
Dan setelah dua hari kepulangan Topan dari rumah sakit.
Pagi ini, Topan bersiap untuk kembali kekantor. Istirahat berlama-lama dirumah juga tidak akan membuat pikirannya tenang.
Alia yang masih setia mengurus segala kebutuhan sang ibu.
Seperti saat ini, ia sedang mengurus mangkuk bubur ibu Topan yang masih agak panas. Ia berusaha agar suhu panas makanan itu tidak membuat mulut ibu Topan terbakar.
"Pelan-pelan ya bu, ini masih panas.." Alia mencoba memberi peringatan pada ibu majikannya yang mungkin tidak akan paham.
Dan wanita tua itu tetap seperti anak kecil yang tanpa peduli apa pun, melahap tanpa ragu. Hingga reaksi awal dari sengatan panas bubur itu terlihat jelas.
"Hu..hu..hu.." seru ibu dengan mengipas-ngipas mulutnya dan memuntahkan kembali bubur itu di atas mangkuk bubur dan reflek menapihnya sehingga mangkuk itu tumpah.
Alia hanya bisa menghela nafas panjang lalu ia pun mengambil tisu untuk menyeka air liur ibu sang majikan yang ikut keluar.
"Kan Alia udah bilang, ini masih panas buk.. jadi makannya jangan buru-buru" ujar Alia.
"Pa-nas" ucap ibu Topan polos.
"Iya panas, jadi ibu makannya di tiup dulu.." sahut Alia dengan wajah yang sedikit menahan kesal. Karena ini sudah mangkuk kedua yang ibu Topan buat buang.
Wajah ibu Topan cemberut, mungkin nada bicara Alia agak sedikit kesal dan membuatnya tak suka. Hingga reflek ibu Topan memukul pundak Alia.
__ADS_1
Plak..
"Akh.." seringai Alia kaget.
"Ibu?" seru Alia dan reflek menoleh pada ibu Majikannya. "Ibu?? kenapa ibu??" tanya Alia heran.
Namun wanita tua itu hanya diam dan membuang tatapannya dengan wajah cemberut.
Tak lama terdengar suara pintu kamar Topan terbuka.
Alia reflek menoleh dan sosok sang majikan yang telah rapi keluar dari kamarnya. Sesaat keduanya saling beradu pandang.
"Mas?? mau masuk kantor??" tanya Alia ragu.
"Hm" gumam Topan dengan wajah yang tenang. Dan tanpa sengaja tatapan Topan melihat meja makannya berserakan.
Alia reflek tersadar.
"Ah, anu.. tadi ibu gak sabar dan makan bubur yang masih agak panas lalu gak sengaja di.." penjelasan Alia tergantung dengan wajah kaget ketika melihat sang Majikan tanpa ragu membersihkan meja makan itu.
"Mas?? jangan.. biar Alia saja.." seru Alia dengan bergegas menahan Topan.
Topan tak menatap Alia dan tetap fokus mengambil tisu untuk membersihkan meja makan yang telah banyak tumpahan bubur.
__ADS_1
"Gak papa.. kamu beresin ibu aja" perintah Topan tenang.
Akhirnya Alia pun membereskan ibu Topan dan mengelap tiap tumpahan yang mengenai celemek makan sang ibu.
Tak beberapa lama, akhirnya meja itu kembali bersih. Dan Topan membawa semangkuk sereal di hadapan sang ibu.
Terlihat Topan duduk di samping sang ibu dengan membenarkan bando rambutnya yang telah banyak memutih.
"Buk, Topan kekantor dulu ya.. dan baik-baik dirumah, jangan banyak merepotkan Alia.." pesan Topan pada sang ibu.
Alia terpaku melihat moment itu.
Dan tak lama ia menjatuhkan ciuman di pucuk kepala sang ibu lalu bangun dari kursinya. Topan dengan sengaja tak menatap Alia, ia menghindari untuk beradu pandang dengan sang pembantu dan memilih berlalu pergi.
Alia terlihat menyadari perubahan sikap sang majikan. Tidak dingin namun tidak juga hangat. Pria itu benar-benar menepati janjinya.
Perlahan Alia menghela nafas panjangnya, seolah ingin memenuhi relung hatinya yang sedikit sesak.
"Mungkin dengan begini jauh lebih baik.." guman batin Alia yang mencoba untuk mengerti.
***
Di lain sisi. Topan yang berada di luar rumahnya terlihat menghela nafas berat. Sungguh ia merasa berat untuk berpura-pura cuek dan mengacuhkan Alia.
__ADS_1
Topan pun melangkah dengan berat meninggalkan rumahnya. Namun ini jalan yang baik untuk mengurangi interaksinya dengan sang pembantu.
Dan tak lama, ia mendapat sebuah telfon dari orang yang tidak ingin ia jumpai, Rudy Mahendra.