
Sidang pertama yang berjalan dengan mulus bagi kubu Rudy. Nyatanya telah membuat sang pengacara paruh baya itu bangga pada pencapaian dirinya.
"Apa anak-anak muda itu terlalu sombong selama ini, ilmu mereka saja tidak sebanding dengan jam terbang saya yang hampir 30 tahun di dunia hukum.." celetuk pak Manolus seseumbar.
Rudy yang berada di ruang kerjanya hanya mendengar dengan fokus pada layar laptopnya.
"Jangan berbangga!!" sanggah Rudy dengan menutup layar laptopnya. "Seharusnya anda curiga.." timpal Rudy dengan nada penekanan.
Pria tua itu terlihat bingung.
"Apa yang anda cemaskan pak Rudy?? Topan Syahputra tak punya bukti lain, karena beberapa saksi tetangga rumah itu sudah kita beli.." ujar pengacara paruh baya itu dengan tenang.
"Tidak.. aku harus dapatkan bukti kunci yang sangat berbahaya.."
"Bukti kunci? siapa?" tanya pria itu heran.
"Alia Zatifah, mantan istri saya.." jawab Rudy.
Sang pengacara terkejut.
"Mantan istri anda??"
"Ya, saya harus mendapatkan kembali mantan istri dan membuatnya bungkam.." tutur Rudy dengan wajah tersimpan niat yang begitu mengerikan.
"Bagaimana caranya??"
Rudy menyeringai kecil. Ada rencana rahasia yang cukup berbahaya yang sedang ia jalankan.
***
Di lain sisi, tanpa sepengetahuan Topan dan Alia. Kevin menghubungi Johan dan menceritakan akan kecurigaan yang tengah mengintai di halaman rumah nomor 15.
Kevin yang masih berada dirumah Alia pun
"Kau yakin??"
"Aku yakin, karena Alia mengetahui bahwa salah seorang pengintai itu adalah pekerja dari Rudy.."
Johan terlihat menimbang.
"Jika kita terlalu lengah, aku takut Alia akan jadi incaran empuk.."
"Baiklah..kau tunggu di situ, aku akan datang bersama istri ku.."
Kening Kevin berkerut dengan ide Johan.
__ADS_1
"Untuk apa kau membawa istri mu?? kau mau menambah masalah??"
Johan menyeringai kecil.
"Sudah lihat saja nanti.. kau juga akan tau.." sahut Johan.
"Baiklah, kumohon datanglah lebih cepat.. aku sudah terlalu lama di mobil.."
"Hahaha.. baik lah.." sahut Johan dan komunikasi itu pun terputus begitu saja.
Kevin akhirnya mematikan handphone dan kembali mengecas pada carger fortabe mobil.
Sesekali ia melihat dua orang pria yang masih terlihat berjaga-jaga disana.
"Sudah 3 jam lebih, apa mereka tidak ada yang lapar atau kekamar mandi selama menunggu di sana sedari tadi??" rutu Kevin kesal.
Mata Kevin melihat dari kacaspion, ada dua orang wanita sedang berjalan dan masuk kedalaman rumah Topan.
"Siapa mereka?" gumam Kevin mencurigai. Namun gerak geriknya terbatas didalam mobil. Ia kian cemas ketika melihat pintu depan rumah terbuka dan kedua wanita itu masuk kedalam.
"Ah, ck.. Aku paling benci di posisi mengintai seperti ini.. aaakh.." seringai Kevin bosan menunggu kedatangan bala bantuan dari Johan.
***
Di sisi lain, tepatnya di dalam rumah Topan.
"Tumben kamu Alia, WA kita.. ada apa sih??" tanya salah seorang teman Alia yang baru saja masuk kedalam rumah nomor 15.
"Ah, ini.. kemarin Alia ada beli bumbu rujak, kok tiba-tiba jadi inget sama mbak Puput dan mbak Susi.. gitu loh.."
"Ooooh, mau aku mbak Alia.. rujak pedas kan??" sela seorang wanita yang bertumbuh gembul.
Alia mengangguk dengan senyum.
"Eh tapi pak Topan kemana?? apa masih belum pulang ?" tanya mbak Puput yang jadi kepo melihat rumah itu sepi.
"Iya.." sahut Alia tenang lalu mengajak keduanya masuk lebih dalam kerumah nomor 15 yang terlihat kosong tanpa prabot.."
Keduanya terlibat melihat situasi yang begitu berbeda dengan rumah majikan mereka yang serba penuh dengan perabot mewah.
"Sepi amat Lia, nenek Hazah kemana?"
"Oh, ada lagi nonton tv di kamar.." sahut Alia sembari berjalan menuju dapur kotor untuk mengambil persiapan rujak yang ia jadikan umpan.
"Ooh, enak bener yaa nie rumah, gak harus cape-cape bersih-bersih.." ujar Susi dengan duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Ikh, iyaa.. rumah majikan ku itu loh, banyak banget barang prabotnya.. mana di suruh lap tiap hari tuh perintilan hiasan.." keluh puput.
Alia hanya mendengar curahan hati kedua temannya itu.
Lalu tak lama Alia kembali dengan membawa nampan yang telah ia siapkan bersama buah-buah untuk rujak dan bumbu rujak yang di janjikan.
"Waah, terniat banget ini Alia.. banyak buahnya.."
Alia hanya tersenyum. Sebenarnya ini adalah buah-buah untuk ibu Topan yang harus rutin ia berikan agar wanita paruh baya itu tidak sebelit. Namun karena keadaan jadi ia mengambil buah itu untuk alasan agar memancing teman kerumah.
"Ayo mbak Puput, mbak Susi kita mulai ngerujaknya.."
"Waah, ayo aja, aku udah yang ngiler liat buah-buah mahal ini jadi bahan rujak.. tak kira buah pepaya atau mangga yang jadi buah rujak.. eh gak taunya ada melon, ada apel dan buah pir korea.. ini mah rujak mahal namanya.." ujar Susi sumbringah.
"Iya nie, dirumah majikan mah mana boleh makan buah-buah begini.. ini buah khusus buat anak-anaknya aja.." sela Puput ikut merasa senang makan buah mahal itu.
Alia hanya bisa tersenyum simpul melihat wajah antusias temannya itu yang dulu pernah membantunya untuk mendapatkan pekerjaan dirumah nomor 15, kenangan Alia yang kini merasa bersyukur.
"Ayo, di makan mbak ini apel shaghai, enak mbak manis dan renyah.." ujar Alia dengan ikut mengupas salah satu buah untuk sang teman.
Namun tak beberapa lama, terdengar suara nada dering dari handphone Alia.
Ketiganya kaget.
"Suara handphone siapa tuh.?" tanya Puput yang sedang mengulek cabai tambahan pada bumbu rujak yang sudah tersedia.
"Ah, sebentar ya mbak.." ujar Alia dengan berlalu untuk meriah handphone yang terletak di atas meja dapur bersih.
Alia menatap layar datar itu dengan kaget.
"Pak Kevin??" serunya dengan mengangkat telfon tersebut dan sedikit menjauh dari para dua tamu rujaknya.
"Hallo pak Kevin, ada apa?" tanya Alia cepat.
Dan sebuah info pun Alia dapat dengan terkaget.
"Jadi?? Alia dan ibu harus tinggalkan rumah ini?" sahut Alia mengulang permintaan Kevin dari sebrang handphone.
"Hm, baiklah.. Alia akan bersiap-siap.. tapi untuk berapa hari?" tanya Alia lagi.
"Oh, baik lah.. Alia akan utamakan kebutuhan ibu mas Topan.. terima kasih pak Kevin.." ucap Alia dengan menutup komunikasi itu dan sedikit menghela nafas.
Ia tak menyangka jika Pak Kevin berpikir sejauh itu. Namun ia juga tidak ingin membuat mas Topan dan pak Kevin jadi tambah repot jika ia tak patuh.
Sesaat Alia tersadar ketika mendengar suara tawa cekikikan dari ruang meja makan.
__ADS_1
"Oke, sekarang bagaimana caranya untuk menyudahi pesta rujak ini.." gumam Alia sembari berpikir.