
"Yang Mulia, kami meminta pertimbangan paling bijak.. dan kami sangat berharap bukti ini dapat memberikan petunjuk yang dapat membersihkan nama saudara Topan Syahputra dari tuduhan yang di layangkan oleh saudara Rudy Mahendra.. demikian, terima kasih.." tutup Kevin dengan sangat tenang.
Dan sepasang mata tajam menatap pada Kevin. Tampaknya kubu Topan telah siap dengan sangat matang.
Setelah Kevin menyelesaikan laporan pembuktian, ia kembali duduk dengan wajah bangga.
Namun belum lama Kevin duduk dengan tenang, tiba-tiba kuasa hukum Rudy pun mulai bangkit dari duduknya.
"Izin Yang Mulia, kami sangat keberatan Yang Mulia .." sela pria paruh baya itu dengan nada tegas.
"Diterima.." sahut sang Hakim.
"Saya melihat ini sangat tidak fair, bukti itu terlalu tidak jelas.. itu hanya gambar yang di rekam, sedangkan kenyataannya ada poin yang harus kami perjelas lagi.."
Kubu Topan menanggapi dengan tatapan sinis.
"Kurang jelas apa lagi?? apa pak tua itu buta??" celetuk Kevin kesal.
Johan menepuk pundak Kevin untuk tenang. Sedangkan Topan hanya mendengar tanpa menyela.
"Jelaskan hal yang tidak jelas tersebut?" pinta sang Hakim.
"Baik Yang Mulia terimakasih, Pertama, saudara Rudy Mahendra datang dengan niat yang baik.. Kedua. Wanita yang berada di rekaman CCTV itu terlihat tak menyambutnya dengan baik..padahal niat saudara Rudy Mahendra hanya ingin bertemu dengan wanita tersebut.. jadi, dimana bukti jika Rudy Mahendra datang menganggu dan mengusik ketenangan rumah saudara Topan Syahputra.. karena sedari awal, saudara Rudy TIDAK MENGETAHUI jika rumah bernomor 15 itu adalah rumah saudara Topan Syahputra.." ucap sang pengacara paruh baya itu dengan penuh penekanan.
Riuh redam pun kembali terdengar setelah paparan penjelasan dari kubu Rudy Mahendra.
"Dasar licik.." celetuk Kevin.
Tanpa di sangka-sangka Topan mengajukan tangan.
"Izin Yang Mulia.." pinta Topan.
Sang Hakim terlihat menimbang.
Johan membaca ekspresi wajah sang Hakim dan terlihat tak biasa.
"Di Tolak.."
JLEB..
Para anggota sidang mulai berbisik curiga.
__ADS_1
"Ini tidak biasa" ujar Johan berbisik.
Topan mengangguk pelan. Kevin mengepal tangannya di bawah meja, pasti ada permainan didalam sidang ini.
"Yang Mulia" sela Kevin. "Izinkan kami menjelaskan" ujar Kevin.
Sang Hakim masih menimbang.
Namun hal itu menimbulkan riuh-riuh dari bangku anggota sidang tersebut yang mulai berkomentar.
Tok..tok..tok..
"Tenang..tenang!!" perintah sang Hakim mengambil alih.
Suasana pun kembali hening. Hanya ada tatapan saling tak percaya yang terpancar dari wajah-wajah yang penasaran dari rahasia yang belum terungkap.
Sang Hakim Agung kembali membaca catatan yang telah ia tulis di atas meja.
"Saya ingin bertanya pada saudara Rudy Mahendra terlebih dahulu.."
Rudy bersiap.
"Saya ingin bertanya apa saudara Rudy Mahendra kenal dengan wanita didalam rekaman CCTV tadi??" tanya Hakim Agung.
"Siapa??" tanya sang Hakim kembali.
Rudy menelan salivanya.
"Alia Zatifah, mantan istri saya.." sahut Rudy tanpa ragu.
Bisik-bisik pun terdengar halus setelah mendengar nama wanita dan status wanita ya f ada di dalam rekaman CCTV tersebut.
"Jadi wanita di dalam CCTV tersebut adalah mantan istri anda??"
"Benar Yang Mulia.." sahut Rudy kembali.
"Apa anda tau?? jika rumah nomor 15 itu adalah rumah saudara Topan Syahputra??" tanya sang Hakim.
"Tidak Yang Mulia.."
Wajah-wajah penasaran kian terlihat jelas tiap mendengar jawaban tak terduga dari Rudy.
__ADS_1
"Lalu, anda kepentingan apa saudara Rudy datang kerumah nomor 15 tersebut??" tanya sang Hakim.
Glek..saliva Rudy tertelan kasar.
"Saya keberatan untuk menjelaskan Yang Mulia karena ini adalah hal pribadi saya, tapi saya datang dengan niat baik untuk bertemu dengan mantan istri saya.." jawab Rudy tenang.
Sang Hakim kembali terlihat melihat kertas di meja miliknya lalu menulis sesuatu.
"Lalu bagaimana anda tau bahwa mantan istri anda berada di rumah nomor 15??" tanya Hakim kian spesifik.
Sesaat Rudy sedikit berpikir.
"Semenjak saya bercerai dengan mantan istri saya, saya kehilangan kontak dengan Alia.. karena satu dan lain hal, saya mencoba untuk mencari keberadaan mantan istri saya kembali, hingga mendapatkan sebuah informasi jika Alia berada di komplek Xx dan tinggal di rumah nomor 15.." jawab Rudy tenang. "Tapi, saya tidak mengetahui sama sekali jika rumah bernomor 15 itu adalah rumah Topan.. saya bersumpah Yang Mulia, saya tidak mengenal Topan Syahputra.."
Topan mendengar dengan raut wajah serius.
"Jadi mantan istri anda tinggal di rumah nomor 15?? dan ternyata rumah itu milik saudara Topan Syahputra??" tutur sang Hakim dengan menarik garis besar.
"Benar Yang Mulia, kenyataan yang saya baru tau adalah mantan istri saya tinggal di sana.." sahut Rudy.
Sang Hakim kian memutar otak untuk mengorek info.
"Jadi sedari awal niat anda hanya ingin mencari mantan istri anda, begitu?"
"Benar Yang Mulia.." sahut Rudy. " Dan saya tidak tau jika mantan istri saya bekerja di rumah itu"
Topan meradang, ia mengepalkan tangannya dibawah meja. Penjelasan Rudy membakar perasaan marah pada pria yang sudah membuatnya menjadi pengacara perceraian terbodoh.
"Yang Mulia.." potong Topan mencoba mengambil sikap di sidang.
Semua orang menantap Topan.
"Lanjutkan.." Sahut Hakim.
"Terimakasih, Yang Mulia.. saya punya pertanyaan kepada saudara Rudy Mahendra.."
"Diterima.." sahut Hakim Agung.
Topan menantap Rudy lekat dengan mata tajam
"Jika benar saudara Rudy tidak mengetahui jika itu adalah rumah saya.. maka mengapa saudara Rudy begitu marah ketika saya membela Alia Zatifah??" tanya Topan dengan sengaja menyinggung. "Apa benar, seorang Rudy Mahendra tidak mengenal saya secara personal??" tuding Topan menantang balik kubu lawan.
__ADS_1
Rudy menatap tatapan Topan dari mejanya. Terlihat jelas kilatan kebencian di antara keduanya. Dua orang pria yang terlihat berambisi untuk membunuh satu sama lain.
"Dan satu pertanyaan lagi untuk anda Tuan Rudy Mahendra.. ada HAK apa anda sampai merasa keberatan dengan pekerjaan Alia Zatifah?? bukankah anda sudah menceraikkan mantan istri anda itu dengan sangat KEJAM!!" timpal Topan dengan memukul semua pernyataan Rudy yang ia nilai terpaku sentimentil.