Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Gagal lagi


__ADS_3

Sungguh hari-hari bahagia itu tengah menyelimuti kehidupan Topan.


Waktu Topan kini jauh lebih berwarna, sosok Alia pun sedikit demi sedikit kian membuka hatinya pada sang majikan.


Seperti pagi ini, Topan bersama Alia di dapur belakang. Keduanya terlibat aktivitas baru masak bersama.


Topan memamerkan keahlian memasak yang selama ini di sembunyikan. Menu soto daging tengah di racik bersama sang kekasih.


Alia yang tidak bergitu piawai soal perdapuran hanya menjadi asisten sang koki dapur.


"Minta daun salam.." perintah Topan dengan tangan menengadah menunggu sembari satu tangan yang lain mengaduk centong pada wajan.


Alia dengan cepat mencari daun yang di maksud sang majikan. Namun ia bingung sendiri dengan dedaunan yang ada di dalam plastik belanja.


"Mana daun salamnya Alia.." pinta Topan sembari mengaduk bumbu halus yang tengah di tumis.


"Ah, iya mas sebentar.. " sahut Alia dengan menimbang di antara 3 daun di tangannya.


Kening Alia bertaut bingung di antara ketiga daun yang sama-sama hijau namun memiliki bentuk berbeda.


"Aduh, yang mana daun salam sih??" tanya Alia pada dirinya yang benar-benar buta akan rempah berbumbuan.


"Alia?" panggil Topan untuk ketiga kalinya dengan menoleh sekilas.


Mendengar namanya di panggil, Alia langsung membawa ketiga daun yang ada di tangannya pada sang majikan.


"Ini mas" seru Alia dengan menaruh di atas tangan sang majikan yang sedari tadi menunggu.


Dan tanpa melihat pada tiga daun di tangannya, Topan langsung memasukkan daun-daun itu ke dalam wajan tumisan.


Namun ketika ketiga daun itu tercemplung sempurna di dalam tulisan, wajah Topan terkejut.


"Ya ampun Alia, ini daun apa?" tanya Topan yang tiba-tiba menarik daun yang ia kenal bukan daun salam.


Alia ragu-ragu.


"Gak tau.." jawab Alia polos.


"Loh?? kamu gak tau ini daun apa?" tanya Topan heran.


Alia reflek menggeleng.


Topan terkejut.


"Ini tuh daun kemangi Alia.."


"Ooohh, kemangi.."


Topan menghela nafas dan membuang daun yang sudah kecampur bumbu dan mencari sendiri daun salam yang ia butuhkan. Dia tak perlu waktu lama ia menemukan daun yang menjadi rempah tambahan dalam tumisan.


"Ini baru namanya daun salam.." tunjuk Topan pada Alia, lalu daun tersebut ia cuci dan baru memasukkan kedalam tumisan yang hampir matang.


"Ooh" Alia hanya bisa menjawab O bulat dan hanya mengangguk saja.


Topan kembali mengaduk tumisan tersebut dan tak lama mematikan api kompor.


Clek.. kenop kompor mati dan harum aroma tumisan soto itu begitu harum.


"Hmmm, wangi banget mas..jadi laper"


Topan mendengar dengan senang pujian Alia.


"Sabar ya, kita masukkan santan dulu, lalu masak sampai mendidih baru jadi sotonya.." jelas Topan dengan mengambil sebuah panci dari dalam kabinet rak dapur.


Topan melakukan dengan sangat piawai. Alia sedikit merasa tak enak, ia jadi minder melihat Topan yang begitu pintar dalam urusan dapur.


"Mas kok bisa masak sih??" tanya Alia.


Topan sesaat menoleh lalu kembali fokus ketika menaruh panci ke atas kompor dan menghidupkan api sedang.

__ADS_1


"Mas dulu sempat bantu jualan di salah satu rumah makan padang.." sahut Topan setengah mengenang.


Alia menyimak sembari melihat aktivitas Topan yang memasukkan air dan beberapa kotak kecil santan kara instan kedalam panci.


"Mas bukan mahasiswa pintar, sudah jelas tidak ada beasiswa untuk kuliah.. jadi untuk membayar uang kuliah mas jadi pekerja dapur di rumah makan padang.." jelas Topan dengan meraih salah satu serbet dan mengelap tangannya yang sedikit basah.


Alia terlihat tertegun.


"Dari buruh cuci piring, lama-lama di percaya di perdapuran.. yaa berawal kupas bawang, kentang, bersihkan daging bahkan ayam juga Mas lakukan saat itu.." kenang Topan dengan senyum simpul mengenakan perjuangan mas kuliahnya dulu.


"Terus.."


"Hm, setelah itu.. Mas sering lihat para koki masak, karena terlalu sering lihat, lama-kelamaan mas jadi hafal semua bumbu masakannya.. "


"Waaah.." kagum Alia tanpa sadar.


"Tapi.. yaa gak semua juga sih.. kayak rendang mas gak bisa.. karena bumbunya agak ribet dan prosesnya lama, beda dengan masakan yang lain.." sambung Topan.


Dan ucapan itu mengundang senyum Alia.


"Hebat dong.. yaa setidaknya mas bisa masak.. sedangkan Alia, jangankan masak bumbu dapur pun Alia gak tau.." ucap Alia sedikit murung.


Topan tersenyum kecil.


"Bisa kok.." jawab Topan menghibur. " Kamu cuma butuh jam terbang aja, harus sering masak.. nanti juga bisa.." ucap Topan dengan menatap wajah murung Alia.


"Tapi..".


Topan menghela nafas lalu ia menarik Alia untuk mendekat dengan dirinya.


Alia terkaget.


Lalu dengan tak terduga Topan membalikkan tubuh Alia agar menghadap pada panci di atas kompor. Dan satu tangannya menuntun tangan Alia untuk memegang centong kuah dan bersama mengaduk kuah soto.


Deg..tubuh Alia bereaksi, ia dapat merasakan hela nafas Topan di samping wajahnya.


"Semua proses hidup itu butuh yang namanya belajar.. apa pun itu semua butuh jam terbang hingga bisa, gagal berhasil itu pasti terjadi.. maka mulai dari hal yang mudah dan kemudian naik ke step yang lebih menantang.." ucap Topan sembari menuntun tangan Alia mengaduk kuah soto yang mulai terasa uap panasnya.


Alia tertegun mendengar ucapan sang majikan yang begitu penuh arti.


"Tidak ada yang tidak bisa, jika kamu ingin memulai maka lakukan tanpa ragu.. dan mas akan ada disini temenin kamu" bisik Topan di pelipis wajah Alia.


Deg..deg.. detak jantung Alia kian tak terkontrol. Untuk sesaat keduanya terdiam dengan terus mengaduk kuah soto yang terlihat akan mulai mendidih.


"Mau coba??" bisik Topan tiba-tiba.


"Hah??" Alia terkegat kaget dan menoleh pada wajah Topan hingga jarak wajah sang majikan dan dirinya berikut dekat.


Dan tanpa di sangka tatapan keduanya bertemu.


"Apa??" ulang Alia ragu.


Topan sedikit menyeringai kecil.


"Kenapa kaget??"


Alia salah tingkah dengan keterjutannya.


"Ah.. hm.." Alia tampak bingung sendiri dengan jawaban.


Namun tanpa di duga, tangan Topan yang bertaut bersama tangan Alia, menbawa sedikit kuah soto di centong dan menaruhnya di atas telapak tangan Topan yang bebas.


Alia terkejut.


"Mas?? itu kan panas" seru Alia khawatir.


Namun di luar dugaan Topan malah meniup pada kuah soto yang berada di telapak tangannya dan tak lama memberikan kehadapan Alia.


"Coba dirasa, udah pasti belum rasa sotonya" seru Topan pada Alia.

__ADS_1


Alia ragu. Namun perlahan bibirnya menyentuh telapak tangan sang Majikan dan menjilat sedikti kuah yang ada di telapak tangan Topan.


Sluppp..


Dan beberapa detik wajah Alia berubah takjub.


"Wah mas, enak"


Topan tersenyum lega.


"Syukurlah kamu suka.."


Alia ikut tersenyum senang.


Sesaat tatapan keduanya saling bertemu satu sama lain dengan pancara penuh arti.


Topan menelan salivanya dengan ragu, ada hal yang mendorong hasratnya ketika menatap wajah bahagia Alia.


"Hm, kalau begitu Alia ambil mangkuk ya.." seru Alia yang tiba-tiba canggung dan hendak melepaskan diri dari Topan.


"Tunggu.." ucap Topan menahan.


Alia menatap Topan.


"Masih ada yang kurang.." ujar Topan dengan cepat mematikan api kompor lalu kembali menatap Alia.


"Apa??" tanya Alia bingung.


Topan tersenyum kecil lalu perlahan menarik kembali Alia dan mengunci tubuh wanita itu didalam rangkulannya.


Deg.. Alia terkaget.


"Mas.."


"Sepertinya mas juga harus cicipi dulu rasa sotonya sebelum di hidangan kan.."


Kening Alia tertaut dengan bibir yang gelisah ketika hela nafas Topan kian mendekat.


Dan tak lama, pria itu akhirnya menjatuhkan satu ciuman spontan di bibir ranum Alia.


Cup..


Mata Alia spontan merem melek mendaparkan ciuman spontan itu.


Dan Topan kembali tersenyum di jarak bibir yang begitu dekat dengan bibir Alia.


"Hmm, rasanya pas.." bisik Topan yang akhirnya kembali mencium bibir Alia dengan dalam.


Alia tak bisa menolak, pangutan ciuman Topan begitu berhasrat. Hingga memancing naluri Alia untuk membalas pangutan bibir Topan yang memanjakan dirinya.


Jemari Topan menyusup pada pinggang Alia dan mendorong tubuh Alia untuk menjauh dari sisi kompor. Hingga akhirnya bertumpu pada dinding dapur dengan keciuman yang kain dalam.


"Sukma!!" tiba-tiba terdengar panggilan dari ibu Topan.


Dna ciuman itu pun berhenti dengan nafas keduanya yang saling menderu satu sama lain.


"Ibu!!" bisik Alia dengan menatap lekat wajah Topan yang kecewa.


"Hm, ya.." sahut Topan yang perlahan mencoba untuk mengontrol dirinya.


"Sukma" panggil ibu Topan kembali dengan terdengar suara langkah kaki yang mendekat.


Topan menjauh.


"Alia, liat ibu.."


"Hm.." sahut Topan dengan mengangguk.


Alia pun berlalu meninggalkan sang majikan yang terlihat sedikit kecewa karena keintiman keduanya terganggu.

__ADS_1


Setelah Alia pergi, Topan berubah murung.


"Ah, ibu.. bikin ganggu aja.." rutu Topan dengan wajah cemberut bak anak ABG yang gagal menikmati moment romantisnya.


__ADS_2