
Akhirnya, setelah sidang pertama usai namun belum menemukan titik terang. Karena kubu Topan tetap bertahan dengan menyanggah tiap tuduhan yang telah pengacara Rudy paparkan di persidangan.
Sang Hakim mulia pun memberi waktu pada Topan untuk dapat dapat membuktikan jika tuduhan itu tidak benar.
Dan sidang pun berakhir dengan akan di lanjutkan 2 minggu mendatang. Setelah pihak Topan telah mendapatkan barang bukti yang membuktikan ia tak bersalah dengan segala tuduhan Rudy.
***
Sore harinya, pengacara Kevin kembali datang menyambangi rumah nomor 15.
Kedatangannya kali ini lagi-lagi karena tugas perantara yang di perintahkan sang teman untuk sang kekasihnya yang pasti sangat cemas akan hasil sidang.
Topan sempat berpesan, untuk menceritakan hal yang terjadi selama sidang apa adanya pada Alia tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Dan di sinilah Kevin berada di depan pintu rumah mewah nomor 15 itu.
Tok..tok..tok.. ketuk Kevin pada pintu kayu.
Kevin menunggu dengan melihat sekitar komplek.
Tok..tok.. kembali Kevin mengetuk, namun seketika tatapannya berubah fokus pada satu hal yang ia curiga.
Clek.. pintu rumah nomor 15 pun akhirnya terbuka.
"Pak Kevin??" sambut Alia.
Namun dengan gerakan cepat Kevin menyelonong masuk secara tiba-tiba hingga Alia terkaget.
"Pak Kevin!!" seru Alia yang berpikir buruk melihat sang pengacara masuk dan langsung mengunci pintu rumah itu.
"Ssttt.." desis Kevin dengan segera menuju jendela yang berada di kanan pintu.
Kening Alia tertaut heran melihat tingkah sang pengacara yang seolah tengah mengintip dari balik tirai jendela itu.
"Ada apa pak Kevin??" tanya Alia bingung.
"Apa beberapa hari ini kamu ada keluar?" tanya Kevin dengan terus mengintip dari balik jendela san fokus pada hal yang mencurigakan.
"Hm, ada sekali.."
"Kapan??"
"Hm, 3 hari yang lalu, ke market dekat komplek untuk beli pampes ibu yang habis.. kenapa??" tanya Alia yang masih penasaran dengan pertanyaan detail sang pengacara.
"Sepertinya ada yang mengintai.." jawab Kevin dengan menoleh pada Alia.
Deg..
"Apa??" seru Alia syok.
"Sini.." kode Kevin pada Alia untuk melihat hal yang mencurigakan di halaman rumah itu.
Alia mendekat dengan itu mencari hal yang sedang di curiga oleh sang pengacara.
Tak beberapa lama, seketika kedua mata Alia menatap pada dua orang pria yang berdiri dengan motor di sana. Dan salah satunya adalah orang yang sangat Alia kenal.
__ADS_1
"Loh?? itu bukannya pak Dadang??" seru Alia tak percaya.
Kening Kevin berubah.
"Pak Dadang??" seru Kevin mengulang.
"Ya, itu pak Dadang dulu Security dirumah mas Ru-dy.." ucap Alia terhenti dengan wajah mematung.
"Sudah pasti ini perintah Rudy.. dia sedang mengincar kamu Alia.." ujar Kevin.
Deg.. Alia terpaku.
"Mengincar Alia??" ulang Alia tak percaya.
"Tunggu, aku akan menghubungi Johan. semoga dia masih bersama Topan.." ujar Kevin dengan segera mengeluarkan handphone dari balik saku celananya.
Seketika jemari Alia menahan lengan Kevin. Kevin terkaget dan terlihat Alia menggeleng cepat.
"Jangan!!" pinta Alia menahan.
Kevin terlihat bingung.
"Jangan beri tau mas Topan, tolong.." ucap Alia berat.
"Tapi kau tidak aman Alia.."
"Alia tau.. tapi tolong jangan kabari mas Topan, dia akan sangat cemas di dalam penjara sana.. dan Alia rasa, Alia punya cara untuk mengatasi pengintai yang di utus mas Rudy.."
Kevin menimbang dengan ragu
"Pak Dadang tidak akan berbuat jauh.. saya percaya dia hanya akan berada disana untuk mengawasi gerak gerak Alia saja.."
"Kau tau ini resiko terburuk.."
"Alia tau.."
"Baiklah, aku akan mengutus beberapa orang untuk berjaga disini.."
"Jangan.." tolak Alia.
Kevin kian sulit.
"Alia akan undang teman untuk tidur sini.."
"Teman??"
"Ya.."
Kevin menghela nafas panjang.
"Baiklah, tapi jika kau berubah pikiran tolong untuk segera hubungi aku.."
"Ya, Alia mengerti.." sahut Alia yakin dengan rencananya untuk mengaja beberapa teman pembantu komplek itu untuk menginap dirumah nomor 15.
***
__ADS_1
Setelah diskusi panjang tenang hal itu. Kini Kevin duduk di ruang tengah di sofa berbentuk L tersebut.
Alia menyuguhkan secangkir kopi pada sang tamu.
"Terimakasih, maaf jadi membuat repot" tutur Kevin yang berbasis basi.
Alia hanya tersenyum simpul lalu ia duduk di sebuah kursi plastik.
"Bagaimana sidang mas Topan??" tanya Alia to the poin.
Kevin nyerut kopi miliknya lalu meletakkannya di meja kecil di hadapan ia duduk.
"Berjalan lancar.." sahut Kevin tenang.
Kening Alia bertaut bingung.
"Lancar?? maksudnya mas Topan sudah bisa bebas??" tanya Alia.
Kevin langsung menggeleng.
"Ah, bukan begitu, yaa sidang yang lancar tanpa ada banyak kendala.. selain tuntutan dan tuduhan pihak Rudy pada Topan.."
"Tuduhan??"
Sejenak Kevin mengambil jeda sembari berpikir.
"Rudy menuntut Topan dengan tuduhan berlapis.. sehingga ada banyak laporan yang sengaja dibuat Rudy untuk menjerat Topan dipengaruhi.. "
Alia terpaku.
"Tuduhan berlapis??"
"Ya, mulai dari tuduhan penganiayaan hingga tuduhan menyembunyikan kamu, Alia.."
Alia terhenyak.
"APA??" seru Alia tidak percaya.
"Ya, Rudy menuduh Topan menyembunyikan kamu dan sengaja membuat kamu hilang.."
Alia tak percaya mendengar ucapan sang pengacara.
"Bagaimana bisa mas Rudy berpikir seperti itu??"
"Topan juga heran.." sela Kevin.
"Tapi, apa Mas Topan menyangkalnya??"
Kevin menggelengkan kepala.
"Tidak.." sahut Kevin tenang.
"Tidak menyangkal?? kenapa begitu??"
Kevin menghela nafas.
__ADS_1
"Entahlah.. padahal pasal yang akan menjerat tak main-main.. pasal 1 Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya. pasal 2 Jika perbuatan itu menjadikan luka berat, sitersalah dihukum penjara selama-lamanya lima tahun. (K.U.H.P 90)" jelas Kevin jabarkan hukum yang berada di depan mata Topan.
Alia syok mendengar penjelasan sang pengacara.