Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Terpesona


__ADS_3

Selama menunggu, Topan duduk dengan santai di sofa butik. Di hadapannya telah terhidang beberapa makanan ringan dan juga minuman hangat.


Namun sesekali Topan melirik jam tangannya, tautan keningnya silih berganti dari wajah yang terlihat gusar karena lama menunggu.


"Apa.. selama itu ya??" guman bertanya pada dirinya sendiri. Tak lama ia membuang rasa bosannya dengan melihat beberapa rak gantung yang menjejerkan beberapa pakaian pria.


Hal itu cukup mengundang ketertarikan Topan. Mengingat sudah hampir dua tahun ini ia tak pernah berbelanja pakaian. Ya, semenjak ibu sakit, pikiran Topan hanya tertuju pada perawatan sang ibu.


Ia memilah-milih beberapa kemeja kerja yang terlihat semi formal berlengan pendek. Topan menilai tiap sentuhan tangannya pada kain-kain yang ia rasa cukup nyaman.


Ketika Topan mulai fokus memilih jejeran kemeja itu. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang membuyarkan fokus Topan.


Topan reflek terbalik untuk melihat pada asal suara. Dan sorot matanya seketika berubah.


Sosok yang keluar dari balik tirai itu membuat Topan memarung dengan bibir sedikit terbuka karena kagum. Perlahan sosok Alia yang kembali dengan tampilan berbeda, telah membuat Topan terpesona.


Hingga langkah Alia berhenti tepat di beberapa langkah di hadapan Topan. Dengan wajah canggung Alia melihat respon Topan yang begitu terkejut.


"Hm, mas.." seru Alia pelan.


Tanpa sadar saliva Topan turun dengan sengaja, tatapan matanya tak bisa berbohong jika ia benar-benar terpesona dengan tampilan Alia yang sangat berbeda.


Sentuhan semi kebaya, dengan tile tipis menutupi tiap inci pundak Alia yang terlihat mulus. Rambut tergulung indah memperlihatkan tengkuk Alia yang nyaris sempurna jika Topan mengecupnya saat ini.


Bahkan belahan di sisi samping rok yang memperlihatkan sisi tungkai kaki Alia yang selama ini tertutup di balik celana hitam, cukup mengoda pikiran liar Topan.


"Mas.." panggil Alia kembali.


Dan seketika Topan sadar dari pikirannya yang terbang membayangkan tubuh Alia.


"Ah.. ya"


"Apa, aneh ya?" tanya Alia ragu-ragu.

__ADS_1


Topan sontak menggelengkan kepala dengan cepat.


"Oh, enggak..enggak.. cantik, kamu sangat cantik" ceplos Topan tanpa sadar.


Alia terkaget.


Namun sedetik kemudian wajah Topan mendesisi kecil, seolah tersadar jika ucapannya telah memancing kecurigaan Alia.


"A-pa.. apa tidak terlalu berlebihan??" tanya Alia ragu.


"Tidak.. kamu, sangat cocok dengan semua yang kamu kenakan di diri kamu, Alia" sahut Topan dengan tatapan yakin.


Alia sedikit tersipu malu. Lalu ia menyentuh pundaknya dengan kaku dan mencoba menarik tile tipis itu untuk sedikit keatas.


"Ayo, kita jalan.."


"Sekarang??" tanya Alia.


"Ya.. ini sudah jam yang pas.." ajak Topan yang tanpa terduga mengulur tangannya di hadapan sang pembantu.


Alia terteguh.


Alia terlihat berpikir, namun dari beberapa karyawan butik terlihat berbisik iri.


Hingga akhirnya, Alia pun menerima uluran tangan sang majikan.


"Ma.. makasih mas"


Topan hanya tersenyum simpul lalu bersama keduanya berjalan keluar dari butik.


***


Di sepanjang jalan, suasana sedikit kaku di antara keduanya.

__ADS_1


Alia duduk dengan sedikit risih karena rok uang terbelah itu sukses memperlihatkan kakinya yang mulus.


Topan menyadarinya dengan sangat sadar jika ia tak fokus pada jalan raya maka sebuah kecelakaan fatal akan terjadi jika matanya tak ia jaga dengan benar.


"Kita.. bawa apa mas?? untuk kado pernikahan??" tanya Alia.


Topan tanpa sadar menoleh, padahal sedari tadi ia berusaha menjaga pandangannya agar tak oleng.


"Hmm?? entah lah.. " jawab Topan cepat dan mencoba fokus pada jalan raya yang sedikit padat.


"Jadi..kita gak bawa kado??" tanya Alia mengulang kembali untuk menyakinkan Topan.


"Hm?? kado?? sepertinya mereka tidak butuh kado apa pun.." jawab Topan penuh konsentrasi antara jalan atau kaki Alia yang mengoda.


"Masa sih?? kan gak enak cuma pergi dengan tangan kosong" sahut Alia berdalih.


Kening Topan bertaut.


"Kata siapa kita pergi dengan tangan kosong??" seru Topan.


"Loh?? memangnya mas sudah siapkan kado??"


"Belum dan gak ada" jawab Topan apa adanya.


Alia kian terpelongo.


"Mas?? serius.."


Untuk beberapa detik Topan perlu berpikir sebelum menjawab pertanyaan Alia lagi.


"Hm, doa dari kita kan sudah cukup menjadi kado untuk mereka?? bukan kah mereka mengundang untuk mencari restu dan doa dari kita.." jawab Topan.


Alia tak bisa menyela jawaban sang majikan. Dan Topan sadar jika jawabannya tidak akan memuaskan sang pembantu.

__ADS_1


"Mereka cukup kaya, jika berupa harta dan benda mereka pasti sudah punya semua.. yang mereka butuh hanya kehadiran kita dalam tiap moment penting mereka.."


Alia terteguh.


__ADS_2