
Dan waktu menuju sidang kedua pun kian dekat.
Topan menghitung harinya di penjara sementara itu. Ia sudah mengetahui rencana Rudy yang gagal berkat bantuan Johan dan Kevin. Walau sempat kaget namun ia merasa lega dengan mendengar jika sang kekasih dan ibunya kini berada di tempat yang cukup aman.
Dan siang itu, Kevin berunding dengan Johan di ruang kerjanya. Beberapa bukti telah di susun rapi untuk di persembahan pada saat sidang lusa.
"Jadi, kau membawa para penjahat itu ke mana??"
"Sudah aku tahan di tempat yang aman.. tenang saja, aku ini sudah sabuk hitam bersama Dody" sahut Johan santai dengan membenarkan dasi yang ia kenakan.
"Sombong.." celetuk Kevin.
Johan hanya menyeringai kecil.
"Jadi, bukti yang mana dulu harus aku keluarkan??" tanya Kevin.
"Tanya Topan.. dia lebih tau lawannya mau di buat seperti apa.." sahut Johan dengan bersiap untuk pergi.
Kevin kembali mengaruk kepalanya walau tidak gatal. Entah mengapa jika bertanya pada Johan atau Topan keduanya selalu menjawab dengan jawaban ambigu dan itu membuat Kevin kesal.
"Jawab aja kenapa sih?? tadi kata Topan tanya Johan .. dan sekarang aku tanya Johan di suruh tanya si Topan Badai itu lagi.. mau kalian apa sih??" rutu Kevin jengkel pada sikap keduanya yang benar-benar susah di tebak.
Johan yang tadinya hendak pergi, seketika tertawa terbahak-bahak mendengar celetohan sang staff.
"Ah, begitu rupanya.. dia tau aku akan lebih kejam.." sahut Johan santai dengan masih menahan tawanya yang lepas.
Kening Kevin tertaut kesal mendengar tawa sang atasan.
"Hm, ya sudah.. keluarkan saja bidak catur yang membuat lawan bungkam di tempat.."
Kening Kevin tertaut bingung.
"Maksud mu??"
Johan hanya menyeringai kecil.
"Aku benci pekerja yang bertele-tele, kau tau maksud ku kan??" ujar Johan dengan menepuk pundak Kevin. Lalu tak lama ia keluar dari ruang kerjanya begitu saja.
"Bidak catur??" seru Kevin mengulang ucapan Johan yang penuh teka-teki. Namun, ia mencerna kalimat Johan.
***
Malam harinya di apartemen Johan dan Dinda. Alia sedang memberi makan ibu Topan.
***** makannya kian hari kian menurun. Dan itu menbuat Alia cemas. Susu untuk menambah gizi ibu Topan pun tidak begitu berpegaruh.
__ADS_1
Terlihat Dinda baru saja keluar dari kamar utama dengan tersenyum kecil. Ia menghampiri kedua tamu itu dengan wajah senang.
"Apa ibu banyak makan?" tanya Dinda dengan meriah satu kursi di samping Alia.
"Eh, mbak Dinda.. ya.. sedikit tapi tidak begitu selera.."
"Kenapa? apa menunya kurang??" tanya Dinda ikut merasakan kecemasan Alia pada ibu pengacara Topan.
"Entahlah.. mungkin ibu masih tidak merasa enak karena bukan dirumah sendiri.." jawab Alia apa adanya.
Dinda menghela nafas panjang.
"Sabar ya bu, pak Topan akan segera keluar dan ibu juga Alia bisa pulang.." ucap Dinda tulus. "Ibu biasa suka makan apa?? atau kita bisa pesan diluar.."
"Hm, entahlah.. Alia juga tidak begitu tau kesukaan ibu apa.." sahut Alia dengan berpikir sembari melihat pada ibu Topan yang sedang meneguk air putih.
Dinda ikut berpikir.
"Gimana kalau kita makan diluar?" ajak Dinda.
"Makan diluar?? apa tidak apa-apa??" tanya Alia ragu.
Dinda bangun dengan senyum simpul.
"Tenang aja, kita akan ajak pengawal yang bisa jagain kita" jawab Dinda dengan delik mata senang dan kemudian berlalu pergi menuju kamar utamanya.
"Ibu.. sepertinya kita jadi repotin mbak Dinda" seru Alia pada ibu Topan.
Beberapa saat tatapan keduanya bertemu.
"Nanti, kita akan balas budi baik mbak Dinda ya buk.. hm"
***
Di sebuah warung pinggir jalan. Terlihat Alia, Ibu Topan, mbak Dinda dan juga sang suami Johan B. Bastian tengah menyantap menu ikan panggang yang sangat enak.
Obrolan ringan juga bergulir di sela-sela makan malam itu.
Dan yang menakjubkan adalah ibu Topan begitu antusias makan ikan panggang hingga habis.
Alia begitu lega, akhirnya ibu Topan makan dengan banyak malam ini. Sejenak Alia berpikir, mungkin saja ibu Topan sudah bosan dengan menu itu-itu saja.
"Maaf ya bu, Alia gak bisa masak enak buat ibu.." bisik batin Alia.
Dan tak beberapa lama, makan malam pun berakhir.
__ADS_1
Namun ada satu moment yang menjadi perhatian Alia. Ketika Pengacara Johan memaksakan sang istri untuk minum obat.
Cekcok keduanya pun terlihat jelas. Hingga akhirnya Dinda pun kembali kalah dan minum obat yang diberikan oleh sang suami.
Tak lama, Johan pun pergi untuk membayar di kasir warung.
Alia tersenyum simpul.
"Pasti mbak Dinda beruntung sekali ya?" ujar Alia.
Dinda menoleh dengan menutup botol minum yang baru ia minum.
"Apa??"
"Menikah dengan orang seperti pak Johan.."
Sejenak Dinda menantap Alia, lalu tak lama ia menoleh melihat sosok sang suami dari kejauhan.
"Ya.. itu benar sekali, aku benar-benar beruntung menikah dengan pria sedingin itu.." sahut Dinda dengan tersenyum simpul penuh arti.
Alia menantap jelas pancaran kebahagiaan di wajah temannya itu.
"Tapi, bukannya kamu juga akhirnya bahagia bisa meluluhkan hati pengacara Topan?" timpal Dinda kembali menantap Alia.
Alia bereaksi malu.
"Ah, itu.. " Alia tak bis menjawab.
Dinda tersenyum.
"Aku gak tau seperti apa penderitaan kamu selama ini Alia.. tapi aku berharap kamu benar-benar bahagia nantinya bersama pak Topan" tutur Dinda tulus.
Alia tersenyum penuh arti dengan ucapan sang teman.
"Sebenarnya Alia takut mbak.. namun, ketulusan yang selalu di berikan pak Topan entah mengapa membuat Alia ingin percaya.."
Dinda mendengar tanpa menyela.
"Akhirnya, Alia mengerti cara Tuhan mengabulkan doa-doa selama ini.." ucap Alia tergantung dengan wajah tenang. "Dijauhkan Alia dari orang-orang yang Alia sayang, namun Tuhan menggantikannya dengan orang-orang yang menyayangi Alia dengan tulus.." timpal Alia bijak.
Dinda mengangguk.
"Tuhan selalu punya cara terindah setelah ujian yang besar.." sahut Dinda.
"Ya, dan Tuhan tidak pernah meninggalkan umatnya yang percaya pada kuasa-Nya.." timpal Alia dengan senyum simpul.
__ADS_1
Dan keduanya tersenyum penuh arti dengan kisah hidup berbeda.
"Ayo, kita balik.. besok adalah sidang yang kita tunggu.." seru Johan yang kembali dengan mengangetkan kedua wanita itu.