
"Menikah lah dengan ku, Alia.." pinta Topan saat itu dengan segenap hatinya. "Izinkan aku menjadi suamimu.."
Dan Alia kini melamun di dalam kamarnya dengan terbaring sembari menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Seketika Alia gusar lalu berbalik dan kini menatap tembok berwarna putih yang sama.
"Aku hanya ingin bersama mu, jika kamu berpikir aku akan mencari keturunan maka aku akan memilih untuk mengambil 100 anak yatim untuk menjadikan kita sebagai orang tua mereka.." ucapan sang majikan yang masih terus terngiang jelas di benak Alia.
Ucapan itu membuat Alia gelisah dan akhirnya ia bangun lalu duduk melamun. Ia pun menarik nafas panjang dan membuangnya dengan asal. Ada rasa sesak yang masih menganjal di hati.
Ya, semua tentang anak, hal yang masih menjadi momok di pikiran Alia. Walau pernyataan Topan sudah sangat tegas tapi, apa mungkin hati seorang pria akan seikhlas itu.
Tanpa sadar Alia menyentuh perut ratanya sendiri.
"Apa benar aku tidak bisa memiliki anak??" tanya batin Alia pada dirinya sendiri.
Sesaat Alia kembali mengingat perkataan sang dokter kandungan beberapa tahun silam saat ia masih dengan giat untuk dapat hamil ketika masih menjadi istri Rudy Mahendra.
FLASH BACK
"Dari hasil pemeriksaan, anda cukup sehat mbak Alia.. tidak ada yang harus di khawatir kan.." ucap dokter wanita saat itu.
Alia menatap lama surat lab di tangannya.
"Tapi, jika benar saya sehat, lalu kenapa saya masih belum hamil dokter??" tanya Alia saat itu dengan wajah gusar.
Dokter menatap lama wajah gusar sang pasien.
"Hhmm, tentang kehamilan tidak selalu jadi beban para wanita, terkadang kesuburan sang suami juga menjadi faktor utama mengapa anda tidak hamil sampai saat ini.."
Deg.. Alia terpaku.
"Tapi, dokter, suami saya sang sehat, bahkan mas Rudy tidak merokok dan selama masa program bayi mas Rudy sudah menjaga pola makan dan jadwal tidur yang lebih dari biasanya.." sanggah Alia yang tak meragukan kesehatan sang suami.
__ADS_1
"Apa suami mbak pernah kedokter untuk periksa??"
Deg.. Alia terpaku, lalu perlahan menggeleng pelan.
Dokter wanita itu tersenyum penuh arti.
"Sebaiknya coba mbak ajak suami mbak Alia untuk ikut periksa kesehatan reproduksi.. karena.." ucap sang dokter tergantung.
"Karena 90% kegagalan yang terjadi pada istri, maka 10% juga datang dari kelemahan reproduksi sang suami.."
Sejenak berpikir Alia kosong, penjelasan sang dokter membuatnya takut. Namun ia tak ingin yakin dengan dugaan sang dokter akan kecurigaan kelemahan mas Rudy.
"Dokter.. saya.."
Sang Dokter mengangguk dengan senyum yang menenangkan sang pasien.
"Saya mengerti kecemasan mbak Alia.. saya paham, karena.." ucap sang dokter wanita itu dengan wajah tegar. " Saya juga merasakan hal yang sama.. 13 tahun menikah dan saya masih belum memiliki seorang anak didalam rumah tangga kami.."
"Dokter??"
Dokter wanita itu tersenyum simpul lalu ia menutup buku resep di hadapannya.
"Anggap saya teman curhat anda mbak Alia.."
Alia berwajah bias.
"Saya sudah melewati nya, dan semua punya cerita tersendiri.. jadi saya sangat mengerti kekhawatiran yang mbak Alia rasakan sebagai seorang istri yang merasa khawatir karena tidak kunjung mengandung"
Dan tanpa sadar Alia akhirnya menitikkan air matanya di hadapan sang dokter.
Dokter wanita itu lagi tersenyum simpul dengan wajah tegarnya.
__ADS_1
"Sebagai seorang istri mbak sudah berusaha.. sudah berikhtiar, tapi mbak harus ingat.. kita masih punya Tuhan yang menjadi penentu usaha dan takdir kita.. Tuhan yang lebih tau untuk diri mbak.."
"Mungkin Tuhan tau, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mbak hamil.. percayalah pada rencana Tuhan yang selalu baik untuk umatnya di waktu yang tepat" tutur sang Dokter dengan penuh arti mendalam.
Derai air mata Alia kian turun dengan deras. Dan seketika permasalahan didalam rumah tangga Alia pun terbayang jelas. Terbongkarnya sms mesra Bella pada mas Rudy sudah membuat biduk rumah tangganya terancam.
"Setiap pasangan pasti sangat merindukan sosok seorang anak yang menjadi pelengkap rumah tangga, tapi.. harus mbak ketahui.. bahwa kehadiran seorang anak tidak hanya sebagai pelengkap.. Anak adalah anugerah, dan anak juga bisa menjadi ujian yang sangat berat untuk kita para orang tua..."
"Jadi, percaya lah mbak, Tuhan tau kapan yang waktu yang tepat untuk mbak memiliki seorang anak didalam rumah tangga mbak.." pesan sang dokter yang sangat berkesan bagi Alia yang hampir 4 tahun berjuang untuk dapat hamil.
Dokter menghela nafas panjangnya.
"Menangislah mbak, saya disini untuk mendengar keluhan para wanita tegar seperti mbak.."
FLASH BACK OFF
Dan kini Alia paham pesan yang dokter wanita itu ucapkan. Sungguh Tuhan memberi tanda yang sangat besar didalam hidupnya. Dan benar seperti dokter wanita itu katakan, andai Tuhan memberinya anak disaat penghianat sang suami terbongkar.
Mungkin kini anak itu lahir dengan orang tua yang bercerai dan itu sangat berdampak pada pertumbuhannya.
Alia menghela nafas panjangnya.
"Memang benar, rencana Tuhan selalu lebih baik.." lirih Alia. "Walau nyatanya harus menelan pahit yang begitu besar.." ucap menelaah ucapannya sendiri.
Dan malam ini Alia jadi susah tidur. Bagaimana pun lamaran mas Topan yang tak terduga membuat Alia bimbang dan bingung.
Namun pria itu terus mendorong untuk membuatnya kembali percaya pada sebuah hubungan dalam sebuah ikatan pernikahan.
Alia kembali menghela nafas panjangnya untuk kesekian kali.
"Menikah.. dan menjadi nyonya Topan Syahputra.. apa aku bisa??" bisik Alia.
__ADS_1