2??" lirih Alia dengan kembali menatap sosok Topan. Sejenak ia berpikir, pasti tidaklah nyaman sang majikan tidur dengan sepatu masih melekat di kakinya.

__ADS_1


Alia menghela nafas panjang dalam bimbangnya, apakah ia membiarkan saja sang majikan tertidur seperti itu?? atau haruskan ia melepaskan sepatu itu agar tidur Topan lebih nyaman??.


Alia mengigit bibir bawahnya dengan terus berdebat dengan hati nuraninya.


Namun, pada akhirnya ia mengalah, pada sisi rasa kasihan.


"Yah, lebih baik di copot saja" gumam Alia berbisik dengan dirinya sendiri.


Perlahan Alia melangkah menuju Sofa tersebut. Alia terlihat ragu-ragu ketika akan menyentuh kaki sang majikan.


Batinnya kembali berdebat.


"Gimana kalau mas Topan bangun?? kamu mau jawab apa, Alia??" tanya batin Alia gusar. "Bagaimana jika mas Topan bangun, dan dia berpikir jika kamu sedang mengoda dia??" rutu batin Alia kembali berdebat.


Alia menggeleng gusar dan sekilas ia menatap wajah sang majikan yang tertidur lelap.


"Gak papa Alia, mas Topan pasti akan lebih nyaman jika sepatunya di buka.. pelan-pelan, pelan-pelan pasti mas Topan gak akan terbangun" gumam batin Alia yang membulatkan niatnya.


Perlahan Alia mendekat dan turun untuk meriah ujung sepatu sang majikan. Ia meraih pergelangan kaki Topan dan membuka dengan sangat hati-hati sepatu sang majikan.


Tak lama Alia pun melakukan hal yang sama pada kaki sang majikan sebelah kiri. Perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian.


Slep.. sepatu sebelah kiri pun kembali terbuka dengan mudah. Alia pun tersenyum puas dan meletakkan sepatu kerja itu pada pasangannya di bawah.


Alia lega dengan menoleh pada wajah tenang sang majikan yang kian lelap tertidur. Namun ketika tatapan Alia melihat jika simpul dasi masih berada di kerah baju Topan.


Dan itu membuatnya terpaku, sesaat ia terbayang sosok sang mantan suami yang dulu memiliki kebiasaan seperti itu.. Hingga tanpa sadar Alia berpindah untuk mendekat pada Topan.


Alia menatap tenang wajah tertidur sang majikan. Dengan ragu perlahan jemari Alia meraih simpul dasi yang masih terikat rapi di kerah baju Topan.


Dengan hati-hati Alia menarik simpul dasi itu, ia terus menarik hingga sampai pada ujung simpul dasi hingga terlepas.


Alia bernafas lega, namun disaat yang bersamaan kedua kelopak mata sang majikan pun terbuka sempurna.


Deg.. Alia mematung ketika bola mata Topan menatap lekat dirinya yang tepat berada di hadapannya dengan jarak sedikit dekat.

__ADS_1


"Ah, ma..ma-maaf" lirih Alia kaku lalu dengan cepat melepaskan tangannya dari dasi Topan dengan wajah canggung.


"Ma-maaf.. A-lia ha-nya.." ucapan Alia kacau.


Lalu dengan cepat Alia bangun tanpa menyelesaikan ucapannya dan hendak meninggalkan Topan.


"Maaf mas.." ucap Alia dengan membalikkan langkah.


Namun tanpa di duga, sebuah tangan dengan cepat meraih pergelangan tangan Alia.


Grep..


Alia terjegat dan menoleh dengan bingung pada Topan yang menahannya.


"Alia.." Topan menatap Alia yang gusar.


"Maaf, tapi, mau kah kamu berada disini, 5 menit, tidak.. 10 menit" pinta Topan dengan tatapan yang dalam pada Alia.


Alia membalas tatapan Topan yang terlihat sendu. Ia tak mengerti dengan permintaan sang majikan. Namun, entah mengapa Alia malah mengangguk dan menyetujui permintaan Topan tersebut.


Perlahan, Alia kembali turun dan duduk di sisi Sofa. Topan menatap dalam diam.


"Tidurlah..Alia akan disini" ujar Alia pelan.


Topan tak menjawab, namun ia masih terus memegang lengan Alia tanpa melepaskannya. Dan entah dari mana rasa nyaman itu datang, hingga perlahan-lahan kedua kelopak mata Topan pun kembali terpejam dengan tenang.


Alia terduduk dan ia termenung dengan menatap wajah tenang sang majikan yang kembali tidur.


Di dalam keheningan itu.


Sesaat Alia seolah kembali pada persidangan perceraian. Wajah tegas sang pengacara Topan terlihat jelas disana. Tiap tuduhan yang ia sampaikan, mewakili permintaan sang klien Rudy Mahendra.


Dan saat ini, sang pengacara tertidur lelap dengan terus memegang tangannya.


Alia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2