
Pagi pun menjelang. Dan kedua pengantin baru itu masih tertidur lelap dalam satu selimut yang sama.
Alia tidur dengan memeluk tubuh sang suami.
Namun di tengah lelap keduanya, tiba-tiba terdengar suara getar handphone Topan yang sedari tadi mendapatkan telfon.
Topan perlahan tersadar. Dan mencoba meraba sisi samping tempat tidur untuk mendapatkan benda yang mengeluarkan suara berisik itu.
Dengan sedikit merentangkan tangan untuk mengapai handphonenya. Ketika mendapat benda itu, ia langsung mencancel telfon itu tanpa peduli siapa yang sudah menganggu tidur lelapnya.
Lalu dengan asal meletakkannya sembarang. Dan seketika mencoba untuk tidur kembali.
Namun tak beberapa handphone itu kembali bergetar.
Dan kali ini tidak hanya Topan yang terusik, Alia pun ikut mengeliat karena merasa terganggu.
"Hm.." Alia mengeliat di pelukan Topan. Alia mencoba membuka kedua matanya, Alia melihat wajah tidur sang suami yang tertidur tenang.
Dan untuk beberapa detik Alia pun terpaksa sadar ketika menyadari sosok pria di sampingnya.
Deg..deg.. jantung Alia berdebar, ketika menyadari jika kini ia adalah istri dari pemilik rumah, Topan.
Suara getar itu kembali terdengar, dan kening Alia pun mengurut.
"Siapa yang menelfon sepagi ini??" rutu batin Alia penasaran.
Namun lebih dari rasa penasaran kini Alia malah terhipnotis dengan wajah sang suami.
Terlihat Topan betah tertidur dengan hela nafas yang begitu terasa dekat di wajah Alia.
Ia ingin membangunkan, namun ada rasa sayang yang membuatnya enggan untuk membangunkan pria yang sudah membuatnya terbang kelangit tadi malam.
Handphone itu setia bergetar, dan Alia membiarkan sang pemilik untuk tetap tidur di sisinya. Dengan menantap wajah sang suami dalam jarak yang begitu dekat.
Ada rasa kagum yang Alia rasakan. Bingkai wajah Topan yang tertidur begitu membuatnya gemas. Alis tebal terbingkai tegas, garis hidung yang sangat pas juga bentuk bibir yang begitu mengoda.
"Ukh.." rutu batin Alia yang seolah ingin merasakan ciuman panas sang suami, yang menbuatnya resah.
Tanpa sadar Alia membayangkan kembali malam pengantin yang bergitu berkesan. Topan begitu berbeda, fisiknya benar-benar membuat Alia melayang. Tangan Topan yang besar seolah dapat menyampu setiap inci tubuhnya. Penuh sensasi yang menbuat Alia akan ketagihan.
"Ini bahaya.." bisik Alia dengan menatap lekat wajah sang suami.
Tanpa sadar Alia ingin menyentuh wajah sang suami. Ujung jarinya menyentuh garis alis Topan.
Tanpa sadar Alia usul, dan mengigit bibir bawahnya dengan mengikuti ujung jari yang terus turun pada bibir yang begitu lembut namun bisa sangat tajam jika di meja hijau.
Dan karena hal itu, Topan mengeliat hingga kedua matanya perlahan terbuka.
"Apa yang kamu lakukan??" bisik Topan dengan suara parau khas bangun tidur.
Alia tersenyum penuh arti. Hingga akhirnya kedua mata Topan terbuka sempurna.
"Kenapa tersenyum??" tanya Topan yang mendapatkan wajah sang istri begitu berseri sepagi ini.
__ADS_1
Alia tak menjawab, hanya wajah tersenyum yang terus ia berikan.
Hingga Topan dengan instingnya menjatuhkan ciuman pagi di kening sang istri.
Cup..
Alia reflek menutup matanya. Seolah meresapi kecupan hangat sang suami.
"Andai tidak ada perintah Johan, mas masih mau lanjut tidur.. sumpah dia itu resek banget, mentang-mentang yang punya kantor.." rutu Topan yang kesal mendapatkan perintah masuk kantor padahal ia baru saja ingin menikmati suasana pagi bersama sang istri.
Alia tertawa kecil di dalam pelukan sang suami mendengar kejengkelan sang suami.
"Kita masih punya banyak waktu.. setiap hari, 24 jam.. hm??"
Topan menantap Alia. Hingga jemari Topan pun menyentuh helai rambut Alia yang membingkai cantik wajah sang istri.
"Iya.. kamu benar.. karena kamu sudah jadi milik mas, istri mas.." sahut Topan dengan wajah tenang.
Alia membalas dengan tersenyum.
Dan Topan pun menghela nafas.
"Hmmm, baiklah mas mandi.."
Alia mengangguk lalu sedikit memberi jarak agar Topan dapat bangun. Namun hal itu malah membuat Topan tak rela.
Ia malah menarik kembali tubuh Alia untuk ia peluk. Hingga Alia terkesiap kaget.
Wajah Alia bersemu malu. Lalu dengan wajah tersenyum kecil ia mencubit lengan nakal Topan yang mulai menyentuh bagian sensitifnya.
"Akh.." Topan mengerang kaget mendapatkan cubitan manja sang istri. "Sakit sayang.. " rengek Topan.
"Ikh, udah mandi sana.. nanti mas telat kekantor.. tar pak Johan marah lagi.." seru Alia dengan menarik selimut dan menutup tubuhnya untuk beranjak bangun dari tempat tidur itu.
Namun Topan dengan cepat menahan Alia dan kembali mendapatkan sang istri yang hendak kabur.
"Hey mau kemana?" tanya Topan yang berhasil mengunci tubuh Alia.
"Ya mau kekamar atas, mau mandi mas.." seru Alia yang berusaha melepaskan diri.
"Hah??"
"Ikh, mas lepasin deh.."
Namun tanpa di duga, Topan bangun dan langsung menggedong Alia.
"Aakkh..!!" pekik Alia terkejut. "Mas!!"
"Kamar kamu disini.." ujar Topan sembari turun dari tempat tidur dan membawa tubuh Alia bersama menuju kamar mandi.
"Jadi lebih baik kita mandi sama-sama saja.." tukas Topan bersemangat menuju kamar mandi.
Alia hanya bisa pasrah.
__ADS_1
***
Setelah mandi pagi yang begitu panas. Yaa, kedua pengantin baru itu masih terlalu bersemangat untuk bisa menghabiskan waktu bersama dalam ke intiman.
Pagi yang cerah dan rutinitas pun kembali seperti sedia kala.
Keduanya benar-benar bahagia.
Ibu Topan pun terlihat seperti biasa. Namun dari sorot matanya ia sesekali menantap lama pada wajah bahagia sang putra.
Tanpa sadar wajah ibu terbingkai senyum simpul.
Sorot matanya pun berbeda ada arti yang begitu mendalam dalam hatinya.
***
Tepat dijam setengah 9, Topan baru berangkat kekantor. Ya waktu yang telat untuk menuju kantor. Tapi dari pada tidak datang sama sekali pikir Topan yang tidak bisa membantah titah Johan yang sudah begitu baik pada dirinya.
Alia mengantar Topan hingga menuju pintu mobilnya. Sebuah kecupan pagi pun Alia berikan seperti pinta Topan sebelum menikah. Dan Topan pun membalas dengan dekapan peluk penuh hangat pada sang istri.
"Mas pergi yaa.."
"Yaa, hati-hati ya mas.. semoga tugas mas lancar, i love you.." ucap Alia seolah doa tulus yang terucap untuk sang suami.
Topan terpaku. Rasanya ini benar-benar seperti mimpi. Ia tidak pernah membayangkan akan begitu berarti di mata Alia. Mimpinya untuk memiliki seorang istri yang penuh perhatian akhirnya terkabul.
Hingga tiba-tiba Topan mengecup kening Alia sekali lagi.
Cup..
"Terimakasih, sayang.." bisik Topan dengan wajah bahagia.
Alia hanya tersenyum tanpa tau mengapa sang suami terlalu bahagia.
Topan pun masuk kedalam mobil.
"Hati-hati ya mas.." ucap Alia lagi sembari melambaikan tangannya.
Dan perlahan mobil sedan Topan pun melaju pergi.
Mobil Topan pergi dan nafas Alia pun terhela lega.
Sudah lama rasanya ia tak pernah melakukan hal kewajibannya itu lagi. Dan kini ia bisa kembali melakukan rutinitas itu untuk suami barunya.
Setelah sedikit jauh mobil Topan, Alia pun berbalik untuk masuk kedalam rumah dan kembali untuk menjalankan rutinitas biasa bersama ibu mertuannya.
Namun ketika berbalik. Tiba-tiba Alia kaget ketika melihat sosok mbak puput dan Susi berdiri mematung tak jauh dari dirinya.
Wajah Alia terkaget.
Begitu juga dengan kedua temannya yang tercengang melihat keromantisan majikan rumah nomor 15 dan pembantunya itu.
"Ah, hm.. Alia bisa jelasin kok mbak Puput, mbak Susi.." ujar Alia yang jadi serba canggung.
__ADS_1