
Setelah beberapa kali gagal bertemu. Akhirnya Rudy dapat bertemu dengan Topan. Disini di kantor sang pengacara.
Dan saat ini Rudy duduk berhadapan dengan sang pengacara Topan. Atmosfer di antara keduanya terlihat canggung dan di paksa tenang walau dari pihak Rudy sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.
"Tempo hari, aku datang untuk menjenguk mu dirumah sakit, tapi.." ucap Rudy terpotong.
Dan wajah Topan berubah gusar.
"Tapi kata perawat kau sudah pulang.." sambung Rudy tenang.
Topan pun seketika lega.
"Apa kau benar-benar sudah sembuh?"
"Hm, ya.. dokter berkata begitu" jawab Topan apa adanya.
Setelah basa basi yang basi, akhirnya Rudy buka suara.
"Kau pasti tau arti kedatangan ku" ujar Rudy.
Topan mendengar dengan tenang.
"Kau bisa jelaskan, mengapa kau mundur dari tugas pengacara?? apa alasan mu, Topan??"tanya Rudy yang akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang menghantui dirinya.
Topan terlihat mengambil waktu untuk bisa menjawab.
"Aku.. terlalu sibuk" jawab Topan singkat.
__ADS_1
"Apa?? apa itu masuk akal?? bukankah dari dulu kau selalu sibuk??" celetuk Rudy.
"Aku sengaja mundur, karena aku tidak ingin membuat kau kecewa dengan kinerja ku.. kau bisa mendapatkan pengacara lain yang bagus dan enerjik untuk membantu tugas mu" jelas Topan.
Rudy berdecak tidak percaya.
"Topan?? apa aku terlihat sedang mencari orang yang bagus dan enerjik?? kau tau alasan aku memilih kau sebagai pengacara pribadi ku!!" tukas Rudy mulai berang.
Topan dapat melihat jelas tatapan kesal sang teman, jawaban Topan sungguh tidak memuaskan Rudy.
Topan mengalihkan pandangannya seolah menghindari sesuatu.
"Aku tidak bisa.."
"Kenapa? apa ada hal yang aku tidak tau.."
"Ya" sahut Topan tegas. "Aku tidak bisa bekerja sama lagi dengan mu, Rudy.. aku minta kau mengerti.."
Topan mencoba bersikap tenang. Dan hal itu membuat Rudy jenggah.
Rudy menghela nafas panjang lalu bangkit dari sofa duduknya dengan wajah kasut.
"Oke, baik..aku tidak akan bertanya mungkin itu satu hal yang sulit kau jelas.." ucap Rudy menyerah pada Topan yang terlihat mengunci rapat mulutnya. "Tapi aku masih berharap kau mau menjadi pengacara pribadi ku" timpal Rudy dengan menatap Topan yang tak bergeming.
Dan lagi-lagi Rudy harus menghela nafas panjangnya melihat tingkah diam sang teman.
Rudy berpikir untuk langsung pergi, namun tiba-tiba langkahnya berhenti dan dengan setengah menoleh ia menatap Topan kembali.
__ADS_1
"Kau taukan, saat ini aku tidak bisa mempercayai orang lain selain, kau Topan.." ucap Rudy dengan penekanan.
Topan mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Aku tunggu jika kau berubah pikiran.. aku pergi" ucap Rudy berlalu meninggalkan ruang kerja sang pengacara.
Setelah kepergian Rudy, Topan masih berada di posisinya. Beban pikirannya kian kacau, ucapan Rudy telah membuatnya terbebani.
"Sial!!" umpat Topan kesal pada situasi yang benar-benar mencekiknya.
***
Di lain sisi Alia berdiri di taman rumah dengan merenung ucapan sang majikan.
"Kamu jangan merasa bersalah.. Mas yang akan bertanggung jawab pada perasaan mas sendiri, walau butuh waktu tapi.. Mas akan berusaha agar kamu merasa nyaman kembali.." ucap Topan saat itu.
Alia menghela nafas berat.
"Ada apa dengan kamu Alia?? bukankah harusnya kamu lega dengan ucapan mas Topan??" gumam batin Alia yang mulai berperang dengan perasaannya sendiri.
Sesaat ia memejakan matanya mencoba membuang pikiran tentang ucapan sang majikan yang kian membuatnya gusar.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Alia tersadar dan langsung berjalan dengan cepat menuju pintu yang ia sudah sangat ia hafal.
"Ibu?"seru Alia yang melihat ibu majikan yang baru bangun tidur.
Wanita tua itu hanya berdiri dengan wajah hampa.
__ADS_1
Alia tersenyum simpul.
"Ibu, mau gak kita jalan sebentar keluar??" ajak Alia pada ibu Topan.