
Namun, tampaknya semua berubah dari manisnya kecupan Topan pada Alia saat di acara pesta Johan B. Bastian.
Karena esokan paginya, di kediaman rumah Pengacara Topan, semua berubah seperti semula. Wajah Alia yang biasanya ceria dengan penuh kehangatan kini menjadi murung dan hanya fokus pada ibu sang majikan.
Topan yang masih menikmati kopi paginya dapat merasakan hawa dingin dari sang pembantu yang mengacuhkan diri ya. Tampa sapaan dan tanpa tatap mata.
Sungguh Topan telah membuat kesalahan yang fatal bagi Alia. Kecupan spontan yang ia pikir sukses membuat Rudy mundur malah kini menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Sampai Topan pergi ke kantor pun, tak ada lagi ucapan pemberi semangat bagi Topan semua telah hilang.
***
Setiba di kantor Topan terlihat sibuk menyambut beberapa klien baru yang akan menuju perceraian. Semua ia sambut dengan antusias, ia ingin menghabiskan waktu dengan cepat agar bisa segera pulang dan menyelesaikan kasusnya bersama Alia.
Kevin membawa beberapa berkas dan Topan sama sekali tak menolak. Dan hal itu membuat Kevin terkejut, ada gerangan apa sang teman begitu semangat.
Hingga di jam siang, Kevin membawa beberapa bekal yang sengaja ia siapkan untuk di beri pada Topan.
Ia meletakkan beberapa kotak bentu di atas meja kerja Topan. Namun Topan tak bergeming, ia tengah fokus membaca beberapa kitab pasal-pasal baru yang harus ia pahami lebih dalam.
"Makan lah, ini sudah siang" saran Kevin.
"Aku tidak lapar" sahut Topan menolak tanpa menoleh pada Kevin.
Kevin tak peduli, ia ingin mengorek informasi yang menjadikan sang pengacara perceraian sangat antusias dalam bekerja hari ini.
Kevin mengambil beberapa kotak bento dan membawa di hadapannya. Ia membuka dengan sengaja membiarkan aroma lezat lewat mengoda Topan.
Tepat seperti dugaannya, aroma makanan itu begitu mempengaruhi Topan yang terlihat masih acuh tak acuh.
"Ah, ini enak sekali.. sudah lama kita tidak makan ini di tempat aslinya" seru Kevin sengaja.
__ADS_1
Bola mata Topan terhenti dan me delik pada kotak bento Kevin.
"Kau sengaja.."
Kevin tertawa lepas sogokannya berhasil. Lalu tanpa ragu ia memberikan kotak makannya pada Topan.
"Makanlah, setelah itu kerja lebih keras lagi agar semua kebutuhan terpenuhi.." seloroh Kevin dengan penuh arti.
Mendengar ucapan sang teman, sendok yang tengah berada di jemari Topan pun seketika menghentikan kegiatannya.
"Aku ingin bertanya padamu" ucap Topan dengan nada serius menatap Kevin.
Kevin menatap bingung.
"Kau pernah mencium seorang wanita secara tiba-tiba??"
Kedua mata Kevin terbuka lebar dengan wajah syok.
Topan seketika berubah pikiran.
"Ah, sudah lah.." elak Topan yang akhirnya menutup kembali kotak bento miliknya.
Namun dengan reaksi cepat, Kevin menahan lengan Topan.
"Kau sedang jatuh cinta?? benarkan?? siapa? bagaimana dia?" cecar Kevin yang kian penasaran.
Akhirnya Topan tak bisa menutupinya lagi.
"Dia pembantu dirumah ku.." jawab Topan singkat.
Kevin terbelalak.
__ADS_1
"APA??"
Lagi-lagi reaksi terkaget Kevin cukup terpancar jelas di wajahnya.
"Pem-bantu?? kau serius??"
Topan menghela nafas panjangnya dan pada akhirnya Topan membuka semua cerita di hadapan Kevin.
Sosok wanita yang selama ini berada dirumahnya adalah pembantu istimewa. Seorang mantan Nyonya kaya raya yang membuang segalanya dan kini mengasuh seorang penderita Alzaimer dan pikuk.
"Aku.. aku hampir tidak percaya, cerita mu ini seperti didalam novel.." seru Kevin.
Topan menyeringai kecil.
"Tapi inilah kenyataan.. dan aku bingung untuk menghadapinya.."
Sejenak Kevin berpikir.
"Dia marah, itu pasti.. karena tidak ada wanita yang ingin menjadi objek barang pelampiasan semata.." jelas Kevin.
Topan terteguh, perkataan Kevin ada benarnya.
"A-ku.."
"Jujur saja, itu jauh lebih baik.. yaa walau resiko pasti ada yang mungkin saja kau akan kecewa.." potong Kevin.
Sejenak Topan menimbang ucapan Kevin.
Namun tak lama, terdengar suara nada dering telfon dari handphone Topan.
Ia meraih handphonenya itu dan terteguh. Terlihat nama Rudy Mahendra di sana. Dan secara tiba-tiba perasaan Topan ikut berkecambuk.
__ADS_1