Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Topan di penjara


__ADS_3

Akhirnya Kevin pun datang kekantor polisi sebagai pengacara pendamping untuk sang teman.


"Bagaimana kau bisa terlibat masalah ini" cecar Kevin ketika melihat wajah santai Topan.


Topan hanya menyeringai kecil.


"Hidup terlalu mudah juga gak asyik.."


Kevin menghela nafas.


"Kau sudah gila.." rutu Kevin.


"Kadang butuh sedikit gila.. biar lebih waras.. cepat pasang badan untuk ku" titah Topan menuntut.


Kening Kevin berkerut.


"Kau mau menguji profesional ku??" tukas Kevin yang bersiap untuk menyantap tiap masalah Topan.


Topan hanya menyeringai kecil melihat wajah kesal sang teman.


Terlihat tim polisi cekatan mengetik semua jawaban sang tersangka yang menjawab dengan tenang.


"Logikanya, jika rumah bapak kedatangan orang yang tak di undang dan membuat keributan bahkan.. menganggu orang dirumah hingga mengusik ketentraman rumah bapak, apa bapak akan tinggal diam!!" tukas Topan dengan menatap tajam wajah tegas sang polisi.


Kedua polisi itu sedikit kiku mendapat jawaban telak seorang pengacara.


Melihat kedua polisi terdiam, Topan dapat menyimpulkan jika jawaban dari tindakannya tidaklah 100% salah.


"Jadi, mengapa saya memukul saudara Rudy Mahendra, karena alasan itu.. saudara Rudy datang kerumah saya dengan menganggu kediaman rumah saya.." timpal Topan kian mempertajam alibinya.


"Lantas, bagaimana anda tau jika saudara Rudy berada dirumah anda dan menganggu??" tanya sang polisi maju untuk kembali membuat pertanyaan yang membuat Topan mengeluarkan alibi yang mungkin saja menjadi celah untuk mereka.


Sejenak Topan berpikir. Ia harus menjawab dengan sangat rasional, karena tidak mungkin ia harus menjawab jika itu insting yang tiba-tiba datang karena mengkhawatirkan sang kekasih.


"Pada saat itu, saya lupa membawa dokumen penting.. jadi saya pulang.."


"Dokumen? Dokumen apa?" tanya sang polisi cepat.


Inilah yang terjadi selama introgasi, semua jawaban dari tersangka menjadi sasaran empuk untuk mencari alibi kesalahan. Berputar dan sedetail mungkin hanya untuk memuaskan tanggung jawab tugas yang di emban.


Dan akhirnya hari itu menjadi hari terpanjang yang dilewatkan Topan sebagai tersangka. 33 pertanyaan beruntun di hadapkan pada dirinya tenang kejadian pada saat itu.


Setelah 5 jam berlalu, akhirnya Topan di beri waktu istirahat.


Dan akhirnya Johan menjumpai Topan.


"Aku sempat berpikir jika kau orang yang tidak suka mencari masalah" sindir Johan santai.

__ADS_1


Topan tak menjawab, ia makan dengan lahan setelah akhirnya bisa makan di jam 4 sore.


"Jadi ternyata wanita yang kau rebut itu adalah mantan istri Rudy Mahendra??" tanya Johan dengan nada penekanan.


Topan hanya menyeringai kecil.


"Ya, bukankah kau sendiri menyarankan aku untuk merebutnya?"


Johan tertawa garing, dia benar-benar terlalu naif. Dia tidak berpikir sepanjang itu hingga menjawabnya dengan tegas.


Kevin duduk dengan laptop menyala dan jemari yang cepat.


Setelah makan dengan metode kilat, akhirnya Topan dapat berpikir waras kembali.


"Rudy sudah berencana matang, hasil dari periksaan dokter telah ia keluarkan.. dia benar-benar marah" tukas Topan.


"Lalu rencana mu??" tanya Johan kembali.


Topan menatap lama pada satu titik dengan pikiran yang sedang merancang suatu hal mengejutkan.


***


Malam harinya, di rumah nomor 15. Terlihat Alia tak tenang namun ia juga tidak tau harus mencari keberadaan Topan di mana.


Setelah menidurkan ibu sang majikan, Alia duduk melamun di meja makan. Ia sedang berpikir keras untuk dapat mencari satu kemungkinan yang bisa membantunya.


Sesaat ia kembali teringat kejadian tadi pagi yang membuatnya syok. Kejadian penangkapan Topan secara paksa nyatanya pasti akan jadi gosip-gosip di komplek. Padahal selama ini citra sang pengacara begitu bagus.


"Siapa yang tega berbuat seperti ini pada mas Topan??" rutu batin Alia yang penasaran.


Namun di tengah lamunnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu depan rumah.


Tok..tok..


Sontak Alia terkaget dan berubah gusar dengan sekilas melirik jam pada dinding ruangan itu.


"Jam 10?? siapa yang datang??" pikir Alia cemas.


Pikiran tiba-tiba was-was dan jadi takut.


Tok.. tok..


"Mbak Alia?" seru suara dari depan pintu memanggil namanya.


Dan lagi Alia terkejut.


Tok..Tok kembali pintu di ketuk.

__ADS_1


"Hallo, mbak Alia.. ini saya Kevin.."


Deg.. Alia tersadar dan mengingat nama itu. Lalu buru-buru ia berlari kedepan untuk membuka pintu rumah nomor 15.


Dan sosok pria yang pernah datang waktu itu sebagai staff Topan pun terlihat.


"Ah, syukurlah..akhirnya mbak membuka juga pintu.." ucap Kevin lega.


Wajah Alia was-was.


"Pak Kevin.. ?"


"Ah.. maaf mbak, saya datang di jam malam begini.." ujar Kevin sungkan. " Saya baru saja dari kantor kepolisian tempat pak Topan di tahan"


Deg.. Alia terpaku. Seraut wajah gusar pun terlihat.


"Gak papa mbak Alia, jangan cemas kita tim pengacara akan turun langsung membela pak Topan.." tutur Kevin mencoba mencairkan kekhawatiran wanita di hadapannya ini.


"Saya tidak bisa lama, dan ini.." ujar Kevin dengan menyerahkan sebuah amplop di hadapan Alia.


Alia menantap dengan bingung.


"Ini di titip pak Topan untuk mbak.."


Alia ragu-ragu mengambil amplop tersebut.


"Terimakasih pak Kevin.." Alia menerima. "Tapi, bagaimana kondisi pak Topan.."


"Aman, walau tidak senyaman dirumah.."


"Jadi pak Topan benar-benar di penjara??" tanya Alia yang sudah membayangkan tempat penjara yang mengerikan.


"Ya, penjara sementara.." jawab Kevin.


Alia tak dapat bayangkan sang majikan yang berada di dalam penjara itu.


"Tapi siapa yang tega melakukan hal ini pada pak Topan??" cecar Alia yang akhirnya lepas berbicara.


Kevin sedikit menarik nafas.


"Rudy Mahendra.."


Deg.. Alia terpaku.


"Mantan suami anda mbak Alia" timpal Kevin memperjelas biang yang membuat sang teman memiliki rekam buruk di kepolisian.


Alia tak dapat berkata, ia syok mendengar nama sang mantan suami.

__ADS_1


__ADS_2