
Malam harinya, Rudy kembali menerima kabar dari sang bawahan.
Terlihat ia mendengar dengan antusias. Kerut di keningnya silih berganti berkerut mendengar penjelasan sang bawahan Pak Dadang.
"Jadi, sekarang rumah itu sudah sepi??" tanya Rudy kembali.
"Ya, pak.. mobil-mobil itu sudah pulang sedari tadi.."sahut Dadang dari sebrang telfon.
Rudy mengangguk paham.
"Bagus.. beberapa menit lagi akan saya kabari kalian untuk perintah berikutnya.. jadi kalian siap-siap.." ujar Rudy memberi perintah.
"Ya, baik pak Rudy, kami akan tunggu perintah berikutnya.." sahut Dadang.
Dan tak lama, komunikasi itu pun di tutup.
Lalu Rudy dengan cepat mencari nomor telepon lain untuk melanjutkan rencana berikutnya.
"Peto..peto.." ulang Rudy dengan mencari nama yang ia cari.
Tap.. Nama itu pun di dapat dari urutan abjad P. Lalu dengan cepat Rudy menekan nama tersebut.
Tak perlu menunggu lama, nada sambung itu pun terhubung.
"Lakukan malam ini" perintah Rudy.
Dan tanpa menunggu jawaban dari orang yang akan melaksanakan eksekusi itu pun, senyum Rudy terkembang licik.
***
Di lokasi pengintaian, terlihat pak Dadang dan temannya masih setia menjadi teman nyamuk sedari tadi.
Suasana malam itu begitu tenang, beberapa rumah mewah itu telah dihidupkan lampu yang begitu terang di teras rumah mereka.
"Enak bener yaa Dang, kalau kaya.."
"Ya enak lah, tidur-tidur kagak perlu mikir duit buat besok.."
"Iya, itu contohnya kayak lampu main di hidupin semua, gak kira-kira terangnya pasti pakai watt yang besar?? bukan satu tapi 4 loh Dang.." tutur sang teman yang terheran melihat gaya hidup orang kaya yang boros. "Mau berapa itu bayar listriknya perbulan??"
Dadang ikut menghitung rumah-rumah mewah yang rata-rata menghidupkan 3 sampai 4 lampu terang di teras rumah mereka bahkan hingga ketaman.
"Mungkin sebulan 4 juta.." sahut Dadang menebang.
Sang teman kontan terkejut.
"4 juta Dang??"
"Iya, mungkin sekitar 4 juta, soalnya dirumah pak Rudy saja sebulan 6 juta.."
Sang teman lagi-lagi terkejut bukan kepalang. Nilai yang begitu mahal hanya untuk membayar listrik.
"Ck..ck..6 juta Dang?? cuma bayar listrik doang??" ulang teman Dadang benar-benar tak menyangka.
"Yaa, namanya juga orang kaya, nilai segitu mah biasa.. emang kayak kita ini yang cuma bisa ngucap dengar nominal begitu yang cuma buat bayar listrik saja.."
"Iya, ya Dang.. aku kalau ada uang 6 juta, duh.. bisa tak borong beras sampai 6 karung, beli indomie 3 kardus plus bayar sewa rumah untuk tahun depan.. di jamin aman hidup 1 tahun"
Pak Dadang ikut mangut-mangut, menyetujui ucapan sang teman. Ia yang hanya di gaji 1 juta satu bulan saja masih merasa kurang dengan kebutuhan di ibu kota yang luar biasa mahal.
Hanya saja kerja sama Rudy Mahendra ada banyak keuntungannya, selain dapat tempat tinggal, tiap 6 bulan sekali ada bonus yang memang selalu rutin di berikan oleh Rudy Mahendra.
Namun setelah Rudy Mahendra dan Alia Zatifah bercerai, entah mengapa bonus-bonus itu pun berkurang jumlahnya. Dari yang biasa 6 ratus di kurang menjadi 3 ratus oleh nyonya Baru yang kini entah kemana pergi ya.
__ADS_1
Plak..plak.. Tiba-tiba terdengar temukan kedua tangan sang teman yang menbuat Pak Dadang terkaget.
"Napa sih?? bikin kaget aja.." seru Dadang kesal karena lamunannya buyar.
Plak..plak.. lagi-lagi tangan sang teman di tepuk-tepuk asal.
"Ini banyak banget nyamuk, udah gigit aku dari tadi.." rutu teman Dadang dengan sesekali mengaruk.
"Kok aku enggak.."
"Kau enggak, aku nie yang udah dari tadi di gigit, habis darah aku nanti kalau di gigit terus.." ujar sang teman kian kesal karena nyamuk yang luar biasa banyak diluar.
"Yaa, salah kamu sendiri sih, pakek baju serba gelap.. jelas di gigit lah.." sahut Pak Dadang santai.
"Lah, namanya juga mengintai, masa aku pakek baju warna-warni cerah, nampak nanti, curiga orang.."
"Ilmu dari mana kudu baju hitam kalau mau mengintai.."
"TV lah.."
Sontak pak Dadang tertawa terbahak-bahak.
"Sama TV kau percaya, cuma akal-akalannya aja lah tuh.."
"Eeh, gak tau kau Dang, di Film-film aku liat begitu.."
"Nah, inilah hasilnya, bukan orang yang curiga, tapi nyamuk yang dapat sasarannya.. hahaha" tawa pak Dadang berseloroh.
Plak..plak.. masih saja teman pak Dadang memukul-mukul nyamuk yang masih menganggu dirinya.
"Jadi sampai kapan kita di sini Dang.. aku sudah tak kuat lagi.. mau pulang, ngantuk berat.."
"Sabar, sebentar lagi pak Rudy kasih perintah baru.. penting ini, biar kita nanti di bayar dua kali lipat sama pak Rudy kalau berhasil" sahut Pak Dadang dengan menatap handphonenya.
***
Tepat di jam 10 malam, tiba-tiba sebuah mobil vans datang dan terparkir tepat didepan halaman rumah nomor 15.
Terjadi gelagat yang tidak biasa, segerombolan pria turun dengan langkah cepat dan mulai memaksa masuk kedalam rumah yang terlihat tenang itu.
Dan dengan ilmu mereka, tiba-tiba pintu rumah itu berhasil di buka. Dengan langkah mengendap-ngendap 3 orang pria bersiap melakukan aksinya.
"Ooh, datang juga kalian!!" seru seseorang dari kursi berbentuk L pada ruang tengah yang cahaya lampu sedikit remang.
Sontak ketiga pria yang terlihat bergerak dengan hati-hati itu kaget bukan kepalang.
"Siapa kamu??" tanya seorang pria berbaju hitam dengan reaksi tubuh yang siap menyerang.
Pria itu menyeringain kecil sembari meletakkan handphonenya begitu saja di atas meja dan bangun untuk menghampiri tamu yang tak di undang.
"Saya yang harus tanya, kalian siapa?? masuk dengan tanpa permisi kerumah ini!!" ujar Johan dengan bersiap menghadapi tamu yang akan ia bereskan malam ini.
Dan perkelahian tak terelakkan pun terjadi didalam rumah nomor 15 di tengah malam.
***
Di satu kamar yang tenang. Terlihat ibu Topan sedikit gelisah, di atas tempat tidur yang seperti tidak biasa ia lihat.
"Ibu.. kenapa??"
Ibu Topan tak menjawab, namun ia terus bergeser kesana kemari dengan tak nyaman.
"Ibu, ibu kenapa?? apa ada yang gak enakan??" tanya Alia lagi.
__ADS_1
Namun tanpa pikir panjang, Alia mengelus punggung ibu Topan.
"Ibu, ada Alia.. Alia akan di sini.. hm" ucap Alia dengan mengusap punggung ibu Topan yang masih terlihat tak biasa di kamar baru itu.
Hingga hampir 1 jam kemudian, ibu Topan pun tertidur lelap.
Alia menghela nafas pelan sembari menantap wajah ibu Topan yang tidur. Sungguh hari yang begitu luar biasa.
Tok..tok.. terdengar suara ketukan didaun pintu kamar.
Alia segera beranjak dari tempat tidur itu dan membuka pintu.
"Mbak Dinda??" seru Alia terkaget.
"Oh, maaf yaa.. sudah tidur ya? maaf" ujar Dinda merasa tak enak.
"Ah, enggak mbak.. baru ibu yang tidur.."
"Oh.." sahut Dinda dengan mengangguk. "Ini.." ujar Dinda sembari memberikan sebuah badcover pada Alia.
Alia meraihnya dengan kaget.
"Pakai yaa, takutnya AC terlalu dingin di sini.."
"Oh, makasih ya mbak Dinda.. jadi repotin"
Dinda tersenyum simpul.
"Ya sudah, istirahat saja.. besok kita ngobrol lagi.. malam Alia.."
Deg.. Alia terkaget. Ucapan itu mengingatkan ya pada sang kekasih yang kini mendekam di penjara.
"Ah, selamat malam juga mbak Dinda.." sahut Alia membalas.
Perlahan Dinda berlalu pergi dari depan pintu kamar tamunya.
Dan hanya meninggalkan Alia yang masih termenung.
"Jadi rindu mas Topan.." bisik batin Alia. Lalu perlahan ia menutup pintu kamarnya untuk segera tidur di samping ibu kekasihnya.
Perlahan Alia meresbahkan diri di samping ibu Topan yang masih tertidur diposisinya.
Ia menatap dalam wajah wanita paruh baya itu.
"Bu, ibu benar-benar orang tua yang berhasil mendidik mas Topan hingga menjadi seorang pria dewasa yang di sayangi oleh siapa saja.. terima kasih ya bu, karena ibu mengambil keputusan yang tepat untuk melahirkan anak sebaik mas Topan.." bisik batin Alia.
Dan seiring larut ya malam, Alia pun tertidur lelap bersama ibu sang kekasih.
***
Namun suasana tenang itu tidak terjadi di satu ruang rumah mewah.
Di ruang kerja Rudy Mahendra, pria itu baru saja mendapat kabar yang membuatnya marah.
"APA?? Alia sudah tidak ada disana!!"
Dengan rasa marah yang memuncak Rudy pun membuang handphonenya dengan sembarang.
PLETAK!! handphone itu pun jatuh pecah di lantai.
Nafas Rudy berhembus dengan gemuruh emosi yang memuncak.
"DASAR TIDAK BERGUNA!!" umpat Rudy marah.
__ADS_1