Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Pertemuan singkat


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah berberes rumah dan ibu Topan. Tepat di jam 11, sebuah mobil putih terparkir di halaman rumah nomor 15.


Terlihat Kevin keluar dari mobilnya sembari sibuk berbicara dengan handphonenya. Langkahnya berjalan menuju depan rumah sang teman.


Hari ini ia akan memenuhi janji dengan kekasih sang teman.


Tok..tok..pintu di ketuk dan Kevin memutuskan komunikasi itu.


Tok..tok.. lagi ia mengetuk pintu rumah mewah sang teman.


Dan tak lama terdengar suara kunci pintu di putar dua kali hingga akhirnya pintu terbuka.


Sepasang mata teduh menyambut Kevin.


"Ah, pak Kevin.."


"Ya, apa sudah siap?" tanya Kevin.


"Sudah, tapi sebentar ya.. Alia ganti baju ibu.. tadi pas udah selesai sarapan gak sengaja gelas susu tumpah.."


"Ooh, oke kalau begitu saya tunggu di sini saja" sahut Kevin menyetujui.


Alia mengangguk, lalu meninggalkan pengacara Kevin untuk segera masuk kembali kedalam rumah dan mengurus sang ibu majikan.


Sesaat Kevin menikmati suasana asri kompleks perumahan mewah itu. Ia melihat pada keseliling halaman rumah nomor 15 yang terlihat sangat terurus.


Jika saat itu ia tidak mengikuti perkataan sang calon istri, mungkin saat ini ia akan menjadi tetangga Topan Syahputra. Namun sayang bujuk rayu sang istri yang juga seorang pekerja membuat ia menjatuhkan pilihan pada sebidang tanah dan kini masih belum terbangun rumah impian yang begitu besar budgetnya.


Sesaat Kevin menghela nafas panjang dengan berjalan menuruni anak tangga teras yang menuju taman.


Sekilas ia melihat suasana itu dari sudut berbeda. Dan tak lama tatapannya menemukan satu beda yang tergantung di depan dinding teras rumah nomor 15.


"CCTV??" bisik Kevin yang seketika menemukan satu bukti yang dapat menolong Topan.


***


Waktu pun berlalu, kini mobil putih milik Kevin masuk pada halaman kantor kepolisian tempat Topan berada.


Alia melihat kesekeliling kantor gedung kepolisian itu. Bersama ibu Topan yang hanya menantap kosong tempat tujuannya.


"Jadi mas Topan di tahan di sini??"


"Iya" sahut Kevin dengan memarkirkan mobil miliknya dengan aman dan kemudian mematikan mesin mobil.


"Ayo, kita turun.." ajak Kevin.


Alia pun seketika bersiap turun dengan membantu ibu Topan yang duduk tenang.


"Apa kamu akan membawa ibu Topan?"


Alia menoleh, dan tak lama ia mengangguk pelan.


"Iya.."

__ADS_1


Sejenak Kevin berpikir.


"mmh, sebaiknya jangan.. ruangan kantor kepolisian sangat tidak sehat, banyak asap rokok.."


Alia menimbang.


"Jadi?"


"Kamu akan saya antar, tapi ibu nanti ikut sama saya saja untuk kembali kembali.. "


"Apa ibu akan mau??" tanya Alia tak yakin.


Kevin mengangguk.


"Walau tidak sering, tapi ibu pasti ingat sama saya yang dulu sering kerumah.. dan beberapa kali menjaga beliau ketika Topan maju sidang.."


Alia menimbang bimbang sembari menantap wajah ibu Topan yang kosong.


"Gak papa, asal kamu tidak lama.." ujar Kevin.


"Hm, baiklah.." sahut Alia menuruti.


"Ya sudah, ayo jalan.." ajak Kevin setelah diskusi kecil itu selesai.


***


Akhirnya dengan izin yang begitu ribet, Alia pun masuk di bawa kesatu ruangan yang sedikit jauh dari tempat masuk awal.


"Tunggu di sini, akan saya panggilkan pak Topan.." kata sang petugas.


Alia hanya mengangguk patuh dan duduk ditempatnya yang disediakan.


Tak berselang lama, terdengar langkah kaki yang menuju ruangan tempat Alia berada.


Dan tak lama sosok yang membuat Alia cemas pun muncul.


"Mas Topan" seru Alia dengan reflek bergegas menghampiri pria yang terlihat sedikit lusuh.


Topan benar-benar terkaget melihat kehadiran sang pembantu di ruangan itu.


"Alia??"


"Mas.. Mas gak papa?? apa Mas sudah makan?? apa Mas.. "


"Alia?? Alia?" panggil Topan menyadarkan Alia yang terlihat terlalu mencemasi dirinya.


Alia terpaku mendengar suara Topan. Dan sesaat keduanya beradu pandang.


"Tenang Alia.."


Tanpa sadar tangis Alia tumpah, entah mengapa rasa kekhawatirannya begitu teramat besar pada Topan.


Dengan instingnya Topan pun memeluk Alia.

__ADS_1


"Tenanglah, Alia, semua pasti akan ada titik terang.."


"Tapi bagaimana bisa? Mas Rudy melakukan hal ini pada mas???" tutur Alia di sela-sela tangis kesedihannya.


Topan terkaget lalu mererai pelukannya.


"Kamu tau??"


Alia mengangguk.


"Alia bertanya pada pak Kevin, dan semua ini adalah perbuatan Mas Rudy.."


Topan menghela nafas panjang lalu mengusap lembut pundak Alia seolah menenangkan. Tatapan Topan turun pada sorot mata Alia yang meneguhkan hatinya.


"Tenanglah Alia, mas pasti bisa membereskan semua masalah ini.." ucap Topan tenang. "Dan mas berjanji jika Rudy akan mendapatkan balasan yang setimpal" sahut batin Topan.


Lalu tak lama ia memeluk kembali tubuh sang kekasih. Alia pun kembali merengkuh tubuh pria itu dengan hangat.


***


Setelah pelukan penuh ketenangan itu, kini Alia harus berpisah kembali dengan Topan. Waktu yang di berikan oleh sang petugas begitu cepat berlalu.


"Mas, Alia hanya membawa sedikit roti dan ini.." ujar Alia dengan memberikan sebuah papar bag berukuran sedang pada sang pengacara.


Topan meraih dengan bingung lalu mengeluarkan isi paper bag tersebut dan terlihat sebuah baju hangat berwarna mint.


"Hanya sebuah sweater biasa, untuk bisa menghangatkan mas jika malam terlalu dingin.. "


Topan menantap lama pada sweater itu, sekilas senyumnya melengkuk manis. Sekilas ia menantap sang pembantu dan tak lama ia memberikan sebuah kecupan di kening Alia secara spontan.


Alia terkaget dan menatap sang majikan.


"Terimakasih, Alia.. kehadiran mu sudah cukup menghangatkan diriku.. terimakasih.."


Alia tersenyum penuh arti.


"Ayo, mbak.. sudah bisa pergi.." tutur sang polisi memberi peringatan pada Alia.


Alia menantap wajah Topan.


"Jaga kesehatan ya mas, Alia balik dulu.."


"Hm, tolong jangan ibu.."


"Ya.." sahut Alia dengan perlahan pergi dari hadapan Topan yang masih menatap punggung sang pembantu.


"Terimakasih Alia.." bisik Topan sendu.


Dan tak lama seorang petugas menghampiri Topan.


"Ayo, balik.." perintah sang polisi dengan nada tegas.


Topan pun mengikuti perintah itu tanpa menyela. Ia akan bersabar hingga sampai pada waktunya.

__ADS_1


__ADS_2